Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Rencana pertama


__ADS_3

Seline melepaskan genggaman Lily membuat Lily dan Jenni menatap heran.


"Aku rasa kita nggak perlu kabur." Seline menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Lagipula bukan aku kan yang salah?"


"Ah iya, benar juga. Kan lo juga udah bilang sama kita kalau lo udah tahu perselingkuhan itu." ujar Lily mengingat-ingat pembicaraan terakhir di cafe.


Keduanya menghela nafas panjang. Mereka lupa jika Seline sendiri bahkan memiliki bukti yang jauh lebih "hot" dari sekedar percumbuan kedua orang tak tahu diri itu. Mungkin karena Lily dan Jenni yang syok karena tiba-tiba muncul berita tentang sahabatnya di pagi hari yang cerah ini.


"Sorry, Seline. Gue nggak ingat sama sekali tentang rencana lo." sesal Jenni.


"it's okay."


"Kalau gitu, bagaimana jika kita ke kantin? Aku belum sarapan nih." Ajak Seline sambil membayangkan akan membeli apa di kantin nanti.


"Ayo!"


"Let's go!"


Ketiga gadis itu berlalu pergi dengan tenang meski diiringi bisik-bisik yang membicarakan mereka.


......................


Sementara di sisi lain..


"Kenapa bisa ada berita itu sih, Gavin!" Sentak Lina tak habis pergi.


Pagi harinya yang tenang harus dia lalui dengan cibiran banyak orang yang mengatainya sebagai pelakor. Wajahnya benar-benar malu kala mengetahui jika fotonya dengan Gavin yang tengah berciuman mesra di sebuah klub malam terpampang dengan jelas. Apalagi caption berita yang beredar, seolah menyudutkan dirinya jika dialah yang salah karena menjadi pelakor yang tak tahu malu.


Padahal bukan dia yang salah. Dia sudah menjalin hubungan kekasih dengan Gavin lima bulan sebelum Gavin dan Seline bertunangan. Meski saat itu dirinya berhasil mendapatkan Gavin ketika Seline menjadi kekasih prianya. Dia tak salah kan? Toh saat itu Gavin masih berstatus sebagai kekasih Seline.


"Gue juga nggak tahu, Lina!" Sentak Gavin tak kalah pusing.


Bagaimana tidak pusing. Dia saat ini masih berusaha mendapatkan harta tunangannya malah sudah dihadapkan dengan berita perselingkuhannya. Entah siapa orang yang tengah bermain-main dengan dirinya. Yang pasti, dirinya akan mencari tahu karena telah berani mengganggunya.


"Terus kita harus ngapain, Gavin! Lo harus cari cara dong jangan diam aja!" Sentak Lina yang menambah emosi Gavin. Tak tahukah gadis itu jika Gavin kini juga tak kalah pusing sepertinya?


Gavin yang tak bisa menahan amarahnya, kini langsung mencekal bahu Lina. Gadis itu langsung meringis kesakitan merasakan kekuatan tangan Gavin.


"Bisa diam nggak?!"

__ADS_1


"Ini semua juga karena lo! Seandainya dulu nggak nyuruh gue buat terus mempertahankan Seline. Seandainya lo nggak nyuruh gue buat terima perjodohan keluarga gue. Dan seandainya lo nggak nyuruh gue buat ambil harta Seline, ini semua nggak akan terjadi!"


"Lo nyalahin gue?!" Tanya Lina tak terima.


Gadis itu dengan berani menepis cekalan Gavin dan menghempaskannya begitu saja. "Lo nggak ingat, lo juga ikut andil selama ini!"


"Lo juga butuh duit banyak kan buat rencana usaha lo itu!" Tunjuk Lina pada Gavin.


"Dan kalau bukan karena Lo kecanduan sama tubuh gue, lo pasti masih sama gadis polos itu. Lo bahkan nggak berani nolak perjodohan sialan itu karena lo nggak punya keberanian besar menentang keluarga lo. Ya kan?"


Gavin geram. Dia memang ikut andil dalam perselingkuhan ini. Dia tak seberani itu untuk menentang keluarganya sendiri. Dan dia juga butuh banyak uang untuk usahanya dan impiannya.


"Gue pergi!" Final Gavin.


Jika dengan Lina dia merasakan panas membara, tapi jika bersama Seline dia selalu merasakan ketenangan. Kenapa dia baru menyadari hal itu?


"Gavin, kita belum selesai bicara!" Teriak Lina berusaha menghentikan langkah kekasihnya.


"Aisshh....!!"


Lina meraup wajahnya frustasi. Semua ini gara-gara berita yang tersebar itu. Jika saja bukan karena berita itu, otomatis dia tak akan menjadi bahan gunjingan orang-orang. Harus apa dia sekarang ini?


......................


"Seline, lo mau gue menyebarkan video lainnya?" tanya Vino.


Kini Seline tengah berbicara berdua dengan Vino. Membahas perihal flashdisk yang diberikan Vino padanya. Flashdisk yang membuatnya memiliki kekuatan untuk segera melepaskan diri dari cekalan Gavin.


"Enggak perlu. Nanti saja kalau keadaan semakin memanas." Jawab Seline santai.


"Ngomong-ngomong, kamu dapat semua itu dari mana?" tanya Seline penasaran.


Vino tersenyum misterius. "Ada deh. Yang pasti bukti-bukti itu sangat bermanfaat buat lo kan?"


"Ya benar. Bahkan aku nggak nyangka kamu bisa dapatkan hal yang jauh lebih menjijikkan." ucap Seline bergidik ngeri membayangkan salah satu video yang sempat dia lihat.


"Apa sih yang gue nggak bisa." Vino tertawa remeh.


"Bahkan gue bisa tahu apa yang dilakukan presiden kita saat ini." lanjut Vino.


Seline tertarik. Mungkinkah pria dihadapannya ini seorang peretas handal? Lalu bisakah dia minta tolong sekali lagi pada Vino.

__ADS_1


"Benarkah? Kamu seperti peretas saja." Puji Seline.


Seline mulai menatap Vino dengan serius, "kalau gitu aku bisa minta tolong satu lagi nggak?"


"Apapun bayaran yang kamu minta, tak masalah bagiku. Aku akan mengusahakannya."


"Memang apa yang lo butuhkan?" tanya Vino tertarik.


"Kamu tahu kan kejadian saat aku menghilang setelah kita pesta di sebuah club malam di Paris waktu itu?"


Melihat Vino mengangguk, Seline memutuskan untuk mengutarakan permintaannya. Dengan penuh keberanian, dia membuka aibnya sendiri pada Vino yang selama ini tak terlalu dekat dengannya.


"Waktu itu sebenarnya aku berakhir di sebuah kamar hotel dengan seorang pria asing. Kami melakukan one night stand saat itu."


"Mungkin waktu itu aku berpikir jika kami memang sama-sama mabuk, sehingga kami tanpa sengaja melakukan hal itu."


"Tapi sekarang aku tahu. Saat itu aku dijebak oleh Gavin dan Lina. Gavin memberiku obat perangsang dalam minumanku hingga membuatku persis seperti gadis yang haus akan belaian." jelas Seline panjang lebar.


"Saat itu kalian pakai pengaman?" tanya Vino penasaran.


Seline sebenarnya malu menceritakan hal sensitif seperti ini. Apa yang akan Vino pikirkan tentangnya? Tapi dia harus membuang rasa malunya karena ada hal yang lebih penting yang harus dia selesaikan sebelum memutuskan pertunangannya.


"Tidak. Kami tidak memakai pengaman sama sekali."


"Tapi Gavin bilang jika selain memasukkan obat perangsang, dia juga memasukkan obat anti hamil secara bersamaan. Sehingga aku tak perlu takut apapun."


Vino mengangguk mengerti, "lalu apa yang ingin aku lakukan untukmu?"


"Saat kejadian malam itu, Gavin dan Lina sempat memiliki foto kami dan beberapa foto dan video saat aku berdekatan bersama beberapa pria asing. Bisakah kamu mendapatkan bukti-bukti itu?" tanya Seline.


Seline ingat foto apa saja yang mereka sebarkan saat pertengkaran mereka terjadi. Foto-foto lain selain fotonya yang tengah memasuki hotel dengan Andre. Ah, beruntung sekali dirinya bisa mengulang waktu dan membalas semua perbuatan mereka yang membuatnya malu di masa lalu.


"Oke. Aku setuju."


"Tapi kamu janji kan kalau aku boleh meminta apapun sebagai bayaranku?" tanya Vino misterius.


"Call. Apapun yang kamu minta akan aku usahakan nantinya."


Keduanya berjabat tangan menandakan jika mereka telah setuju.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2