
"Gavin, kamu tahu sendiri kan kalau rumah itu satu-satunya harta yang ditinggalkan keluargaku selain perusahaan?" ucap Seline jujur.
Jika di kehidupannya dulu dia dengan lapang dada memberikan rumahnya pada Gavin karena diiming-imingi tinggal bersama di apartemen Gavin, maka kali ini dia tak akan Sudi menyerahkan apa yang menjadi miliknya.
Gadis pirang itu berdiri dari duduknya dan mengambil tas kecil miliknya.
"Gavin, aku rasa pembicaraan ini hanya akan membuatmu emosi. Karena maaf, bagaimanapun kamu meminta, aku tak akan pernah menjual rumah yang sudah menemaniku sejak aku belum lahir ke dunia ini."
"Meski rumahku jelek dan tak sebagus milikmu, tapi rumah itu adalah harta yang paling berharga yang aku miliki. Dan aku tak akan pernah menjualnya meski kamu memaksa."
Setelah mengatakan itu, Seline membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Namun beberapa langkah, tangannya ditarik dengan keras oleh Gavin hingga membuat Seline berhenti berjalan.
"Seline, Lo keterlaluan!"
"Inikah balasan dari kebaikan dan perhatian gue selama ini?"
"Dasar wanita murahan!"
Gavin emosi. Bahkan tangan pria itu sudah terangkat tinggi hendak menampar tunangannya sendiri. Beruntung restoran ini sepi. Jika tidak, dapat dipastikan mereka akan menjadi bahan tontonan yang menarik bagi orang lain.
Seline memejamkan erat matanya. Dia takut, tentu saja. Tapi dia yakin, setelah mendapatkan tamparan dari Gavin, dia akan berlari dan mengadu pada orang tua Gavin supaya keluarga Gavin tahu bagaimana tingkah anaknya pada tunangannya sendiri. Dia akan menunjukkan bekas tamparan pada pipi mulusnya pada mereka dan video adegan panas yang sempat dia rekam sebelumnya supaya Gavin mendapatkan kemarahan dari keluarganya. Setidaknya itulah rencana Seline.
Gavin dengan seluruh emosinya mengayunkan tangannya hendak menampar pipi Seline dengan keras, supaya gadis itu merasa jera. Namun belum juga tangannya mendarat pada pipi mulus gadis itu, tiba-tiba saja tubuh Gavin limbung.
Bugggghh!!!!
"Arggghh!!" Rintih Gavin memegang perutnya yang kesakitan.
Pria itu meringkuk di lantai karena mendapatkan rasa sakit yang tiba-tiba. Sedangkan Seline, gadis itu membuka matanya dan terkejut melihat tunangannya yang limbung. Tapi Seline lebih terkejut lagi kala melihat ada pria yang berdiri di hadapannya tengah menatap Gavin dengan pandangan tajam.
"Tidak seharusnya seorang laki-laki bertindak kasar kepada perempuan!" Tekan sang pria.
Gavin segera berdiri sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Bukan urusan Anda! Lagipula saya hanya sedang mendisiplinkan tunangan saya sendiri! Sehingga Anda tak berhak untuk ikut campur!" Seru Gavin menunjuk sang pria.
Pria itu beralih menatap Seline, membuat gadis pirang itu terkejut dengan tatapan tajam yang dilayangkan untuknya.
"Ini tunangan yang kamu cintai sepenuh hati itu, Roseline Agatha?"
"Ha???"
Pria itu kembali menatap nyalang pada Gavin. Sejujurnya, Gavin merinding melihat sorot tajam yang dilayangkan untuknya. Namun jika dia menyerah sekarang, bukankah dia terlihat seperti pengecut?
"Tolong menyingkir dari sini, Tuan! Ini bukan ranah Anda mencampuri urusan kami!" Ucap Gavin lantang. Dia berusaha bersikap tegas dan tetap mencoba menghormati pria yang terlihat berwibawa tersebut, meski dirinya tak mengenal pria yang tiba-tiba saja ikut campur itu.
"Menyingkir?! Baiklah, kalau begitu aku akan pergi dan membawa tunanganmu juga!"
"Jika sekali lagi aku melihat kamu bertindak kasar dengan gadis ini, aku tidak akan segan-segan menghancurkan perusahaan keluarga Ganendra. Camkan itu!"
Pria itu melangkah pergi dari sana. Tak lupa, dia menyeret Seline yang sedari tadi masih bingung dengan keadaan sekitar.
Gavin tentu tak tinggal diam. Dia hendak mengejar sang tunangan yang di bawa kabur oleh orang asing itu. Namun langkahnya dihentikan oleh sosok dua orang berbadan kekar yang tiba-tiba saja muncul dan menghalangi jalan Gavin.
"Kalian siapa?! Menyingkir dari hadapanku sekarang!" teriak Gavin lantang.
Gavin berusaha mendorong kedua pria itu sekuat tenaga. Namun bukannya menyingkir, salah satu pria kekar itu dengan teganya mendorong tubuh Gavin hingga tubuhnya jatuh tersungkur.
"Ugghh!!! Awas Lo, Seline. Gue bakal bikin perhitungan sama Lo!" Ucap Gavin berusaha berdiri.
......................
Sementara di sisi lain...
"Pakai sabuk pengamannya, Sweetie." Ujar sang pria.
"Atau aku saja yang memakaikannya?" lanjutnya.
__ADS_1
Seline sontak menggeleng, dia dengan segera memakai sabuk pengamannya meski otak kecilnya masih terus berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Sedangkan sang pria, dia mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak ada percakapan apapun yang dilontarkan sang pria, seakan kejadian tadi tak penting sama sekali. Hanya suara deru kendaraan yang mengiringi perjalanan mereka.
"Kenapa kamu menolongku?" tanya Seline memecahkan keheningan yang terjadi selama lebih dari tiga puluh menit.
"Karena kamu kesulitan berhadapan dengannya. Dan aku tidak ingin melihatmu terluka karenanya." Jawab sang pria tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
Seline terdiam, dia bingung hendak membicarakan apa dengan pria yang tak dikenalnya itu.
"Seline, kenapa kamu begitu mencintai pria itu?" tanya sang pria.
Seline menoleh, menatap penuh curiga dengan orang yang ada disebelahnya. Siapa sebenarnya orang ini? Kenapa dirinya merasa familiar dengan sosok yang tengah mengemudi ini?
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Seline.
Ciiitt...
Mobil berhenti, membuat Seline beralih menatap ke jalanan. Dan dia sadar jika mobil yang ditumpanginya kini berhenti tepat di depan rumahnya. Beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak Seline, bagaimana pria ini tahu dimana rumahnya? bukankah sedari tadi dia tak mengatakan apapun? siapakah sebenarnya orang asing ini?
Sang pria menatap dengan intens gadis pirang yang tengah kebingungan itu. Dia dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada Seline hingga menyisakan jarak beberapa centi saja.
Seline bahkan bisa merasakan hembusan nafas pria itu. Membuat gadis pirang itu tiba-tiba berdegup kencang. K-kenapa dia sangat tampan?
Seline dengan teliti memperhatikan figur wajah pria itu. Wajah tampan dengan pahatan yang begitu sempurna. Kulitnya yang mulus tanpa cela, rahangnya yang begitu tegas dengan rambut-rambut tipis menghiasi dagunya, hidungnya yang begitu mancung dan rambut coklat tua yang menambah maskulin sang pria. Juga jangan lupakan mata berwarna biru keabu-abuan pria itu mampu menenggelamkan siapa saja yang melihatnya ke dalam samudra.
"Roseline Agatha, kamu melupakanku?" tanya sang pria dengan suara maskulinnya.
"Padahal satu minggu yang lalu kita baru saja menghabiskan malam yang sangat panas di Paris."
Degg..
Seline terkejut. Dia menatap tak percaya pada sosok pria asing yang ada di hadapannya saat ini. Bagaimana bisa pria bule yang merenggut kesuciannya itu ada di hadapannya? Bukankah dia hanya orang asing yang bahkan tak mungkin bisa berada di negara tempatnya tinggal? Lantas bagaimana bisa dia ada di sini dan bisa mengenalinya seperti saat ini? Apakah ini mimpi?
__ADS_1
...****************...