Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
d u a b e l a s


__ADS_3

"Hiks... hiks... hiks!" tangis pilu dari seorang gadis yang tengah termangu didalam ruangan yang asing baginya, dirinya menangis seorang diri merasa di bodohi, kesal, emosi bercampur menjadi satu menjadi rasa kalut dan membingungkan di situasi yang masih sulit di mengerti olehnya. "Kenapa? semuanya seperti ini?!"


Dia masih belum percaya. Atas kebenaran yang ia tahu beberapa jam lalu di rumah sakit. Hatinya merasa sakit sekaligus hancur, mendengar kebenaran atas statusnya saat ini. yang bukan istri Austin yang ia ketahui. Melainkan ia istri dari Griffin. Bosnya sendiri, yang kini pergi meninggalkannya di kamar  sebesar ini.



(ilustrasi kamarnya Griffin)


"... hiks! Nggak! Nggak! Aku butuh penjelasan dari Mama sama Papa. kenapa semua ini sungguh rumit dan situasinya sungguh sulit di mengerti," lirih Anin mencoba menghubungi kedua orangtuanya. Sedari tadi tidak ada jawaban. Ia tidak menyerah.


Terus menelpon dan mencoba tahu apakah orang tuanya mengetahuinya kalau dia menikah dengan pria lain. Bukan dengan Austin.


Panggilan sudah ke sebelas kalinya, akhirnya tersambung juga dengan Mamanya.


"Mama...!"


"Anin mau ikut kalian, kalian dimana hiks... Anin mau sama kalian."


"Kenapa kalian tinggalin Anin hiks," mau mencoba sekuat apapun dia. yang namanya hati seorang wanita. kalau merasa dibohongi, baru mengetahui hal sebesar ini. Pasti dia merasa hatinya hancur. Membuat air matanya luruh sedari di rumah sakit sampai saat ini. Masih belum bisa menerima kenyataan yang terlalu menyakitkan. "Kok kalian jahat sih?!"


"Boongin aku. Sampai segininya, Mama tahu?"


"Anin," pangil Adji merasa bersalah. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Anin. Dirinya hancur saat menerima kenyataan yang begitu menyakitkan dan situasi rumit macam ini menimpa putrinya. "Papa nggak ada pilihan lain, kamu udah tahu semuanya kan?"


"Maaf Nin," diseberang sana juga terdengar suara lirih bergetar menahan tangis. Salma tentu tahu rasanya seperti apa, dia juga seorang wanita. Tahu rasanya jika ini benar-benar kacau kondisinya. waktu yang singkat, dengan kejadian yang begitu banyak terlewatkan. Momen dan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan atau di pikirkan sebelumnya terjadi begitu saja. "Maaf belum bisa jadi Mama yang baik buat kamu Nak, hiks...!"

__ADS_1


"Kenapa kalian nggak bilang dari awal?!"


"Kalau gini caranya, kalian sama aja kayak mereka. Papa Mama perlu tahu, kalau Griffin itu komplotan mafia yang udah ngincar keluarga kita dari lama. Dan sekarang aku?" lirihnya menahan sesak yang begitu mendalam, mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh lagi. "Aku harus gimana?!"


Keduanya terpejam, mampu merasakan ketidak berdayaan putrinya. Mau bagaimana lagi? mereka juga bingung, mengapa harus terlibat dan menjadi incaran mafia semenakut kan Griffin.


Dari luar saja dia terlihat seperti pengusaha pada umumnya. Tapi orang yang biasa menjadi lawan bisnisnya yang mencoba bermain curang padanya. Dia tidak akan segan-segan menghabisinya, apalagi ini! Keluarga Cahyadi menjadi tersangka atas menghilangnya Meneer.


"Sebenarnya ada masalah apa Papa sama keluarga Lim Alghifarry?!! kenapa dia kayak mau balas dendam ke aku, Pa...!"


"Papa gatau Nin. Dulu Papa kerja buat keluarga itu sebagai CEO di perusahaan cabangnya, setelah Papa udah punya modal sendiri. Papa keluar dan yang nerusin perusahaan itu om kamu."


"Terus om Abin sampe sekarang kerja buat keluarga Alghifarry?"


"Nggak! Dia udah lama berhenti, karena suatu alasan."


"......."


*****


"Langkah apalagi yang selanjutnya kita lakukan?"


"Bawah satu orang dalang dari semua permasalahan ini."


"Sebenarnya dia sudah ada di dekat Tuan, Tuanya saja yang tidak ngeh akan kehadirannya."

__ADS_1


"Siapa?"


"......"


...***...


Di sebuah ruangan yang terlihat begitu tidak layak huni. ada terdapat 3 kompolotan yang tengah merencanakan sebuah strategi yang akan mereka lakukan selanjutnya bagaimana. "Tuan kita sudah celaka di tangan bedebah itu. Lalu apa yang harus kita lakukan."


"Berada dalam kompolotan kami, saya juga mau ikut balas dendam ke dia atas kritisnya teman saya."  timpal seorang yang begitu misterius, yang memiliki julukan Tuan V. "Saya juga tidak sendiri. Ada komplotan lain dari teman jauh saya, Bible. Dia penembak handal, yang juga memiliki dendam yang sama pada satu orang. yang menjadi alasan kita berkumpul disini."


"Rencana sudah kalian rancang kan? tinggal bilang tanggal mainnya, saya akan siapkan senjata paling mematikan dan menyakitkan untuk KEPARAT sialan itu."


"Kita main cantik dulu. Kerahkan mata-mata untuk mengawasi gerak-geriknya. pastikan! Suap orang terpercaya, jangan sampai informasi bocor." Andrew Lavegas— teman seperjuangan Austin yang juga memiliki dendam pada satu orang yang sama. "Usaha saya hancur gara-gara dia. Saya tidak akan lupa dengan dendam ini ke dia, sampai kapanpun juga."


"Semua laksanakan tugasnya masing-masing. Cari informasi sebanyak-banyaknya, kita selalu diskusi sekecil apapun nanti informasi yang didapat." Tuan V berucap dengan tegas sambil menghisap kuat rokok klobot kegemarannya. "Kalau ada yang ketauan bekerja sama dengan sekutu. Habis kalian di tangan saya!!!"


Ucapan dari Tuan V tidak akan main-main. dia memang terkenal akan kecerdikan dan manipulatif handal. Dia juga lumayan kejam, tidak akan segan-segan memutilasi siapapun yang berani berkhianat padanya. Sekalipun masih ada hubungan darah dengannya, dia tidak akan pandang bulu.


"Tidak akan Tuan. Tenang saja."


"Saya pastikan, hanya setia pada para Tuan, Tuan Tuan saja. Tidak akan ada yang lain."


"Abdi kami pada Tuan, tidak akan ada niat berkhianat sedikitpun."


"Buktikan nanti saat tanggal mainnya terlaksana," ujar Andrew dengan tatapan penuh kebencian membayangkan orang yang begitu ia benci. "Nyawa mu tidak akan aman Tuan Lim. anda begitu serakah dan kejam. Beraninya anda mencelakai teman saya."

__ADS_1


Memang motif dari dendam ini. Berdasarkan dendam keluarga, saudara, teman. yang sudah membuncah jadi satu. Sekarang adalah puncaknya dimana sudah di rencanakan. Hari kematian seseorang.


__ADS_2