Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Maaf, Tante Mila


__ADS_3

Seline menatap pantulan wajahnya berulang kali untuk memastikan penampilannya malam ini. Gadis pirang itu merapikan sedikit lipstiknya setelah itu menghela nafas panjang. Jujur saja, dia gugup sekarang. Apakah keputusannya benar-benar sudah tepat?


"Nona, kita sudah sampai."


Pak Anton berucap setelah berhasil menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran mewah. Dia menatap nonanya melalui spion kaca dan melihat jika Seline tengah mengatur nafasnya berulang kali.


"Haruskah kita kembali pulang saja, nona?" tanya pak Anton.


"Enggak, pak. Nggak usah."


"Setelah Seline masuk ke restoran, pak Anton bisa tunggu Seline nggak?" pinta Seline.


"Tentu, nona. Saya akan menunggu di sini. Jika di dalam sana terjadi sesuatu, anda bisa menghubungi saya."


"Huhh.. baiklah. Sepertinya aku harus segera masuk."


Seline segera membuka pintu mobilnya dan melangkah masuk ke dalam restoran itu. Bukannya Seline takut, tapi dia hanya tengah berusaha menyusun kata-kata yang akan dia ucapkan nantinya. Melawan satu keluarga yang selama ini sudah dekat dengan keluarganya? Ingatkan dia jika dirinya kini hanyalah seorang gadis yatim piatu yang powernya ada jauh di bawah keluarga Ganendra.


Ahh.. sepertinya dia harus menghubungi Lily jika nantinya dia kesulitan saat berhadapan dengan keluarga Ganendra. Bagaimanapun caranya, dia harus memutuskan pertunangannya malam ini. Begitulah pikir Seline.


"Mari nona, saya antarkan ke kursi Anda." ucap salah satu pelayan dengan sopan.


Gadis pirang itu segera mengikuti pelayan dengan langkah pastinya. Terlihat jika keluarga Ganendra telah menunggu kedatangannya. Bahkan kak David juga berada di sana. Saat melihat Tante Mila tersenyum, secara refleks Seline pun ikut tersenyum.


"Akhirnya tante bisa ketemu kamu. Tante kangen banget sama kamu."


Tante Mila memeluk Seline terlebih dahulu. Dan mengajaknya segera duduk di kursi kosong itu. Sayangnya kursi itu tepat di sebelah Gavin.


"Gimana kabar kamu, Seline?" tanya om Heru ramah.

__ADS_1


"Baik, om. Tante sama om sendiri gimana kabarnya selama di Malaysia?"


"Baik kok. Perusahaan di sana juga udah mulai berkembang. Makanya om sama tante bisa balik ke sini."


Seline mengerti. Ganendra memang memiliki sebuah perusahaan besar yang sudah menguasai hampir seluruh Asia. Dan dua bulan yang lalu kedua orang tua Gavin harus mengatasi cabang perusahaan mereka yang ada di Malaysia.


Beralih menatap anak sulung keluarga Ganendra, Seline mulai menyapa pria itu.


"Kak David, kabar kakak gimana? Kok kak David jarang banget menampakkan diri." tanya Seline berusaha mencairkan suasana.


Dia tahu suasana kali ini sangat menegangkan. Tak ada candaan yang seperti biasanya keluarga itu lakukan. Dan wajah tegang mereka terekam jelas di wajah mereka. Mungkin karena berita tadi pagi yang menggemparkan sudah mulai terekspos dan sudah dibaca keluarga Ganendra.


Tapi tak apa, itulah yang memang dia rencanakan. Bagi Seline, hukum sosial jauh lebih memalukan daripada apapun. Setidaknya dengan begini, dia tak harus marah-marah seperti orang gila di depan Gavin dan Lina. Karena dia sadar, jika secara kekuatan dirinya memang kalah jauh. Gavin pria yang kuat, bukan?


"Maaf, Seline. Kakak akhir-akhir ini sibuk banget. Kamu tahu kan kalau kakak yang bertanggung jawab dengan perusahaan selama papa sama mama nggak ada?"


Seline mengangguk mengerti. Tak lama, seorang pelayan datang membawakan beberapa hidangan mewah. Mereka pun mulai makan tanpa banyak kata. Benar-benar sangat canggung.


Gavin merasakan sebuah tangan lembut menyentuh pipinya refleks menoleh. Dia melihat jika Seline lah yang menyentuh pipinya. Pandangan mereka bertemu. Entah kenapa, pandangan mata Seline selalu menyejukkan hatinya.


Tak seperti saat menatap Lina, Seline selalu mampu mendinginkannya hanya melalui tatapan mata gadis itu. Namun tak lama, gadis pirang itu segera menjauhkan tangannya dan kembali menyantap makanannya. Jujur, hatinya merasa kosong saat tangan lembut itu menjauh. Kenapa dia baru menyadari hal ini sekarang? Kenapa dia harus tergoda dengan sesuatu yang membara dan membuatnya mengkhianati penenangnya?


Setelah mereka menyelesaikan makannya, Seline mulai menatap satu per satu keluarga Ganendra. Sorot matanya yang semula lembut, kini berubah dingin. Dia harus menyelesaikan masalahnya malam ini juga agar dirinya bisa terus hidup tanpa bayang-bayang kematian dan ketakutannya akan harta keluarganya yang hilang.


"Tante Mila, om Heru, Seline ingin berbicara serius."


Semua anggota keluarga Ganendra itu memusatkan perhatian pada gadis pirang itu. Menebak-nebak apa yang akan di bicarakan oleh gadis mungil itu.


"Seline rasa hubungan Seline dengan Gavin sudah nggak bisa dilanjutkan lagi."

__ADS_1


"Seline ingin memutuskan pertunangan ini."


Akhirnya kalimat itu terucap juga. Kalimat yang sudah dia siapkan berjauh-jauh hari. Kalimat yang sudah dia susun sejak dia bangkit dan kembali ke kehidupan keduanya.


"Apa karena berita yang tengah beredar itu, Seline?" tanya om Heru.


"Iya, salah satu alasan Seline ingin memutuskan pertunangan ini adalah berita itu. Jika saja Gavin dan sahabat Seline hanya sekedar berciuman dan berpelukan saja, Seline tak masalah. Tapi jika berhubungan ****, maaf, Seline nggak mau punya calon suami bekas sahabat Seline sendiri."


Anggota keluarga Ganendra hanya bisa menghela nafas berat. Mereka tahu berita yang tengah beredar di luar sana pasti akan mempengaruhi gadis cantik itu. Tapi mereka tak menyangka jika Seline sampai meminta pembatalan pertunangan mengingat Seline sangat mencintai Gavin.


"Seline, tidak bisakah kamu memaafkan anak tante sekali saja?" Pinta tante Mila.


"Tante janji, tante akan didik Gavin supaya anak bungsu tante menjauhi gadis itu dan tak mendekati gadis lain selain kamu." lanjut tante Mila.


"Maaf, tante Mila." ucap Seline langsung.


"Saya tidak yakin Gavin akan menuruti tante karena hubungan Gavin dengan sahabat saya jauh lebih dari itu."


"Maksud kamu?" tanya om Heru.


Seline mengambil ponselnya dan memutar dua video yang telah dia rekam sebelumnya. Video itu berputar memperlihatkan jika Gavin dan Lina tengah membicarakan rencana mereka untuk meminta perusahaan Seline dan video lainnya saat Gavin dan Lina hendak bercumbu dan berbicara kapan meminta Seline untuk menjual rumahnya.


"Seperti yang dijelaskan dalam video ini. Beberapa waktu lalu Gavin memang meminta padaku untuk menjual rumah peninggalan orang tuaku agar uangnya bisa dia gunakan untuk membangun mimpinya. Dan Seline keberatan tentang hal itu." terang Seline.


Om Heru terlihat berusaha keras untuk meredam emosinya. Sementara tante Mila menatap Gavin tak percaya. Dan sang pelaku, hanya mampu tertunduk. Entah menyesal atau memang enggan memikirkan masalah ini.


"Seline, bisa saja kan jika video itu hoaks?" tanya David yang masih bisa berpikir jernih daripada anggota keluarganya.


"Kak David, video ini Seline rekam dengan tangan Seline sendiri. Bahkan Seline melihat semuanya dengan mata Seline. Jika kak David tak percaya, coba tanyakan dengan yang bersangkutan."

__ADS_1


"Bukan begitu, Gavin?" tanya Seline menatap Gavin.


__ADS_2