Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
d u a p u l u h


__ADS_3

Derrr!


Dor!


Cetak!


Dor!


Suara tembakan peluru dan tarikan pelatuknya terdengar meluruh disebuah pelabuhan. pelabuhan yang jauh dari jangkauan orang-orang. Hanya ada orang yang terlibat yang berada di lokasi, puluhan anggota anak buah Albert tengah menjaga anak dari tuannya itu. Melindungi dari keberingasan para pasukan Griffin yang tidak main-main. Beberapa kali pelatuknya terdengar sampai kedalam. Padahal kapal yang digunakan itu kapal yang di desain khusus kedap suara, kuat dari guncangan, tapi sayang tidak anti peluru.


Sayang sekali bukan? Sungguh kurang persiapan. Diluar pemikiran Albert, yang ia pikir rencananya akan berjalan mulus. Ternyata ia salah perhitungan, dan melupakan sedang dihadapkan dengan siapa.


Griffin Vinza Lim Alghiffary— Pewaris tunggal dari kekayaan Lim, dan penerima keseluruhan harta Alghiffary, kakek Griffin yang keberadaannya sungguh misterius. Dan kalian bertanya-tanya tidak soal pasukan anak buah dari Griffin yang tangguh serta hebat-hebat, kuat, dan terlatih.


Pasukan khusus yang sudah terlatih. Berasal dari negara Prancis rata-rata, dan anak buah itu milik dari neneknya Griffin.


Meneer Gladys Ditya— seorang usahawan yang sukses diusia muda. Memiliki aset dimana-mana dan harus terjebak nikah kontrak dengan Manaf Alghiffary. Orang terkaya nomor tiga, di timur tengah. Sekaligus menjadi pengusaha dengan pendapatan perkapita terbanyak setiap tahunnya. Dengan perusahaan cabangnya yang berdiri dikawasan timur dan tersebar luas di Asia.


Tidak heran bukan. Kalau sekarang keluarga Griffin itu bukan keluarga yang sembarang. Asetnya sudah tak terhitung.

__ADS_1


"Baru ku kerahkan pasukan kelas bawah saja sudah tepar! Bagaimana nanti kalau ku kerahkan pasukan dari US, mereka kan pusat berkumpulnya anak buah omah."


"Jika ingin bermain-main dengan keluarga Alghiffary, sepertinya orang itu merasa memiliki sembilan nyawa!" gumam Griffin dengan mata yang terus waspada. Mengawasi sekitar. "Tay, kita kayanya perlu telpon bodyguard dari US pasukan 3, buat jaga-jaga."


"Tuan Albert, anda ini sudah gila, hah?"


"Hanya ini jalan satu-satunya, Sekretaris Lim!" sentak Albert yang membanting setir menuju pelabuhan yang akan dituju. Sebenarnya tadi kapal akrilik—milik pribadi dari Albert ingin menuju pelabuhan Niagara. Tapi sepertinya ia sudah di kabari oleh anak buah kapal, kalau di pelabuhan itu sudah ada anak buah dari Griffin. Buru-buru ia mengintruksikan anak buah yang ada di kapal itu untuk putar arah ke pelabuhan darurat. Yang belum di lacak keberadaannya oleh Griffin. "Sekretaris Lim, sepertinya anda ini sangat merepotkan. Bagaimana kalau anda turun disini, saja hah?"


"Tuan! Apa anda sudah gila? Anda menurunkan saya ditempat sepi seperti ini?!"


"Ya! Hanya ini jalan satu-satunya, karena Tuan Lim sudah meletakkan GPS pada anda. semua rencana saya jadi kacau," sentaknya. "Turunlah! atau kalau tidak akan kutarik paksa!" tegasnya yang tidak main-main dengan apa yang ia ucap kan. Ia turun dari mobil, dan membuktikan ucapannya.


Albert tidak peduli. ia justru melajukan mobilnya menjauhi Anin yang sudah diturunkan begitu saja. Entah Anin berada di suatu jalan mana, Jalanan itu terlihat asing, minim pencahayaan banyak orang berlalu lalang. Namun terasa begitu asing. Jelas terasa begitu asing, Albert sudah membawanya ke tepi kota yang dekat dengan laut dan banyak pelabuhan.


"Sialan! si tua bangka itu, berani-beraninya nurunin saya disini. Kalo Pak Lim tahu, abis lah si tua itu," gerutu Anin yang menelusuri jalan yang lebih terang dari tempat sebelumnya. Ia tambah menggerutu saat baru menyadari. Kalo tas yang ia selalu bawa. Terbawah bersama mobil Albert. Dengan modal nekat, semoga ada anak buah dari Griffin yang menjemputnya. "Ini kalo sampe ngga ada yang jemput. Bener-bener! masa setega itu sama sayaaaaa... hufft, mana jalanan nya engga saya kenal lagi. Sungguh mengesalkan!!"


Gadis itu terus saja menggerutu sepanjang ia berjalan ditempat sepi itu. Untunglah samar-samar ada penerangan didepan sana. Sepertinya ada pom bensin didepan. Dengan tersenyum merekah Anin segera menghampiri tempat tersebut.


"Alhamdulillah, masih untung ada pom bensin! Kalo ngada, saya harus neduh dimana ini? Mana gerimis lagi."

__ADS_1


Dilain sisi.


Griffin, dan seluruh anak buahnya dibelakang siap menjadi tameng. tengah menyiapkan strategi untuk menjalankan rencana cadangan mereka. "HT 1, mohon waspada di pos tiga."


"Halo... halooo, HT 5 waspada di pos satu," instruksi Tay. "HT 3 waspada di pos lima."


"Selebihnya sesuai nomor," kini giliran Griffin yang berucap. Sambil terus menatap pada maps di jam tangannya. Ia mengerutkan kening, nampak keheranan. "Tay... Tay! kirimin anak buah lo buat ke jalan karebet, pom bensin situ. Gua liat, Anin dari tadi berhenti di situ."


"Kok bisa? bukannya Sekretaris Lim dari siang udah ngada di kantor?"


Tay menanggapi dengan serius. Ia kalo lagi mode kerja, bercandanya bisa di kondisikan. lihat saja, dengan pergerakan cepatnya ia menghubungi anak buahnya yang lain. Padahal ia masih lanjut memberi instruksi pada HT 7 di pos 7 untuk waspada. Bersiap akan taktik tak terduga dari anak buah Albert. "Dia yang mancing tua bangka itu? Makanya lo dapat tempat koneksi, yang deket pos tiga?"


Griffin mengangguk sambil menginjak pedal gas mobilnya.


"Kita langsung ke lokasi titik."


"Resikonya gede, Fin."


"Lo engga percaya sama pasukan gua?"

__ADS_1


vote komenya kack, sangat bermanfaat bagi saya, yg blm follow akunnya. follow yaaaaaaa, makasiii.


__ADS_2