
Seline menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Dia lelah, malam ini sungguh malam yang sangat melelahkan. Otak kecilnya di suruh berpikir selama semalaman penuh.
Dia...
Dia adalah orang yang menghabiskan malam bersamanya saat itu. Dia adalah orang yang ikut terjebak bersamanya karena rencana Gavin dan Lina. Dan dia adalah orang yang mengambil mahkotanya tanpa sengaja.
Benarkan?
Seline ingat malam itu. Malam dimana dirinya mabuk berat, begitulah pikirnya. Seline dengan lihainya meliuk-liukkan tubuhnya menari bersama ratusan pengunjung club tanpa sadar. Seline bahkan ingat bagaimana dirinya dengan tak tahu malunya menggoda beberapa pria. Persis seperti gadis yang haus belaian.
Sungguh sangat menjijikkan. Beruntung sekali dirinya ditolong oleh salah satu pria asing di sana. Jika tidak, mungkin dia akan menghabiskan malam dengan beberapa pria sekaligus.
Flashback on
"Darling, kamu butuh bantuan kami?" Tanya salah satu pria di sana.
"Eungghh.. iyahh.. badanku sangat panas.." lenguh Seline di bawah pengaruh obat perangsang.
Keempat pria di sana menyeringai senang. Bahkan salah satunya mulai berani menyentuh pundak Seline.
"Baiklah. Kami dengan senang hati membantumu."
"Bagaimana jika kamu ikut kami terlebih dahulu? Kami yakin kamu tak akan kepanasan lagi." Ujar salah satu pria itu.
"Shhh.. baikk.. aku ikut kalian." Rintih Seline merasakan tubuhnya semakin panas tak karuan.
Seline di rangkul oleh dua pria dan dua lainnya berdiri di belakang Seline sambil menyeringai senang karena mendapatkan santapan yang masih fresh.
Saat mereka berjalan ke luar club, mereka dihentikan oleh beberapa pria yang memakai jas hitam. Beberapa pria tersebut langsung memukul dan menghabisi empat pria yang bersama Seline.
Ketika mereka sibuk saling memukul, Seline tiba-tiba saja di seret oleh orang asing. Orang itu membawa Seline ke sebuah hotel tak jauh dari club tersebut. Orang itu memesan sebuah kamar dan mengajak Seline masuk ke dalam kamar.
Orang itu memandangi Seline dengan seksama. Terlihat jelas jika Seline tengah tersiksa oleh hasratnya yang tiba-tiba menggebu.
"Shh... Sentuh.. aku.."
"Akuhh.. inginn di sentuh..."
Seline bahkan langsung merapatkan tubuhnya pada pria itu, dan dengan berani mengecup bibir sang pria dan terus melumatinya. Membuat sang pria ikut membalas ciuman agresif tersebut.
Setelah Seline melepaskan ciumannya, keduanya saling menatap dengan intens. Seline mulai berani menyesapi leher kokoh pria itu. Tangan Seline bahkan sudah menjalar kemana-mana.
Takut terlena, sang pria mulai melepaskan diri dari Seline. Ditatapnya Seline dengan seksama. Jujur saja, pria itu juga tergoda. Tapi dia harus berpikir jernih di saat seperti ini karena keduanya sama-sama orang asing.
"Ugghh.. kenapahh?" Tanya Seline kecewa.
"Kamu yakin ingin melakukan ini? Kelihatannya kamu wanita baik-baik." Tanya sang pria menekan hasrat prianya sebisa mungkin.
"Yah.. ahh.. aku yakin. Tolongghh.. bantu akuhh.. Di sini sangat panashh.." Tunjuk Seline pada area bawahnya yang kini di jepit kuat.
__ADS_1
Pria itu memperhatikan Seline dengan seksama. Pria itu dilema. Haruskah dia memanfaatkan situasi ini dan menerkam gadis itu sekarang juga.
Seline yang tak sabar, menuntun tangan kokoh itu dan mengarahkannya ke area bawah miliknya.
"Shhh... Inihh sangat enakk.."
Seline bahkan menggigit bibir bawahnya merasakan elusan tangan kokoh itu pada miliknya. Membuat siapapun yang melihatnya ikut merasakan gairah yang diciptakan sang gadis.
"Baiklah. Tapi ingat, ini semua adalah keinginanmu. Jadi, bertanggungjawablah."
Setelah mengatakan hal itu, sang pria mulai ikut masuk ke dalam permainan. Dia bahkan dengan agresifnya menyerang Seline. Membuat gadis itu mendesahh tak karuan.
"Ahh.. panggil namaku, Sweetie."
"Ugghh... Andreehh..."
Flashback off
Seline membenturkan kepalanya pada bantal kala mengingat erangan demi erangan yang singgah di kepalanya. Sungguh, dia sangat malu. Bagaimana bisa Seline yang selama ini tak pernah melakukan hal yang aneh-aneh malah bersikap agresif bahkan mampu menggoda sang pria.
"Hahhh... Kamu memang bod0h, Seline."
Seline yang tak ingin berlarut-larut mengingat malam pans itu, kini mulai mengambil ponselnya. Banyak panggilan masuk dari Gavin, bahkan pria itu berkali-kali mengiriminya pesan. Namun Seline tak mengindahkan hal itu, dia malah membuka aplikasi catatan dan membaca catatan yang sempat dia ketik di hari pertama dia hidup kembali.
"Ternyata banyak alur yang mulai berubah." desah Seline.
"Apa mungkin karena aku berusaha mengubah takdirku yang sebelumnya, sehingga beberapa kejadian mulai melenceng?" tanya Seline pada dirinya sendiri.
Flashback on
"Roseline Agatha, kamu melupakanku?" tanya sang pria dengan suara maskulinnya.
"Padahal satu minggu yang lalu kita baru saja menghabiskan malam yang sangat panas di Paris."
Deg..
"K-kamu..."
"Ya, itu aku. Aku adalah orang yang menghabiskan malam panjang bersamamu. Aku adalah orang yang pertama kali dan satu-satunya orang yang membuatmu merasakan nikmat." Ucap sang pria vulgar.
Seline menutup matanya. Rasanya dia ingin menghilang sekarang juga. Bagaimana bisa pria itu ada di sini, di hadapannya? Dia ingin menangis detik ini juga.
Sedangkan sang pria tersenyum memperhatikan setiap tingkah Seline. Dia kembali memundurkan wajahnya dari sang gadis.
"Apa kamu masih tidak ingat? Haruskah aku menceritakan setiap detail yang terjadi pada malam panjang itu?" Goda sang pria.
Seline refleks membuka matanya dan menatap tajam sang pria. "Tidak!"
"Jadi kamu sudah ingat denganku?"
__ADS_1
"Ya, aku ingat. Aku ingat siapa kamu dan apa yang terjadi di antara kita." Jawab Seline langsung.
"Bagus, kalau begitu kamu tentu ingat namaku kan, Roseline Agatha?" tanya sang pria.
Seline ingat. Bahkan Seline tak lupa bagaimana mulutnya malam itu yang dengan lancarnya mendesahkan nama pria itu.
"Ya, aku ingat namamu. Kamu adalah Andrean Dominic Zinchenko."
"Bagus. Jangan pernah lupakan namaku, Sweetie. Karena kita akan sering bertemu setelah ini." Ucap sang pria.
"Akan lebih bagus lagi jika kamu bisa segera memutuskan pertunanganmu dengan pria berandalan itu." Lanjut sang pria dengan penuh tekanan.
"K-kenapa kamu ikut campur urusanku? Bukankah malam itu hanyalah sebatas one night stand saja." Tanya Seline mulai mengeluarkan gagasannya.
"Seharusnya kamu tak ada di sini, di negara ini dan mengurusi kehidupanku." lanjut Seline.
Sang pria itu tersenyum misterius, membuat bulu kuduk Seline meremang. Aura pria itu benar-benar membuatnya tak tenang. Dan Seline belum pernah merasakan perasaan aneh ini, dengan Gavin sekalipun.
"Kamu tak ingat ucapanku malam itu?" tanya Andre.
Andre mulai mendekatkan tubuhnya lagi pada Seline hingga berada tepat di depan Seline.
"Bertanggungjawablah." ucapnya menekan setiap kata.
"Kamu sudah membuat hatiku penuh akan sosokmu. Dan kamu adalah orang yang sedari dulu aku cari selama ini." Lanjut Andre.
Setelah mengatakan itu, Andre mengecup pelan bibir manis milik Seline. Membuat Seline terkejut.
"Kamu tak ingin pulang?" tanya Andre lagi.
Bukan bermaksud mengusir, tapi Andre tak ingin Seline tidur terlalu larut karena dia tahu Seline besok harus kuliah.
"Jika memang kamu tak ingin pulang, bagaimana kalau kita ke rumahku saja dan menghabiskan malam panjang sambil mengingat panasnya malam itu?"
Seline langsung tersadar. Gadis pirang itu langsung melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Bahkan Seline berlarian masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
Membuat Andre terkekeh gemas melihat setiap tingkah Seline. Gadis itu benar-benar membutakan matanya. Karena bagi Andre, Seline adalah segalanya untuknya.
Flashback off
...****************...
**Cast Unlocked
ANDREAN DOMINIC ZINCHENKO**
...**28 TAHUN...
__ADS_1
PRIA YANG MENGHABISKAN MALAM BERSAMA SELINE**