Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
s e m b i l a n b e l a s


__ADS_3

...Happy reading guys jgn lupa vote, dukung cerita ini terus yak....


*****


"Tuan, mengapa anda tiba-tiba mengajak saya pindah lokasi?" gadis itu memicingkan matanya. Semakin dibuat curiga dengan perubahan tempat. Apalagi saat para bodyguard dari tuan Albert begitu terlihat saling melempar kode, dan sesekali mengecek ponselnya masing-masing. "Soal ini juga, mengapa Tuan mengajukan syarat agar saya tidak memberi tahu tuan Lim, soal kerjasama kita."


"Diem lah nona! Mengapa anda ini banyak bertanya sekali," cibir Albert yang sudah merasa panik. Gimana engga panik? Kabar terkini yang didapat oleh anak buahnya kalau Griffin sudah mengetahui keberadaannya. Dan biar ia tebak, kalau Griffin pasti sudah mengetahui rencananya. Lewat anak buahnya yang mungkin bocor informasi. "Kalau anda ingin mendapat pinjaman uang dari bank saya. Maka jangan banyak lah bertanya, dan ikuti saja syarat saya yang tidak seberapa itu."


"Tuan Albert, bukankah suatu keputusan seperti ini patut ada sepengetahuan dari seorang CEO. Kalau dia tidak tahu, bagaimana kontraknya bisa resmi!" Anin mencoba mencerca pria itu. Apa ia pikir, seorang Anindhita itu bodoh, bisa dibodohi dengan mudah. Sepertinya ia lupa, sedang berhadapan dengan siapa. Anindhita Rahma Kinara Cahyadi, sekertaris Tuan Lim. yang kecerdikan, dan analisis nya engga pernah salah. "Kemana anda akan membawa saya, tuan? Mau sejauh apapun, tuan Lim akan tahu anda membawa saya kemana."

__ADS_1


"Kau ini banyak bertanya nona, bagaimana jika saya membawa anda langsung ke neraka, hm?"


Sementara itu ditempat lain dijalanan yang tengah padat-padatnya kendaraan. Griffin beberapa kali menerobos lampu merah dan sudah sekian banyak umpatan yang ia dengar dari pengendara yang mobilnya ia salip. Dengan Zinde— alat pelacak di buat khusus sesuai requestan sang tuan mudah Lim Vinza Alghiffary. Alat itu berada pada tas yang di bawa oleh Anin. Tertempel rapih, dan tidak akan ada kecurigaan yang timbul. Karena alat tersebut terlalu kecil.


Tay sibuk melacak. Mengejar anak buah kapal dari Tuan Albert yang mencoba membawa Austin dan Agam keluar negeri, dengan cara ilegal. Karena tidak mungkin dengan mudahnya seseorang yang tengah dalam keadaan koma, dibawa begitu saja keluar negeri tanpa penanganan khusus. "Seperti nya kapalnya bentar lagi berangkat. Bisakah anda lebih cepat lagi, Gib!"


"Lalu? Apakah Malvin, tidak bisa menangani masalah ini?" Tay mengerutkan keningnya sambil terus fokus pada iPadnya. "Okan! Dimana, dia? Di saat-saat seperti ini. Dia kemana?"


"Sudah saya bilang. Dia sedang fokus meretas identitas satu orang yang mencurigakan lagi, dalang dibalik ini bukan cuman Austin dan Albert!"

__ADS_1


"Lalu?"


"Kamu mantan anak sayakan, Agam?"


Pertanyaan ini lolos, disaat mobil yang dikendarai olehnya melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Entah kearah mana dan dengan tujuan apa Albert menjalankan mobilnya seperti orang kesetanan. Pria itu nampak terus mengumpat, saat mendapat sebuah laporan. Anak buah yang ia kerahkan untuk menyelinap ke gudang perusahaan Lim rata-rata tewas tertembak. Ditambah ia semakin panik, anak buah kapalnya kehilangan kabar.


Sudah dirundung kecemasan dan kepanikan. Albert sudah mengeram frustasi, saat tersadar mobilnya telah terkepung. "SIALAN! suamimu benar-benar menantang saya, baiklah, mari kita bermain-main. Mulai dengan pertumbuhan darah!"


Dengan seringai andalannya.

__ADS_1


__ADS_2