
Sebuah gedung yang lumayan jauh dari pemukiman warga. Menjadi sebuah markas rahasia, yang di desain rapih seperti gedung kumuh diluar. Namun begitu terlihat mewah didalam. Itulah ciri khas gedung rahasia dari seorang mafia. Harus pandai menyembunyikan. Kalau tidak semua informasi akan berceceran dan tidak akan ada lagi yang namanya perang antar sebuah pihak yang dirugikan.
Jet pribadi itu mendarat tepat diatas gedung itu. Griffin, Okan beserta bodyguard yang lumayan berpengaruh turun dan segera memasuki ruang tersembunyi. Pertama-tama mereka masuk kesebuah lubang yang berada diatas itu. Langsung menghubungkan dengan jalan menuju ruangan utamanya. Mereka semua dibawah masuk turun dari sebuah lift yang begitu elite. Sekitar 7 menit akhirnya sampai.
Belum sampai pada ruangan yang di tujuh. Mereka disambut dengan beberapa lorong dan ruangan yang terbuat dari kaca yang kedap suara. Ada tiga lorong. Yang Griffin pilih adalah lorong yang tidak memiliki lorong pasangannya. Griffin berjalan lebih dulu. Berjalan lurus dengan beberapa belokan dan akhirnya sampai di ruangan yang begitu dingin suhunya. Griffin berdiri tegak di dekat kaca yang berbentuk kotak 250 inci. Pandangannya menatap lurus. Tak lama setelahnya kotak itu mendeteksi wajah dari Griffin. Lanjut Griffin menyentuh tombol sedang dari dua tombol kecil dan dua lagi tombol lumayan berukuran besar.
Alat itu mendeteksi lulus sensor sidik jari dan sudah mendeteksi wajah Griffin juga. Membuat kaca itu terbuka seperti pintu kaca pada umumnya. Diikuti yang lainnya melakukan tahap yang sama. Lanjut ke pendeteksi pin. Setiap orang PINnya berbeda dan akan berganti setiap harinya.
Sudah menunggu lumayan lama dengan segala pendeteksian yang dilewati. Sampailah disebuah ruang yang berbentuk lingkaran kaca. Didalamnya ada meja bundar dan beberapa kursi, serta beberapa komputer kasat mata yang sudah begitu canggih.
Sudah masuk pun rupanya harus ada pengecekan dan pendeteksi lagi. Disebelahnya ada sebuah lingkaran sebesar jam dinding dengan motif membulat melingkar-lingkar cukup tunjukkan telapak tangan lalu setelah terduduk.
"Jadi dugaan saya benarkan? kalau Bible dan teman-temannya bersekutu melawan kubu saya."
__ADS_1
Okan memainkan pulpen digital. Membentuk abstrak dimeja. Mengabaikan Griffin yang berceloteh panjang lebar. Hanya bodyguard inti saja yang mendengarkan. Lagian siapa coba yang berani mengabaikan Griffin.
"Kita siapkan strategi selanjutnya. Bible dan yang lainnya sudah merencanakan suatu hal yang akan merugikan usaha saya," tegas Griffin yang masih mencoba menahan emosinya. "Kebakaran dipabrik hanya sebuah peringatan saja. Mereka pasti akan berbuat lebih jauh kalau kita diam saja, mereka akan semakin menginjak-injak kita."
"Lalu apa rencana kita, Tuan?"
"Pikirkan sekarang. Atur strategi agar lawan tidak mengetahui gerak-gerik dan taktik yang kita susun," cetus Griffin serius, "kalau bisa. Kirim mata-mata yang handal. Pastikan dia tidak akan berkhianat."
"Rencana bisa dibuat. kalau kita tahu kartu as mereka siapa, mereka terpancing semakin gencar mengibarkan bendera perang karena Austin dan Agam."
"Menurut kalian, siapa yang menculik mereka berdua?"
Griffin memandang lurus ke bodyguard 5 yang tadi berucap. "Tahu darimana kalau mereka ngada dirumah sakit?" cercanya.
__ADS_1
"Saya dapat kabar dari mata-mata kita, Tuan."
Menyadarkan kepalanya sejenak, Griffin berpikir tentang suatu kemungkinan. Mungkinkah ini sebuah jebakan? Dimana ia menaruh curiga, kalau penculikan ini hanya sebuah trik agar dirinya masuk kedalam perangkap Bible dan yang lainnya. Dugaan sementara Griffin berpikir seperti itu. Lagian siapa lagi yang tahu keberadaan kedua kakak beradik beda ibu itu? kalau keduanya sedang koma dan dirawat dirumah sakit yang sama dengan keamanan ruangan yang ketat.
Keamanan h satu emang ketat, tapi hari-hari berikutnya bodyguard dikerahkan untuk mempersiapkan misi lainnya. Tidak hanya berfokus pada dua orang itu saja. Tapi karena kelengahan itu jugalah, Griffin merasa kecolongan. Bagaimana bisa ada yang memindahkan Austin dan Agam tanpa sepengetahuan dirinya. Siapa yang melakukan itu?
"Ada orang ketiga kah diantara permasalahan ini?"
Kelima ketua inti bodyguard itu kembali fokus menatap bosnya yang sedang menerka-nerka. Berbeda dengan Okan yang masih sibuk dengan kegiatannya, Pria itu memicingkan matanya, menakar dan menimbang tulisan yang ia buat di meja digital didepannya. Griffin belum menyadari hal itu. Berbeda dengan kelima orang yang terlibat diruang tersebut sudah mengetahui Okan yang sedari awal nampak mengabaikan penjelasan Griffin.
"Jadi kalian menarik kesimpulan, nggak? Siapa dalang dari semuanya?"
Kelimanya malah saling lempar pandang. Saat melihat dihadapan meja gambar abstrak dari Okan muncul dilayar meja hadapan mereka. "Lo nggak dengerin gue?"
__ADS_1
Sedikit tersentak, Okan menatap polos atasannya itu. Griffin harus profesional kalau bekerja, Okan bisa-bisanya sedari tadi hanya menggambarkan abstrak. Tidak memperhatikan dirinya berbicara.
Pria itu justru membuka ponselnya. Mengetikkan sebuah pesan pada Griffin. Memicingkan mata saat membaca pesan dari Okan, Griffin mengangguk paham dan berucap. "Kalian berlima keluar dulu."