
"Ngapain kamu ada di luar kelasku? Perasaan fakultas seni ada di gedung sebelah." tanya Seline heran melihat salah satu sahabatnya ada di depan kelasnya.
"Gue males ke kantin sendiri."
Kebiasaan. Setelah menjadi sedikit dekat dengan mantan sahabat Gavin ini, Seline menyadari jika pria bertato itu sering malas untuk melakukan apapun sendirian.
"Emang Marvin kemana? Biasanya kan kamu sama dia?" tanya Seline lagi.
Keduanya berjalan beriringan menuju kantin. Seline sudah mendapatkan chat dari Lily jika gadis itu juga baru sampai di kantin. Sedangkan Jenni, dia tidak masuk kuliah hari ini.
"Dia nggak masuk."
Seline mengangguk saja. Sesekali gadis itu menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya. Semenjak berita tentangnya viral, banyak sekali mahasiswa yang tak dikenalnya tiba-tiba menyapanya dan menatapnya iba. Terutama perempuan. Banyak yang simpati padanya.
Sejujurnya Seline tak menyangka jika efeknya akan sebesar ini. Dia tak tahu jika mendapatkan simpati dari banyak orang adalah salah satu efek dirinya menyebarkan video panas itu.
"Seline."
Seline mendongak menatap Vino yang kini tengah berhenti melangkah dan menatapnya. Sejak kapan pria ini berdiri di depannya? Untung saja dia ikut berhenti, jika tidak pasti dirinya menabrak tubuh kekar Vino.
"Gue mau minta hadiah gue."
Seline mengangguk. Mungkin sekarang saatnya dia membalas kebaikan yang Vino berikan untuknya. Meski seandainya apa yang minta Vino sesuatu yang sangat mahal, dia akan berusaha memenuhi hadiah itu.
"Oke. Kamu minta apa? Apapun yang kamu minta, aku akan berusaha mengabulkannya."
Vino tersenyum tipis, "Apapun?"
"Ya. Apapun." Jawab Seline tanpa ragu.
......................
Sementara di sisi lain...
"Bukankah itu Seline dan Vino?" gumam Lily.
Lily saat ini sudah berada di kantin. Saat matanya melihat sekeliling, gadis poni itu tak sengaja melihat Seline dan Vino berjalan ke sini. Satu hal yang Lily sadari, hoodie yang dikenakannya terlihat sama seperti yang Vino kenakan. Membuat Lily seketika tersipu.
"Ini kan hoodie dari Seline. Kenapa Vino juga punya?" tanya Lily pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa mungkin sebenarnya hoodie ini dari Vino?"
"Ah, tidak mungkin."
"Apa Seline berusaha menjodohkan kami berdua dengan membelikan barang couple untukku dan Vino?"
"Sepertinya opsi yang kedua jauh lebih masuk akal." gumam Lily.
Lily berusaha menebak-nebak kenapa dia **mendapatkan hoodie yang sama seperti milik Vino. Tentu saja dengan raut bahagia. Dia sudah lama sekali memendam perasaan untuk Vino. Bahkan dia rela menolak beberapa pria yang mencoba untuk mendekatinya.
Namun rasa bahagia yang Lily** miliki perlahan memudar kala melihat Vino dan Seline tengah berbicara berdua. Lily merasa jika dua sahabatnya itu terlalu dekat. Dan jujur saja, dia sangat cemburu. Menurutnya, akhir-akhir ini Seline dan Vino terlihat semakin dekat.
Lily segera mengalihkan pandangannya dan mencoba mengatur ekspresinya kembali. Dia pun segera melangkah untuk memesan beberapa makanan guna mengalihkan pikirannya. Dia ingin mengenyahkan segala pemikiran di kepalanya.
Jika memang Seline dan Vino memiliki hubungan yang lebih dari sekedar sahabat, Lily rasa dia harus merelakan perasaannya. Setidaknya dia tak ingin menghancurkan kebahagiaan sahabatnya meski dia yang lebih dulu memiliki perasaan pada Vino.
Lily menoleh saat tiba-tiba lengannya dirangkul seseorang. Ternyata sahabat yang dipikirkannya itulah yang memanggilnya. Lily mencoba menampilkan senyum manis seperti biasanya.
"Kenapa, Seline?"
"Kamu pesan apa?" tanya Seline memeluk lengan Lily.
Seline mengangguk. "Kata Vino, Marvin emang nggak ada jadwal hari ini. Dan Jenni juga nggak masuk."
"Kalau gitu, Lily tunggu aja di meja. Biar aku yang bawa pesanan kita." Titah Seline.
"Nggak perlu. Mending kamu aja yang duduk duluan." tolak Lily.
"Nggak mau. Kita tunggu berdua aja di sini. Biar Vino duduk sendirian."
Lily mengangguk saja. Keduanya terus berceloteh seperti biasanya sambil menunggu pesanan mereka. Tak ada yang mencurigakan, baik Lily dan Seline tak menceritakan hal-hal yang menyangkut Vino.
......................
"Duh.. capek." keluh Seline.
Gadis pirang itu menidurkan tubuhnya yang terasa lelah. Kenapa semakin hari tugasnya semakin banyak? Belum lagi masalah di perusahaan. Untung saja pak Aldo sudah kembali bekerja. Jika tidak, Seline tak yakin dapat menghandle Rosell yang sebentar lagi akan melaunchingkan produk baru.
Seline menatap langit-langit kamarnya. Mencoba menerawang kembali kenangan yang dia miliki. Di saat sepi seperti ini, entah kenapa tiba-tiba saja dia teringat masa lalunya.
__ADS_1
"Ibu, ayah, sekarang Seline mengerti alasan kalian langsung tidur setelah pulang bekerja. Ternyata hidup memang semelelahkan itu."
"Ibu, bukankah Seline hebat? Seline bisa menjauhkan Gavin dari harta kita."
"Kali ini tinggal Lina saja. Bisakah Seline menjauhkan Lina juga?"
"Ibu, sebenarnya apa salah Seline hingga sahabat yang aku miliki tiba-tiba menyerang Seline? Bisakah ibu memberi petunjuk?" ucap Seline sambil menerawang jauh.
Hening. Tak ada jawaban apapun atas pertanyaannya. Seline segera beranjak dari kasurnya dan melangkah menuju kamar mandi. Sepertinya mandi dengan air hangat bisa membuatnya rileks.
Dia harus tetap semangat agar Tuhan tak menyesal memberikannya kesempatan kedua. Begitulah pikir Seline.
Tak lama setelah kamar mandi di tutup, pintu kamar Seline terbuka. Andre melangkah masuk ke dalam kamar yang didominasi dengan warna baby pink itu dan duduk di salah satu sofa di sana.
Mata pria itu menatap ke arah pintu kamar mandi yang tengah tertutup rapat. Terdengar suara air gemericik di dalam sana menandakan jika Seline tengah mandi.
"Sweetie, jika aku memberikanmu petunjuk tentang sahabatmu itu, akankah kamu bisa tertawa lagi? Aku merindukan tawa manismu yang dulu pernah kamu tunjukkan padaku." batin Andre.
Ya, dia mendengar semuanya. Saat dia ingin menemui gadis pirangnya, Andre tak sengaja mendengar curhatan Seline.
Pria bule itu meneliti sekitar. Matanya tertuju pada sebuah foto yang terpajang di atas nakas. Foto dimana terlihat Seline kecil tengah tersenyum manis menghadap ke kamera memperlihatkan gigi putihnya. Seline terlihat bahagia diapit oleh kedua orangtuanya.
Namun satu hal yang membuat Andre sedikit bingung. Kenapa orang tua Seline di foto itu terlihat sedikit berbeda dengan Seline? Orang tua Seline jauh terlihat seperti orang asia yang memiliki kulit kuning Langsat. Dan juga apa Seline sedari kecil mengecat rambutnya? Mengingat kedua orang tua Seline berambut hitam.
Andre segera mengalihkan perhatiannya kala mendengar pintu kamar mandi terbuka. Dilihatnya jika Seline sibuk mengusap rambut pirangnya mengenakan handuk. Sepertinya gadis itu masih belum menyadari kehadirannya.
"Ehem."
Deheman Andre membuat Seline menghentikan kegiatannya. Matanya memperhatikan sosok pria bule yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya. "Sejak kapan kamu masuk ke kamarku?"
"Baru saja. Butuh bantuan untuk mengeringkan rambutmu, Sweetie?"
Seline menggeleng. Gadis itu melangkah menuju meja rias dan mengambil hair dryer. Saat hendak menyalakannya, tiba-tiba saja hair dryer tersebut berpindah tangan.
Andre dengan santainya mengeringkan rambut Seline tanpa kesulitan. Sementara Seline, gadis pirang itu menatap kegiatan Andre dari pantulan kaca di depannya. Seline memperhatikan bagaimana tangan kekar itu mengelus rambutnya. Seline juga melihat jika Andre tengah fokus mengeringkan rambut basahnya.
"Andre, jika kamu hanya ingin mengulangi malam panas itu, sebaiknya kamu berhenti sekarang. Kamu bisa mencoba mendekati gadis lain karena aku sedang tak ingin bermain-main dengan pria."
Ucapan Seline sangat tajam. Bahkan Andre sejenak menghentikan kegiatannya, namun kembali mengeringkan rambut gadisnya tanpa menjawab apapun. Fokusnya kali ini hanyalah agar rambut pirang gadisnya tak basah lagi. Supaya Seline bisa merasa nyaman.
__ADS_1
...****************...