
"Makanlah. Aku sudah memesankan makanan yang sesuai dengan seleramu. Apakah kamu tak tertarik?" tanya Andre mempersilahkan Seline.
Seline menatap dengan bingung hidangan yang ada di depannya. Ada banyak makanan yang tersaji, dan semua itu adalah makanan favoritnya. Bagaimana laki-laki bule itu bisa tahu makanan kesukaannya? Apakah dia dukun?
Menggeleng pelan, Seline mulai menyantap makanan tersebut. Saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya, Seline bisa merasakan betapa enaknya makanan itu. Gadis pirang itu dengan semangat menyantap hampir seluruh hidangan di atas meja dengan semangat.
"Pelan-pelan, sweetie. Tidak akan ada yang berani mengambil makananmu." Ucap Andre terkekeh gemas.
Pria itu dengan santainya mengusap bibir Seline menggunakan tangannya. Setelah itu, Andre menyesap saos bekas Seline yang ada ditangannya tanpa jijik sedikitpun. Membuat Seline terkejut setengah mati.
"Manis." ujar Andre.
"Bagaimana, kamu suka makanan di sini?" tanya pria bertubuh tegap itu.
"Suka. Aku bahkan tak tahu ada restoran seenak ini di sini." Ujar Seline jujur.
"Tapi sebentar, bagaimana kamu tahu tentang makanan kesukaanku?" lanjutnya.
Pria tampan dengan sejuta pesona itu tersenyum. Dia berkata, "Aku tahu segalanya tentangmu, Ma chérie."
Aneh. Seakan-akan pria itu telah mengenalnya sejak lama. Tapi setahu Seline, dia tak pernah mengenal pria asing itu baik di kehidupannya dulu maupun kehidupan keduanya saat ini.
"Tuan Andrean, bukankah hubungan kita hanya sebatas pasangan satu malam saja? Kenapa kamu seolah-olah tahu segalanya tentangku dan menghantui kehidupanku ini?"
Andre menatap semakin intens ke arah Seline, seakan Seline adalah objek yang sangat menarik dibandingkan apapun yang ada di sekitarnya.
"Hubungan kita jauh lebih dalam daripada pasangan satu malam, Sweetie. Dan aku minta maaf karena aku terlambat menemui mu."
__ADS_1
Seline semakin bingung. Kenapa minta maaf? Dan kenapa pria itu berkata jika dirinya terlambat menemuinya? Padahal di kehidupannya dulu, pria itu tak pernah menampakkan batang hidungnya sama sekali.
"Jadi kapan kamu akan membatalkan pertunanganmu itu?"
"Itu privasiku. Dan tak seharusnya kamu mempertanyakan hubunganku karena kita tidak sedekat itu untuk mengetahui privasi masing-masing." Balas Seline tak nyaman.
Jujur saja, Seline tak merasa harus mengenal pria itu lebih dalam ataupun menjalin hubungan. Hatinya sudah terlanjur patah karena kejutan yang diberikan oleh tunangannya dan sahabat dekatnya sendiri. Dan Seline rasa, tujuan utamanya saat ini hanyalah mempertahankan apa yang dimilikinya. Masalah cinta, baginya hanya omong kosong belaka. Dan Seline tak akan pernah jatuh pada pesona pria di hadapannya ini meski pria itu sangatlah tampan dan kaya.
Benarkan?
......................
Seline menidurkan tubuhnya karena merasa lelah setelah seharian berkutat di perusahaanya. Selain itu, dia juga baru saja memikirkan tentang rencana untuk memutuskan pertunangannya. Seline sudah menghubungi kedua orang tua Gavin dan meminta mereka untuk bertemu dengan dalih makan malam. Dan kedua orang tua Gavin menyetujuinya.
Namun yang menjadi kendala, saat ini kedua orang tua Gavin tengah berada di luar negeri dan baru akan pulang satu minggu lagi. Dan selama satu minggu nanti, apa yang akan dia lakukan? Apakah dirinya masih harus kejar-kejaran dengan Gavin? Sepertinya itu bukanlah solusi yang bagus.
Flashdisk yang Vino berikan, benar-benar sangat bermanfaat untuknya. Sahabat Gavin yang satu itu sungguh membantunya untuk memutuskan hubungannya dengan Gavin. Banyak bukti perselingkuhan Gavin dengan Lina yang berbentuk video dan foto yang bisa menjadi bukti yang akan ditunjukkannya pada orang tua Gavin nantinya.
Seline bahkan dekat dengan kakak Gavin yang bernama David. Namun jika Seline terus mempertahankan hubungan ini, maka Seline pasti sangat mengecewakan mendiang orang tuanya.
"Gavin, andaikan kamu tak jahat kepadaku."
"Kenapa harus aku? Bukankah saat kecil dulu kita pernah berjanji untuk tak saling menyakiti?"
"Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kamu di kehidupanku dulu sudah membunuhku dan mengambil seluruh harta keluargaku. Dan aku hanya akan membalas apa yang telah kamu perbuat dulu padaku."
"Maaf, Gavin, kamu di masa lalu memang sangat manis. Namun kamu di masa kini dan di masa depanku sungguh sangat menakutkan."
__ADS_1
Ceklekk..
Pintu tiba-tiba terbuka. Seline yang semula menidurkan tubuhnya langsung beranjak duduk karena terkejut. Dan saat melihat jika yang masuk adalah sahabatnya, Seline menghela nafas untuk menetralkan keterkejutannya.
"Seline, jam segini lo udah mau tidur?" tanya Lina.
Gadis itu tanpa permisi langsung duduk di sofa yang ada di dekat kasur dan menatap Seline dengan raut wajah biasa saja, seolah keduanya tak memiliki masalah apapun.
Memang benar sih, mereka memang tak memiliki masalah apapun. Itu yang terlihat. Namun baik Seline maupun Lina memiliki rahasia masing-masing.
"Soalnya aku capek banget. Aku habis dari perusahaan." Jawab Seline jujur.
"Tumben?" tanya Lina penasaran.
"Sebentar lagi acara anniversary perusahaan. Makanya aku harus sering-sering mengecek perusahaan."
"Kenapa nggak lo suruh Gavin aja? Lo bisa memanfaatkan tunangan Lo itu. Lagipula Gavin pasti lebih mengerti tentang perusahaan daripada Lo yang nggak tahu menahu tentang hal-hal kayak gitu." Ucap Lina berusaha memberikan solusi.
Seline hanya tersenyum, "meski aku nggak tahu apapun tentang perusahaan, aku masih bisa belajar. Di sana juga banyak karyawan yang sayang dan mau membantu aku. Jadi aku nggak mau merepotkan siapapun."
Lina menggeleng tak habis pikir. Dia tak menyerah untuk mencoba, "Lo yakin? Nanti kalau ada rapat penting gimana? Kamu bisa handle? Pegang perusahaan itu nggak gampang loh. Meski perusahaan orang tua lo nggak besar, tetap aja pasti bakalan sulit buat lo handle sendirian."
"Ada Gavin. Ada gue. Lo bisa manfaatin kita kok. Kita kan udah kenal dari lama. Jadi gue dan Gavin dengan senang hati bantu kok kalau lo mau." Bujuk Lina.
Seline menyeringai, kenapa dulu dia tak sadar hal ini? Lina dan Gavin memang akan terus membujuknya seperti ini. Sampai dirinya dengan mudah memberikan apa yang mereka minta.
"Lina, kenapa kamu pengen banget masuk ke perusahaanku? Rosell baik-baik aja kok. Ada mbak Karin dan karyawan lain. Jadi aku nggak kesulitan meski aku nggak ada basic pegang perusahaan sebelumnya."
__ADS_1
Seline terus memperhatikan gerak-gerik Lina. Kasihan sekali, pasti Lina saat ini tengah berusaha menahan amarahnya karena Seline yang tak lagi bisa dikendalikan. Sedangkan Seline masih mempertahankan senyumannya seolah-olah gadis pirang itu tak tahu apapun.
"Ehemm.. Sel, lo lagi ada masalah ya sama Gavin? Tadi di kampus Gavin nyari-nyariin lo. Dia kayak marah gitu sama Lo. Emang kalian ada masalah apa sih?" tanya Lina mencoba mengalihkan pembicaraan.