
Kapal utamanya Albert.
k
Kapal yang di tunggangi GRIFFIN.
"GRIFFIN! Siapapun anda, berani melesatkan tembakan lagi. Saya pastikan istri anda akan saya buat celaka...!" ancam M.A.
dorr.
Itu menjadi tembakan terakhir yang dilesatkan pada kapal yang ditumpangi Albert dan yang lain. Tanpa ada yang menduga ternyata ada kapal susulan lagi yang sengaja menabrakkan kapal tersebut pada kapal utama milik Albert. Ternyata itu semua sudah direncanakan, Kapal itu sengaja menabrak dari samping. Agar bisa memindahkan beberapa orang yang berada di kapal utama.
Tak terkecuali Austin dan Agam. Keduanya berbaring dimasing-masing brangkar dengan keadaan yang masih sama. Ditambah lagi, sekarang sudah dibiarkan kena angin laut. Sepertinya kondisi keduanya makin menurun, terdengar jelas dari alat medis seadanya yang terus berbunyi nyaring.
Griffin sudah mengintruksikan semua pasukan untuk tidak melesatkan peluru. Karena disini, posisi Anin menjadi alasan agar penyerangan ini dihentikan sesaat. "Hahaha, yang jadi budak cinta nih, sampe gamau relain istrinya kenapa-kenapa."
"Emang ya, wanita tuh perusak segalanya!" timpal Bibel menyahuti ucapan Vegas barusan. "Padahal diliat-liat istri lo, sering seliweran di club' malam. Ngga asing ya, nggak, Gas?"
"Yoi! Dulu waktu masih jaman kuliah, udah pernah di pake yak sama Agam??" Bibel semakin membuat suasana semakin panas. Berhasil memancing amarah Griffin, yang sudah tak tertahan. "Cobain aja sana kalo ngga percaya, dia udah longgar kali."
"KEPARAT SIALAN! TAU APA LO TENTANG GUA HAH??!" emosi Anin memuncak. Saat harga diri dan kehormatannya dipermainkan. "Gua emang dulu sama, Agam, tapi ngga pernah sekalipun gua ngelakuin yang aneh-aneh sama, Dia!"
__ADS_1
Andrew diam-diam tersenyum simpul. Mengawasi dari balik persembunyiannya untuk membantu Albert, si tua bangka itu untuk memindahkan Austin, Agam, ke sebelah. "Kerja bagus, buat emosi terus, pancing emosinya! Biar dia ngga baca pergerakan kita."
"Ya emang ngga aneh-aneh, tapi pernah ngelakuin hal aneh kan?" Bibel ini apa ya? Keluar-keluar dari kapal, kok bikin emosi? liat saja. dia mondar-mandir tak karuan memperhatikan kapal Anin yang tepat di body samping kanan, sedangkan kapal Griffin jaraknya tak lumayan jauh dari kapal yang membawa Anin.
Dan. Posisi kapal susulan tadi, berada disebelah kiri. yang otomatis pergerakan Albert cukup sulit membuat Griffin peka. Apalagi dia lagi emosi. Nah, si Tay ni, sibuk melacak beberapa kapal Albert, yang sengaja mengarah ke suatu lokasi yang diikuti oleh beberapa tim Griffin. Tim 3 dan 5 si berada di TKP bareng Griffin. Itu juga dia fokus pada bosnya yang takut-takut ditodongkan senjata oleh Bibel, Vegas. "Gimana kalo kita damai aja? Lo bawa istri lo sana, bebasin kita-kita."
"Impas kan?" imbuh Vegas. Menatap Griffin yang tengah di kaluti emosi.
"The real, cuma gara-gara wanita bisa mengubah segalanya. Mana Griffin yang gua kenal hah?"
"Kok jadi melempem gini si," sambung Bibel. "Cuma gara-gara wanita bekas, Agam? Di pake ulang sama Austin," ucapnya lantang. Berhasil membuat Griffin diam-diam mengamati. Enaknya sebelah mana ya?
Bibel lanjut mengoceh. "Enak mana, Aninnn?"
Dorrr!
"Nona, Mau ikut kapal suami anda apa saya?"
"Nggak usah nanya, Anjing! Ya jelas ikut, Pak Griffin lah."
Oke. Situasi rumit antara bentrokan kapal Griffin ke Albert, dan menembak kapal pria tua itu. Hampir saja menyebabkan tenggelamnya Albert dan yang lain. Tapi karena Griffin yang masih berbaik hati, dia membiarkan Albert diam-diam masuk ke kapal belakang. Padahal ia tau, gerakan sekecil apapun dari tua bangka itu. Dia juga tak tanggung-tanggung. membiarkan seluruh komplotan tua bangka ini lolos.
Jadi katakan sajalah. Hari ini masih pemanasan. Sebenarnya sudah lumayan jauh kapal berlayar, sudah berada di samudra perbatasan ini juga. Kalo mampir ke pulau terdekat. Kapal Griffin memilih putar arah beberapa meter. Ia akan sampai pada negara Thailand. Untuk malam ini, dia akan memilih beristirahat di negara tersebut. Bareng Anin yang sudah menumpang di kapalnya.
"Pak puter balik, Pulau depan kita istirahat di situ," instruksi Griffin pada Nakoda.
__ADS_1
"Baik, Pak!!"
"Kita booking 2 kamar hotel ya? cape banget sumpah hari ini," keluh Tay.
Ya memang benar. Tenaganya sudah terkuras habis gara-gara drama murahan yang di permainan Albert. "Dasar tua bangka bodoh! Malam ini mungkin bisa bersenang-senang, tapi nanti??"
"Mereka menuju, Swiss?"
"Bisa berubah sewaktu-waktu, kita dengar saja dari mata-mata nanti."
"Perkiraan emang ngga memungkinkan. Tapi bisa saja komplotan tua bangka itu membuat rencana baru. Sewaktu-waktu bisa saja menuju markas mereka mengunakan cara cepat, mampir ke pulau dan ke bandara. Tidak mungkin kan kalo mereka hanya mengandalkan kapal."
"Iyaaa! Perkiraan saya, mereka menuju Kamboja. Dan akan melakukan penerbangan. Disana ada Andrew, dia orang yang cukup berpengaruh."
"Pak, Kamarnya emang sisa 2."
Anin. Gantian Anin yang membooking kamar hotel. Karena Tay tadi hanya berucap, tapi memberi isyarat seolah menyuruhnya. "Kamar VIP untuk Pak Tay, dan Pak GRIFFIN. yang biasa untuk saya."
"Nggak bisa! Masa saya harus tidur sama dia si," protes Tay.
"Kamu istrinya loh Nin, masa iya gatau kelakuan suamimu yang kalo tidur tangannya suka kemana-mana. Pokoknya saya gamau sama dia..."
"Iya ngga usah banyak ngomong! Nanti Anin 1 kamar sama saya."
"Tapi, Pak—"
__ADS_1
"Sekalian nyicil lah, lu gagahin tuh istri lo."