Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Mencari pembantu


__ADS_3

"Lo tadi katanya ke toilet, kok nggak balik ke kelas?" tanya Jenni.


Saat ini, Seline, Jenni, Vino dan Lily sudah berada di kantin. Sedangkan teman-temannya yang lain, sepertinya kelas mereka belum usai. Mereka memang berjanji untuk selalu istirahat dan makan bersama di kantin jika ada waktu. Dan jika tak memiliki waktu kosong karena kesibukan kuliah, mereka akan mengabari melalui grup chat.


Menghela nafas panjang, "perutku tadi sakit. Makanya aku males banget balik kelas."


"Lagi datang bulan?" tanya Lily.


"Yap. Begitulah." Jawab Seline.


"Kenapa tadi nggak bilang? Gue kan bisa beliin Lo obat nyeri." Jenni mulai mengomel.


"Aku nggak apa-apa kok. Sekarang juga udah mendingan." Jawab Seline seadanya.


"Apa nggak sebaiknya Lo ijin pulang aja?" tanya Vino, satu-satunya laki-laki yang duduk di sana.


"Nggak perlu. Gue beneran udah baikan." Ujar Seline.


"Oh iya, aku bisa minta tolong nggak?" Lanjut Seline.


"Minta tolong apa?" tanya Lily antusias.


Pasalnya meski mereka berteman dan Lily udah menganggap Seline sebagai sahabatnya, Seline jarang sekali terbuka padanya. Seline lebih percaya dengan Lina daripada dia maupun Jenni.


"Emm.. aku butuh pembantu sama sekuriti buat rumahku. Kira-kira kalian punya kenalan nggak?"


"Aku sih pingin punya sekuriti yang sekalian bisa dijadikan sopir." Lanjut Seline.


"Lo butuh berapa orang?" tanya Jenni.


"Satu pembantu perempuan sama satu sekuriti aja, udah cukup kok." Ujar Seline.


Lagipula rumah Seline tidak besar hingga membutuhkan banyak pembantu. Satu pembantu saja sudah cukup sebagai teman Seline membersihkan rumah. Dan untuk makan, Seline bisa memasak sendiri. Dia sudah terbiasa melakukan apapun sendiri sejak orang tuanya meninggal satu tahun yang lalu.


"Gimana kalau Lo ambil salah satu pembantu gue? Mama gue juga nggak bakal keberatan kok kalau salah satu pembantunya Lo ambil." Ujar Lily memberi solusi.


Seline menggeleng, "Eh.. nggak perlu. Aku cari pembantu yang biasa aja. Lagipula aku hanya bisa kasih gaji secukupnya." ujar Seline yang merasa tak sanggup jika harus menggaji pembantu seperti orangtua Lily. Karena Lily adalah anak orang kelas atas, tidak seperti dirinya yang hidup di kelas menengah.


"Santai aja kali. Nanti biar mama yang tetap gaji tuh pembantu seperti biasanya. Jadi Lo nggak perlu bingung tentang gaji, gimana?" tanya Lily yang masih tak menyerah.


Seline menggeleng. Ayolah, dia tak ingin memanfaatkan sahabatnya. Lily memang baik. Sejak dulu gadis berponi itu memang sangat baik pada semua orang. Tapi Seline malu. Dia dulu tak mempercayai kebaikan Lily dan Jenni hingga membuatnya hanya mempercayai Lina seorang.


"Kalau gue boleh kasih saran nih." Vino memulai percakapan.


"Gue ada kenalan yang lagi butuh pekerjaan. Dia suami istri. Biasanya emang kerjaannya jadi pembantu dan supir. Kalau Lo mau, gue bisa kenalin ke mereka."


"Lo nilai dulu deh. Soalnya mereka emang udah berumur. Tapi kalau masalah kesetiaan, mereka benar-benar bisa ngejalanin amanah dengan sangat baik." Ujar Vino sudah mirip seperti seorang sales yang tengah mempromosikan produknya.

__ADS_1


Seline nampak berpikir, haruskah dia mempercayakan masalah pembantu pada Vino? Mengingat Vino masih abu-abu baginya. Vino adalah sahabat Gavin. Meski dia sudah kenal Vino sejak zaman SMA, tapi tak dapat dipungkiri jika Vino bisa saja menjadi "orang" Gavin.


"Emm.. oke. Tapi aku lihat-lihat mereka dulu ya, cocok atau enggak sama kriteria dari aku." Ujar Seline.


"Sip. Nanti gue kasih tahu kapan mereka bisa nemuin lo secepatnya." Final Vino.


Mereka melanjutkan makan siangnya. Tak lama, Lina, Gavin dan Marvin ikut bergabung bersama mereka. Gavin bahkan langsung menyuruh Jenni pindah dan mulai duduk di sebelah Seline hingga membuat Jennie mengumpati Gavin dengan mengatakan jika Gavin seorang budak cinta.


Ah, andaikan saja Jenni tahu apa yang terjadi sebenarnya.


......................


"Jadi gadisku tengah membutuhkan seorang pembantu dan supir sekaligus sekuriti?" tanya seseorang dari balik telepon.


"Ya, Tuan."


"Baiklah, besok pagi salah satu pembantu dan bodyguard milikku akan datang ke rumahnya."


"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan." Ujar sang pria.


"Bagus. Ada lagi berita penting tentang gadisku?" tanya sang majikan dari balik telepon.


Sang pria nampak berpikir, "saya tidak tahu ini penting atau tidak. Tapi saya tak sengaja melihat jika Nona tengah menangis di sebuah taman yang sepi saat kelasnya berlangsung."


"Menangis?! Apakah ada hubungannya dengan tunangannya yang brengsek itu?"


"Hahhh.. ya sudah. Terus awasi gadisku. Kalau bisa, cari tahu apa yang membuatnya menangis sendirian."


"Baik, Tuan. Akan saya usahakan."


Panggilan pun berakhir. Sang pria hanya bisa menghela nafas panjang. Setelah itu dirinya keluar dari gudang sepi itu dan melangkah seperti biasanya.


......................


"Mau mampir makan dulu nggak, Sayang?" tanya Gavin menggenggam tangan Seline.


"Langsung pulang aja. Perutku masih nggak nyaman." Jawab Seline.


"Baiklah."


Gavin mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Sayang." Panggil Gavin pada Seline yang sedari tadi sibuk menatap keluar jendela.


"Ya?" jawab Seline tanpa minat.


"Gimana kalau kita tinggal bersama?"

__ADS_1


Seline refleks menoleh dan menatap Gavin yang juga tengah meliriknya saat ini.


"Kenapa ngajak aku tinggal bersama?" tanya Seline.


"Aku baru aja di kasih apartemen baru sama papa. Dan papa bilang apartemen itu untuk kita berdua." Ucap Gavin.


"Jadi, mau ya, tinggal berdua sama aku?"


"Lagipula sebentar lagi kita akan menikah, tidak ada salahnya kan mencoba tinggal bersama lebih dulu? Sekalian belajar hidup berdua." Lanjut Gavin mencoba membujuk Seline.


Seline ingat percakapan seperti ini terjadi persis seperti dahulu. Dulu Gavin juga memintanya tinggal bersama dengan alasan yang sama, belajar hidup berdua sebelum menikah.


Jika dulu, Seline dengan senang hati menerima ajakan Gavin. Bahkan malam harinya, Seline langsung pindah ke apartemen milik Gavin tanpa basa-basi.


Dulu Seline memang tak tahu jika saat sudah tinggal di apartemen Gavin, pria itu malah meminta untuk menjual rumah Seline. Tapi kini Seline sadar jika dia menuruti saran Gavin untuk tinggal bersama, dia akan kehilangan rumah peninggalan orang tuanya.


"Maaf, Gavin. Tapi kita tidak akan pernah menikah. Jadi kita tidak perlu melakukan simulasi menjadi suami istri dengan tinggal bersama."


"Maaf, Sayang." Ujar Seline.


"Tapi aku nggak mau ninggalin rumah milik orang tuaku. Kita bakal tinggal bersama kalau sudah menikah." Lanjutnya.


Ssrrrtt!!!


Mobil tiba-tiba berhenti karena Gavin mengerem secara mendadak. Beruntung keduanya memakai sabuk pengaman sehingga kepala keduanya tak ada yang terbentur.


"Seline, nggak usah sok suci!"


"Lagipula meski kita tinggal berdua, gue nggak bakal sudi sentuh barang bekas pria lain." Desis Gavin.


Seline terkejut dengan aura yang dikeluarkan Gavin. Jujur, dia takut. Dia hanyalah gadis kecil yang diberikan kesempatan hidup dua kali oleh Tuhan. Tapi tetap saja, dirinya hanya sendirian di dunia sebesar ini.


"Emm.. b-bukan begitu, Sayang."


"Kamu tahu kan kalau aku nggak pernah jauh dari rumah itu? Aku hanya tidak siap buat ninggalin rumah yang udah sejak bayi aku tempati. Terlalu banyak kenangan di rumah itu bersama kedua orang tuaku."


"Sayang, kamu ngerti kan ketakutanku?" Tanya Seline berusaha menunjukkan muka seimut mungkin. Berharap pria itu akan luluh dengan tatapan matanya.


Gavin menghela nafas panjang, "Baiklah. Tapi sebagai gantinya, besok kita makan malam di luar. Nggak ada penolakan!"


Seline sontak mengangguk mengerti. Dirinya harus memikirkan langkah apa yang akan dilakukannya besok mengingat jika saat makan malam terjadi, Gavin akan meminta sesuatu hal yang lebih dari sekedar tinggal bersama.


Begitulah menurut ingatannya dahulu.


"*Ayolah, Seline. Berpikirlah."


"Tuhan, beri aku kekuatan untuk bisa mempertahankan apa yang diberikan orang tuaku*."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2