Secret Wife Tuan Lim

Secret Wife Tuan Lim
e m p a t b e l a s


__ADS_3

"Cantik sekali ya Tuhan..."


"Mengapa saya sudah memilikinya, tapi rasanya sulit untuk dirasakan."


"Saya ingin sekali menyentuh dia semalam. Tapi saya sadar, misi saya lebih penting daripada hal ini." Griffin terus bergumam dibawah munculnya sinar matahari yang mulai menelisik masuk lewat cela jendela. Dan angin pagi yang lumayan sejuk. "Saya bingung, kenapa saya nyaman berada diposisi seperti ini."


Tangan kiri Griffin menjadi bantal bagi Anin yang tertidur dengan pulas nya disamping dia. Semalam tidak terjadi apa-apa. Hanya sebatas menggoda saja, ternyata respon Anin lumayan juga. Tapi bukan waktu-waktu ini yang tepat buat Griffin menuntaskan nafsunya. Semalam dia tahu, kalau ada yang mengawasinya. Bahkan mengintai, dia coba buat setenang mungkin. Dan tidak menimbulkan gelagat yang mencurigakan.


"Sepertinya dia mau bermain-main dengan seorang Griffin Vinza Lim Alghifarry," gumamnya dengan senyum sinis. Dalam benaknya sudah siap dengan bendera perang yang di kibarkan pihak lawan. Maka dia harus siap siaga. "Permainan anda terlalu ke kanak-kanak kan. Tidak mau coba yang anti mainstream kah?!!"


"Ya sudah. Biar saya saja, tunjukkan cara main yang benar bagaimana."


*****


Situasi di kantor pusat GV Guillotine terlihat tidak kondusif. Para staf, pegawai, beserta karyawan tengah berhambur sibuk mengurus peristiwa yang terjadi dengan tiba-tiba ini. Tepat bada subuh tadi, di kabarkan kalau gudang penyimpanan industri GV Guillotine yang memproduksi kain berkualitas kelas premium itu mengalami kebakaran dan beberapa dokumen penting ada yang hilang.


Sungguh permainan yang terlalu kotor dan ke kanak-kanak kan, Pikir Griffin. Saat baru tiba di kantornya, disambut para pegawai. Dia tidak sendiri. Didampinginya ada sekretaris Anin.


"PAGI TUAN LIM!!" sambut para pegawai yang menunduk memberi hormat. Hal itu sama halnya dilakukan Griffin dan juga Anin.


"Pagi juga buat kalian." sapanya balik dengan ekspresi kurang enak dipandang kali ini. Hal itu di sadari banyak orang disekitarnya yang harap-harap cemas. Takut Pakbos tiba-tiba marah atau ngomel. "Kalian selesai kan urusan yang jadi tanggungjawab kalian sekarang. saya akan urus masalah intinya. Tolong kerjasamanya ya?"


"Siap Tuan Lim."


"Oke Pakboossss."


"Ashiap Pak Griffin."


"Siap sigap Pak Ipin," cicit Anin yang dapat di dengar oleh Griffin yang meliriknya sekilas. "Pak Griffin. Sekarang kita ke ruangan bapak, ada dokumen dan laporan yang perlu bapak liat. Ayok!"


Griffin di persilahkan berjalan lebih dulu didampingi Anin disamping kanannya. Disamping kanan Anin ada Adnan. Selaku karyawan bagian manajemen. Kemudian disamping kiri ada Malvin dengan asisten pribadinya Ziko. Dan dibelakang ada yang baru menyusul dan baru datang. Yaitu Tay. Dia memang sudah biasa datang selalu terlambat. Sungguh kebiasaan yang tidak patut ditiru.


"Mana berkas yang perlu tanda tangan saya," Griffin menatap Anin yang tengah memeriksa beberapa berkas yang tertumpuk disamping Griffin. Pria itu sudah duduk di kursi kerjanya, sekarang tengah betah memandangi Anin dalam diamnya. Sedangkan gadis itu masih sibuk mencari berkas yang butuh ditanda tangani. "Nggak bosen ya?"


"Kenapa Pak?"


"Kamu."


Anin mengernyitkan keningnya tangannya masih sibuk memilah berkas. "Iya. saya kenapa?"

__ADS_1


"Makin cantik aja," gumamnya hampir tidak terdengar.


"Pak!" Anin sebenarnya mendengarnya, tapi biasa aja. Bohong sih itu, padahal dalam hati dia disko. "Saya print berkas lainnya dulu ya. Bapak tanda tangani ini dulu aja."


"Jangan lama-lama," ujar Griffin kurang suka. Karena dia harus menyudahi menatap keindahan di pagi hari ini. Anin mengangguk, mulai berjalan menjauh dari meja bosnya. Sesampainya diambang pintu. Dia dibuat terkejut oleh kedatangan Okan yang nampak tergesa. "Kenapa?"


"Nin, Permisi ya." Okan menyerobot masuk. "Griffin! Oh sorry, maksud saya Pak Griffin," ulangnya.


Sepeninggalan Anin. Griffin menatap serius Okan yang ingin menjelaskan suatu hal yang penting. Dia memberi isyarat bukan disini tempatnya, itu artinya ia harus menuju ruang rahasia bersama Okan.


"Malvin. Malvin. Tolong suruh Demian daratin jet ke gedung ini, ada hal penting."


"Oke."


Tanpa banyak bertanya ataupun berbicara. Malvin sudah paham situasi semacam ini, Dia buru-buru menghubungi Demian.


Beberapa menit kemudian Okan dan Griffin menuju gedung paling atas. Akan ada jet yang mendarat ke sana.


"Malvin, Tay. Jaga kantor ini biar tetap kondusif. Gue pergi dulu sama Okan."


Malvin dan Tay yang tengah berhadapan langsung dengan Okan dan Griffin mengangguk mengiyakan pesan dari atasannya. "Tenang aja. Kantor lo aman sama kita," ujar Tay.


"Gue percaya kok sama lo."


*****


"Where is your master?"


(Dimana Tuanmu?)


Seorang pria dengan perawakan atletisnya tengah menodongkan pistol kearah dokter yang berjaga di rumah sakit tempat dirawatnya Agam dan Austin.


"Saya tidak tahu."


"Ahh... yang bener???" celetuk Tuan V, "jangan bohong...!" nada bicaranya begitu gurau. sampai membuat Bible menoleh tak habis pikir. Berbeda dengan Andrew yang sudah tahu sisi gelas dari Tuan V yang memang agak prik. Sifat itu kadang sering muncul. "Kenapa semua menatap saya begitu?"


"Anda nggak waras? Masih sempat-sempatnya bercanda," cetus Bible masih memegang kendali mengarahkan pistolnya pada dokter Ayman, yang sudah pasrah mengangkat tangannya. "Jangan mempersulit pekerjaanku. Cepat katakan dimana kalian memindahkan Austin dan Agam??!"


"Say—aaa, tidak tahu Tuan."

__ADS_1


"Tidak mungkin anda tidak tahu. Cepat katakan dimana Tuanmu membawa Austin dan Agam?"


Duorrr!


Bersamaan dengan itu. Satu peluru melesat hampir mengenai kepala dokter Ayman yang memejamkan matanya kaget. "Astaghfirullah Tuan. Bisa tolong jangan buat kegaduhan disini. saya tidak tahu apa-apa."


Bible menatap tajam dokter Ayman yang nampak menatapnya polos. Tatapan dan raut yang tidak sama sekali memancarkan kebohongan, begitulah kira-kira pikir Bible.


"Ayolah dokter. kalau tidak mau terlibat. cepat katakan," seru Tuan V yang nampak mengambil pistol dari balik kiri jasnya. Ia mainkan dan sesekali diarahkan keaarh Ayman yang balik menatap lawan bicaranya. "Dokter mau selamat atau tewas?"


Andrew yang diam-diam tengah mencoba mengartikan detak jantungnya. Terdiam mencoba merasakan, menangkap sesuatu sinyal yang menghubungkan antara sesuatu yang tengah terjadi saat ini. Detaknya tak beraturan, kadang cepat dan melambat. Pria itu memegang dadanya, raut mukanya begitu kentara memancarkan wajah pucat pasihnya.


Ayman yang kebetulan melirik pun berucap. "Tuan Andrew. Anda baik-baik saja?"


Memecah tatapan mengintimidasi kedua orang tadi yang kini malah berfokus ke Andrew. Pria itu mencengkeram kuat dadanya yang semakin sesak. Ada satu hal terjadi pada Austin. "Andrew. Anda baik-baik saja kan?" Bible bertanya sambil mendekat mengikuti Tuan V yang kini mencengkeram kuat bahu Andrew.


"Sesuatu terjadi pada Austin kah Drew? Gue merasa ada kekacauan diluar kendali kita, sinyal yang lo tanam didekat jantung lo menangkap getaran sinyal yang terjadi dengan Austin." Tuan V berucap dengan fasih, seolah membaca gerak-gerik tak terlihat dari satu sekutunya. "Cepat lacak tempat tersebut."


Andrew memejamkan matanya sejenak, menetralkan detak jantung yang tak biasa. Dia merasakan sesak begitu menjalar. "Saya rasa. Keadaan Austin semakin melemah, begitu pula dengan Agam. entahlah, mereka bisa bertahan hidup atau tidak."


"Siapa yang membawa mereka berdua sebenarnya? kita keduluan gitu?" celetuk Bible sesekali menatap Ayman. "Dok, saya masih sabar sama anda. Tolong katakan sesuatu, siapa yang membawa mereka berdua?!!"


"Sungguh Tuan. Saya tidak tahu menahu tentang ini."


"Apakah Griffin sering kesini setelah beberapa hari lalu berkunjung?"


Ayman menggeleng. "Anda jangan bohong!" tegas Tuan V begitu menakutkan kalau sedang greget seperti ini.


"Buat apa coba saya boong Tuan. Setalah kemarin Tuan Griffin kesini, tidak ada lagi dia kesini lagi. hanya ada beberapa orang suruhan Tuan Griffin yang berjaga."


Andrew meringis menahan sesaknya. "Sakit banget dada saya," rintihnya.


Tuan V langsung sigap menahan tubuh Andrew yang hampir oleng. "Perlu saya tangani sepertinya."


Bible melempar tatapan mengode pada Tuan V yang langsung peka akan hal itu. Hanya dalam satu lirikan saja, mereka mengangguk paham. Langkah selanjutnya harus bagaimana. "Ya sudah. Anda tangani dia."


Sebelum dipapah oleh Tuan V, Bible mendekat dan membisikkan sesuatu pada Andrew. "Dengerin saya, anda nanti koneksiin sinyal itu ke ponsel scan saya. Biar masalah ini cepat selesai, dan kita lenyapkan Griffin secara sadis."


Pria itu hanya mengangguk sambil menahan sesak. Sedangkan setelah mengatakan prihal masalah penanganan, dokter Ayman pergi keluar untuk menyiapkan alat-alat medis dan memanggil beberapa suster. "Anda saya tinggal. Nggak papa kan?"

__ADS_1


Andrew mengangguk mengiyakan. Berlalu Tuan V menepuk bahunya sehingga membuatnya menoleh. "Kita pasti bisa secepatnya hancurin orang itu sama-sama. Tunggu tanggal mainnya aja."


__ADS_2