Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Akhirnya..


__ADS_3

"Ya. Itu video asli." jawab Gavin jujur.


Pria itu menatap Seline penuh harap, "tapi Seline, jika kamu melihat semuanya. Tidakkah kamu juga melihat apa yang aku katakan setelah kepergian Lina?"


"Aku melihatnya. Dan aku mendengar semua yang kamu ucapkan." jawab Seline.


"Kalau gitu, seharusnya kamu tahu kan kalau aku udah mulai suka lagi sama kamu? Aku berniat untuk memutuskan Lina dan kembali sama kamu."


Om Heru memijit pelipisnya. Jujur, dia tak ingin pertunangan ini batal mengingat janjinya pada mendiang sahabatnya untuk menjadikan Seline sebagai keluarganya. Namun jika begini, bisakah dia mempertahankan gadis kecil ini?


"Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tak ingin memiliki calon suami bekas sahabatku sendiri, Gavin. Aku harap kamu ngerti itu."


Gavin tertawa remeh, "Seline, bukankah kita sama-sama bekas? Kenapa kamu seolah-olah jijik kepadaku? Aku bahkan bisa menerimamu yang sudah menjadi bekas pria asing yang bahkan tak jelas asal usulnya itu."


Seline memejamkan matanya, kenapa pria ini membuka aibnya seenak jidat. Haruskah Gavin mengatakan hal memalukan itu di hadapan anggota keluarga Ganendra?


"Gavin, cukup!" Perintah om Heru mampu menghentikan suasana tegang antara Gavin dan Seline.


"Seline, tidak bisakah kamu memikirkan sekali lagi tentang pertunangan ini? Om hanya ingin memenuhi permintaan terakhir orang tuamu untuk menjagamu dan menjadikanmu bagian dari keluargaku."


Gadis pirang itu menghela nafas panjang. Om Heru memang tak salah mengingat sang papa pernah menitipkan dirinya pada keluarga Ganendra bahkan sebelum pertunangan terjadi. Tapi jika harus terus bersama dengan Gavin? Seline rasa tidak.


"Om, Tante, Kak David." ucap Seline sambil menatap satu per satu anggota keluarga Ganendra.


"Meski pertunangan ini berakhir, Seline masih menganggap kalian sebagai keluarga Seline. Seline masih akan terus menghormati kalian dan akan selalu bersikap seperti anak perempuan kalian seperti sebelumnya."


"Jadi tidak bisakah kalian menyetujui permintaan Seline kali ini?" lanjut Seline penuh harap.


Gadis pirang itu sadar, bahwa yang bersalah dalam kehidupannya adalah Gavin dan Lina. Jadi dia tak akan pernah membenci anggota keluarga Ganendra meski putra bungsu mereka telah menghabisi nyawanya di kehidupannya dulu.


"Seline, tante mohon, tolong pertimbangkan sekali lagi." Pinta tante Mila yang masih berusaha membujuk Seline. Bahkan matanya sedikit berair.


Seline tersenyum iba menatap tante Mila. Bagaimana ibu sebaik ini bisa mendapatkan anak yang begitu berbeda seperti Gavin?


"Maaf, Tante. Seline benar-benar tidak bisa melanjutkan pertunangan ini. Dan satu lagi alasan yang belum Seline ungkapkan pada kalian kenapa Seline bersikukuh untuk membatalkan pertunangan ini."


Gadis pirang itu merogoh tas miliknya dan mengambil beberapa lembar foto dan satu dokumen penting.


"Seline harap tante dan om bisa menyetujui permintaan Seline. Karena Seline juga tak ingin memiliki calon suami seorang pecandu narkoba." ucap Seline sambil menaruh berkas bukti tersebut ke atas meja.

__ADS_1


Semua syok. Bahkan Gavin sendiri tak habis pikir bagaimana Seline bisa mendapatkan bukti sebanyak itu. Sedangkan tante Mila semakin mengeraskan tangisannya kala melihat foto-foto saat dimana Gavin tengah menggunakan barang terlarang itu bersama teman-temannya.


"Baiklah, Seline. Om terima permintaanmu. Mulai detik ini, hubungan pertunangan kalian batal." Putus om Heru dengan rahang mengetat seakan tengah menahan emosi yang sangat dalam.


"Om harap kita masih bisa berhubungan baik seperti sebelumnya. Dan Seline, om mohon, tolong pulanglah sekarang juga." pinta om Heru yang langsung disetujui Seline.


"Mas.." Isak Tante Mila.


"David, bawa mamamu keluar!" perintah om Heru pada anak pertamanya.


"Sekarang, David!"


Mendengar sang papa berteriak keras, segera saja David mengajak mamanya dan juga Seline untuk segera menjauh. Beruntung mereka tadi memesan ruangan privat yang tertutup, sehingga mereka bisa segera menjauh.


Brakkk!!!!!


Saat David sudah menutup pintu, terdengar bunyi gebrakan yang sangat keras. Seline bahkan berjingkat kaget.


"Seline, bisakah kamu pulang sekarang?" pinta David.


"Maaf jika kakak mengusirmu. Tapi keadaan di sini sedang kurang baik. Dan kami tak ingin kamu terkena masalah."


Seline menatap tante Mila yang terlihat menyetujui ucapan anaknya. Mau tak mau, Seline segera pamit dan berjalan keluar restoran diiringi suara bentakan dan pukulan yang terdengar semakin samar dari dalam ruangan.


Gadis pirang itu terus berjalan. Entah kemana langkah kakinya membawanya. Saat ini otak kecilnya dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang mampu membuatnya pusing.


Apa yang dilakukan Om Heru di dalam sana? Apa yang terjadi dengan Gavin? Bagaimana kabar tante Mila dan kak David sekarang? Haruskah dia tak menunjukkan bukit terakhir pada keluarga Ganendra? Haruskah dia tetap bersikukuh meminta pembatalan pertunangan tanpa menunjukkan bukti terakhir?


"Aaaarrggghhh!!!!!!"


Seline berteriak sangat keras dan mengacak-acak rambutnya. Orang-orang di sekitarnya tentu saja terkejut dan menatap ketakutan pada sosok gadis pirang itu.


"Sweetie, kamu baik-baik saja?"


Bagai seperti penyelamat, sesosok pria tiba-tiba saja datang dan memeluk gadis yang terlihat frustasi itu.


"Menangislah, Sweetie, jika itu bisa membuatmu lega." ucap sang pria berusaha menenangkan gadisnya.


Seline semakin terisak di dalam pelukan Andre. Seakan gadis pirang itu tengah berusaha menumpahkan air matanya yang sedari tadi dia tahan. Padahal semua telah dia pikirkan matang-matang. Namun kenapa dia tetap emosional seperti ini?

__ADS_1


"Andre.."


"A-aku.. Aku sangat takut." Isak Seline semakin mengeraskan tangisannya.


"Stt.. tidak apa-apa, sweetie. Kamu sangat hebat." ucap Andre mengelus-elus rambut panjang Seline untuk menyalurkan kekuatan bagi gadisnya.


"Andre.. K-kamu bahkan tidak tahu apa yang aku lalui selama ini."


"Ini sangat menakutkan.."


"Dunia ini sungguh menakutkan, Andre." lirih Seline.


Pria bermata biru itu semakin mengeratkan pelukannya tak peduli beberapa orang yang lewat menatap aneh ke arahnya. Yang dia pedulikan saat ini adalah bagaimana caranya gadis manisnya bisa kembali tenang. Dia sungguh tak tahan jika gadis manisnya kini tengah menitikkan air mata. Dia berjanji kali ini adalah kali terakhir sang gadisnya menitikkan air mata.


"Stt.. sudah.. tidak apa-apa."


"Ada aku sekarang. Kamu tidak perlu takut. Aku akan selalu membuatmu aman." ucap Andre menenangkan.


"Maafkan aku, sweetie. Aku sangat terlambat menemukanmu. Jika saja aku menemuimu lebih cepat, kamu tak akan kesulitan seperti ini." batin Andre.


Tiga puluh menit berlalu..


Seline sudah mulai tenang. Gadis pirang itu sudah berhenti menangis meski sesekali sesenggukan. Dengan perlahan, Seline melepaskan pelukannya pada Andre.


"M-maaf.. kemejamu basah karena ku." lirih Seline dengan suara kecilnya.


Andre tersenyum manis, kemudian tangannya bergerak merapikan rambut Seline, "It's okay, sweetie."


Gadis pirang itu segera mengusap bekas air matanya dan berusaha menetralkan nafasnya. Jujur, dia lelah menangis. Dia ingin istirahat dengan segera.


"Aku ingin pulang."


"Kalau begitu, ayo. Aku akan mengantarmu."


"Tidak perlu. Ada sopir yang sudah menungguku."


Andre tersenyum, "sopirmu bernama Anton kan? Dia sudah aku suruh pulang."


"Jadi sweetie, kamu tidak punya alasan untuk menolakku."

__ADS_1


"Ayo." ajak Andre.


...****************...


__ADS_2