Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
t u j u h b e l a s


__ADS_3

"Kamu milik saya!"


"Mphh-, Bapak! ahhh.


Griffin menjauhkan dirinya dari gadis itu. Bisa-bisanya dia mendesah tepat ditelinga nya, apalagi tanpa sengaja tangannya mencakar leher pria yang tengah terpejam. Menahan sesuatu yang terbangun dibawah sana.


Salahkan Anin ataukah hormonnya?


Anin selalu terlihat sexy dimana pun dan kapanpun, dan kalau Griffin. Ia hanya pria normal yang jika disuguhi orang seperti Anin, ya terpancing lah. Gimana tak terpancing dan tergoda, orang yang ada dihadapannya ini Anindhita, yang selalu berpenampilan modis dan memikat. Meskipun tidak ada niatan menggoda, tapi bentuk tubuh proposal Anin lah yang menjadi daya tarik alami tersendiri.


Tidak usah dipungkiri. Satu kantor pun sudah mengakuinya.


Pandangan Griffin daritadi tak pernah luput menatap lekuk tubuh Anin. Apalagi sekarang posisi Anin dengan rambut yang masih basah dan makeup naturalnya yang justru semakin memikat. Seolah menghipnotis Griffin untuk menjamahnya.


"Pak. Bapak mau?"


"Mau kamu," bisiknya dengan suara berat penuh nafsu. "Boleh saya merasakan tubuh indah mu malam ini?" andai saja, kalimat itu terlontar secara nyata. Bukan didalam hati membatin. Mungkin Griffin tidak akan uring-uringan dan penasaran akan hal yang sudah sepantasnya menjadi haknya.


"Bapak boleh jauhan dikit enggak si? saya enggak biasa deket-deket sama pria sampai sedekat ini."


"Oh... Jadi kalau sama Vian udah biasa ya?"


Gadis itu mengerutkan keningnya, dengan bibir yang sedikit mengerucut. Merasa bingung atas penuturan yang butuh dicerna. "Saya mana ada gitu, Pak."


"Mana ada gitu, tapi pas di kantor kamu gitu lho. Di pikir saya enggak tahu apa? di jam-jam kantor buat Pdkt kamu sama Vian. Kan masih ada tempat lain, kenapa harus di kantor? Mau kena sp satu kamu?"

__ADS_1


Bingung sekaligus ngebug. Anin belum sepenuhnya mencerna penuturan Griffin yang begitu lugas itu. Apa sebenarnya maksudnya?


Ayolah. Coba peka dikit saja, kalau pria dihadapannya ini tengah merasa cemburu. Cuman gengsi aja buat bilang. Sedari tadi pandangannya tak luput dari Anin yang terlihat gelagapan. Ya gimana enggak gelagapan? Orang tatapan Griffin kali ini sungguh sulit diartikan.


"Lah, kenapa saya kena sp satu, Pak?"


*****


"Kyaaaaa.... Pagi bapak!"


"Pak! Bapak!!"


Anin sengaja berteriak, guna mengurangi rasa gugupnya saat tangan kekar pria itu melingkar di perutnya. Semalam bisa-bisanya mereka tidur satu ranjang dengan posisi Griffin yang memeluk erat Anin dari belakang. Dan gadis itu hanya bisa pasrah, mau menolak pun rasanya tidak enak. Apalagi saat tatapan Griffin begitu mengintimidasi menatapnya seolah ucapannya tak mau terbantahkan.


Dengan berat hati, Anin harus rela terjaga saat hembusan nafas berat terasa begitu kentara di lehernya. Berbeda dengan Anin yang terjaga, Griffin justru tidur dengan nyenyak nya. Tidak peka kah dia? Kalau semalaman Anin itu dibuat dag-dig-dug ser. Takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi.


*****


"Apa nih?? Pagi-pagi udah senyam-senyum aja ni, Pak bos, udah berhasil belah duren kah?"


"Kayaknya si," imbuh Malvin yang siap meledek Griffin bersama Tay. "Secara kan tadi ada yang abis kebakaran hatinya, sang pembuat kebakaran itu tentunya harus diberi hukuman."


"Hukuman apaan tuh??"


Tap!

__ADS_1


Detik itu juga tatapan tajam bergulir pada Okan yang ikut-ikutan meledeknya. Apa-apaan coba? Kalau Malvin sama Tay kan udah terbiasa begitu. Lah kalau dia? Ketularan kah. Kalau iya, bisa-bisa nambah stress ni Griffin. Dua curut itu saja kalau meledeknya cukup membuat mentalnya terguncang, apalagi kalau Okan ikut turun tangan.


"Hukuman yang bikin hooh iyo hooh iyo nggak sih??"


"Bisa jadi!"


Tuh kan.


Dibilang juga apa, kalau Okan ikut-ikutan. Malvin sama Tay makin kurang ajar, makin ngada takut-takut nya sama Griffin. "BERISIK woi! Sana kerja, enggak inget kerjaan numpuk?"


"Nanti aja dong. Gue mau tahu, udah seberapa jauh projects perkembangan pembuatan buat keponakan kita. Lo udah sampe tahap mana? Udah pegang-pegang apa aja?" Tay bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya. Kalau udah kayak gitu, tandanya pembicaraan mereka udah termasuk pembicaraan dewasa. "Berdarah-darah enggak ***?"


"Lecet-lecet!"


Bwahah hahaha.


Tawa menggelegar dari ketiga pria itu mengudara saat melihat raut emosi Griffin. Sedangkan pria itu nampak begitu jengkel, bisa-bisanya ia diroasting oleh bawahannya sendiri. Sungguh mengesalkan pagi-pagi sudah menjadi bahan lelucon bawahan sekaligus sahabatnya.


"Ngomong-ngomong nganah mau ngikutin keluarga berencana apa tetep nekat pen punya anak kek club bola, 11 anak?"


Lagi-lagi pertanyaan ngelantur dari Tay terucap yang langsung ditanggapi oleh Malvin. "Club bola ajalah, biar rame. Nanti gue sama Gracia nyusul mau bikin keenaman versi club bola voli."


"Gue versi mobile legends aja sih. Enggak usah banyak-banyak, biar gue gacor sampe kakek-kakek ngegoyang Nain calon bini gue tuh."


Belum cukup sampai disitu. Okan kini juga ikut-ikutan berucap ngelantur, "ya udah gue mah mau versi bulutangkis ganda aja. 2 anak lebih baik."

__ADS_1


Sudah cukup. Griffin sudah benar-benar kesal dengan celetukan dari para sahabatnya dia frustasi sampai bangkit dari kursinya dan ngereog ditempat. sudah mengangkat kursi bersiap menghantam ke kepala para sahabatnya yang kelewat ngeselin. apalagi saat pertanyaan di luar nalar kembali terlontarkan.


Tay yang punya banyak nyawa dan mental baja. berani-beraninya bertanya, "kalo lo mau berapa, Fin? mau versi nyaingin geng geledek kah atau mau versi kek teletubbies?"


__ADS_2