
Persiapan sederhana dari keluarga Cahyadi, yang terpaksa melakukanya demi sih pemaksa Austin itu.
Austin kini tengah menjabat tangan Adji yang nampak ogah-ogahan, bersih tatap dengannya. "Bisa dimulai akad ijab qobul nya?" ujar Pak penghulu yang duduk disebelah Adji.
Disampingnya juga sudah ada Abin paman dari Anin yang nampak tertekan menghadiri pernikahan paksa dari ponakan tersayangnya. yang sedari tadi menangis mencoba ikhlas dengan semuanya. Anin menangis pilu saat dengan terpaksa melepaskan masa gadisnya, pekerjaannya, masa depannya, impiannya dan yang paling berharga adalah mimpinya.
Mimpi Anin adalah menikah dengan orang yang ia cinta. Dengan rasa bahagia dan harapan indahnya, tapi semua pupus sudah. Saat Austin pria yang sangat terobsesi pada Anin itu muncul dengan berbagai cara agar dia mau menikah dengannya.
Awal pertemuan mereka juga tidak mengenakan. Anin bertemu pertama kali dengan pria brengsek satu ini di club malam. Saat itu Anin tengah menemani bosnya. Griffin meeting dengan Kelayan luar negeri, Anin ijin ke toilet untuk cuci muka. karena memang meeting itu diadakan dadakan dan diwaktu yang sudah larut.
--Kebetulan Austin juga tengah berada di club Dranger-ex. Dengan keadaan mabuk berat. Pria itu hampir kehilangan reputasi nya kalo saja Anin tak mencegahnya. Saat dibawah oleh seorang gadis yang diketahui adalah anak pejabat, yang memang niat mendekati Austin dan menjatuhkan nama baiknya dengan cara kotornya. sudah merencanakan niat menjadikan dirinya sebagai korban pelecehan dari Austin. Mulai dari malam itu, Austin mengenal Anin dan mencoba mencari identitas dan latar belakang keluarganya, lama kelamaan mungkin Austin menaruh rasa lebih. Sampe membawanya sejauh ini, terobsesi oleh seorang Anindhita.
"Saya terima, nikah dan kawinnya, Anindhita Rahma Kinara Cahyadi, dengan maskawin tersebut dibayar ---"
Brukkk!
Belum sempat menyelesaikan ijab qobul nya. Pria itu tiba-tiba ambruk, tubuhnya langsung bertumpu dimeja yang berada dihadapannya. Darah juga mengalir tepat di tulang belakangnya, menembus sampe mengenai jantungnya.
"Darah!! siapa yang menembak Aus-?" pertanyaan Anin tak diteruskan, saat tiba-tiba segerombolan orang yang memakai topeng. Masuk dan membekap seluruh keluarganya. Kecuali pak penghulu, Adji dan Abin.
Beberapa bodyguard sudah menodongkan senjata pada Adji yang nampak kebingungan sama halnya seperti Abin yang syok akan kejadian ini. Pertama saat melihat Austin ambruk tertembak tepat di tulang belakangnya. Tak ada suara sama sekali dari tembakan itu. Hanya ada pergerakan pasti dari beberapa bodyguard yang sudah menyandra seluruh anggota keluarga Anin.
"Nikah kan saya dengan putri anda atau semuanya akan berakhir tragis!" ancam seorang pria, yang sudah berhasil membius Anin saat hampir mengenalinya.
Adji nampak memberontak, apa-apaan pikirnya? Kenapa berbagai kejadian tidak terduga bisa menimpa dirinya dan seluruh keluarganya. Yang nampak tak berdaya saat ini berada dalam kuasa seseorang yang memakai kaca mata hitam dan stelan jas hitam tengah menjabat tangannya paksa.
__ADS_1
"Saya Griffin Vinza Lim Al-Ghifari, saya bos anak anda. Sudahkah saya bilang, jangan biarkan pernikahan ini terjadi, maka akan ada pertumbuhan darah yang tak terduga," ujarnya begitu mendominasi. Puluhan bodyguard dari Austin sudah terbunuh tanpa ampun oleh para bodyguard profesionalnya yang menjalankan tugasnya dengan baik.
"Saya akan kasih anda kebebasan untuk berbisnis. saya akan mengembalikan semua aset anda yang sudah disitu bedebah ini!" katanya. yang sudah menyingkirkan Austin dikursi hadapan Adji, "ayolah tuan! Sebagai gantinya serakah kan putri anda untuk saya," tawarnya.
Adji menatap nyalang orang dihadapannya, "Anda pikir saya rela. Membiarkan anak saya jatuh sama orang yang tak dikenal sepertimu!"
Griffin tersenyum miring, bersimpuh di hadapan papanya Anin. "Saya mungkin bukan orang baik tuan, tapi saya menginginkan putri anda. Dan saya pastikan dia aman bersama saya," katanya meyakinkan.
"Apa jaminannya?"
"Saya sudah menyelamatkannya Anindita dari kekelaman, hidup bersama orang jahat sepertinya," tudingnya lagi pada Austin yang sudah berbaring lemah dilantai. dengan simpuhan darah yang mengalir dilantai tanpa henti.
"Bukankah diri anda sama halnya seperti dia!"
"Jelas beda tuan," lewat lirikan mata, Griffin mengintruksikan pada anak buahnya. untuk meloloskan satu tembakan disebelah dirinya berjongkok. Spontan Adji kaget, bersamaan dengan hal tersebut. Griffin terkekeh.
Penghulu yang menyaksikan hanya bisa terdiam kaku ditempat. karena pistol yang tepat berada di kepalanya. Sejujurnya ia takut pistol itu menembakkan pelurunya di kepala.
Ruangan itu berubah menjadi sangat menegangkan. Sekaligus bau anyir kini mendominasi, banyaknya bodyguard dan sang tuan yang sudah tewas tragis. kini dikumpulkan diruang utama rumah Adji Pangestu Cahyadi.
"Qobiltu nikahah watajwijaha bil mahril madzkur," ucap Griffin dengan lantang.
Kata "Sah!" terdengar hanya didominasi oleh seluruh anak buah dari Griffin yang ikut senang atas pernikahan bosnya. Griffin mencium punggung tangan Adji beserta Abin yang masih mencoba mencerna kejadian apa yang ia lewati saat ini. Dirinya masih bertanya-tanya, masih dengan keadaan berduka. Mengingat, baru beberapa hari dirinya ditinggalkan oleh istrinya.
"Abin Penglimo Cahyadi, baru saja ditinggal oleh sang istri dengan sejuta kejanggalan di dalam kematian istri anda, bukan? anda tau siapa dalang di balik ini semua?"
__ADS_1
"Anda!" tuduhnya.
Griffin langsung menggeleng, dan membopong tubuh Anin yang sudah sah menjadi istrinya.
"Jawabannya akan anda temukan. turutin saya, ikut bersama keluarga papa mertua saya! pergi dari kota ini terlebih dahulu, saya akan bersih kan kekacauan kecil ini." Dagunya mengarah pada segerombolan anak buah Austin yang sudah gugur malam ini. "Saya akan membawa anak mu, Pa, saya janji akan menjaganya. dan saya akan ikut serta mengungkap kejahatan Austin seiring berjalannya waktu," ujarnya.
"Sementara itu. untuk berjaga-jaga, saya akan mengirim kalian semua ke Korea. Saya akan menyusul dengan Anin nantinya."
...______...
Pukul 00:00 Griffin sudah berhasil membawa Anin ke apartemen pribadinya. dengan ruangan yang mendominasi hitam, dengan hiasan bunga dan lilin aroma. Sudah disiapkan begitu indah. Anin terbangun, nampak dejavu dengan sekitaran ruangan disini.
Gadis itu menyandarkan kepalanya di sandaran kasur. Ingatannya mencoba mengingat hal apa yang terjadi beberapa waktu lalu.
Apakah dirinya sudah sah menjadi istri dari Austin? Barangkali pertanyaan itu yang berputar di kepala Anin. Lamunannya terpecah saat seorang waiters wanita masuk membawa beberapa macam minuman dan sebuah kotak yang didalamnya adalah baju gantinya mungkin.
"Permisi nyoya, ini pesanan yang dititipkan tuan untuk anda. Tuan sedang keluar untuk beberapa saat dan dia menitip pesan mungkin dia tidak akan pulang malam ini," katanya.
"Tidak akan pulang malam ini? baguslah. tidak akan ada malam pertama yang menjijikkan," gumamnya. Lalu menatap waiters yang sedang meletakkan barang yang ia bawah di meja sofa yang tersedia.
"Permisi nyoya, apakah ada sesuatu yang anda butuhkan?" waiters itu bertanya dengan begitu ramah.
Anin menggeleng, "tidak ada. terimakasih, silahkan kamu boleh bekerja lagi," ucapnya.
Setelah waiters itu pergi. Anin beranjak dari tempat tidurnya. Memutuskan membersihkan tubuhnya dan menganti gaun pengantin yang ia kenakan.
__ADS_1
25 menit, waktu yang dibutuhkan Anin untuk mandi dan berendam di bathtub. ia keluar dengan rambut basah dan lingerie seksi yang bahannya begitu tipis. Tenggorokannya merasa kering. Ia memutuskan meminum minuman tadi yang diberi waiters.