Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Sebuah Rahasia


__ADS_3

"Gavin nggak mungkin seperti itu. Gavin adalah laki-laki paling baik yang Seline kenal."


Itulah jawaban Seline dulu. Tapi sekarang, pandangan Seline terhadap pertanyaan tersebut berbeda. Seline menyunggingkan senyumannya sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Kalau dia bertindak seperti itu, berarti bukan aku yang salah." Ujar Seline tenang.


"Berarti Gavin hanyalah sampah yang membuang berlian demi sebuah batu biasa. Bukankah aku yang menemaninya sejak lama? Meski hubungan kami baru berjalan selama dua tahun, tapi keluarganya dan keluargaku sudah saling mengenal sejak lama. Lantas alasan apa yang membuatnya bisa berpaling dariku?"


"Memang saat ini keluarga Gavin lebih kaya daripada aku. Tapi, Gavin masihlah berstatus pengangguran dan mahasiswa biasa karena saat ini dia masih minta uang dari kedua orang tuanya." Ujar Seline.


Seline melihat jika Gavin sudah mulai berjalan mendekat ke arahnya, "Lina, Gavin tak mungkin selingkuh dan berpura-pura mencintaiku selama ini."


"Apa untungnya buat dia mengkhianati pertunangan kita? Karena bagi Gavin, aku saja sudah cukup untuk membuatnya betah selama ini."


"Ya kan, Sayang?" tanya Seline pada Gavin yang sedari tadi berdiri di dekat Lina.


Lina terkejut, gadis itu refleks menoleh ke belakang dan melihat jika Gavin kini berjalan dan mendudukkan dirinya di bangku sebelah Seline.


"Tentu saja. Untuk apa aku mencari gadis lain jika aku sudah memiliki tunangan secantik dan semanis dirimu." Puji Gavin.


Seline mendadak mual mendengar kebohongan Gavin. Tapi dia tak mungkin menunjukkan raut tak sukanya untuk saat ini. Fokusnya saat ini adalah membuat Lina cemburu agar kedua pasangan pengkhianat itu bertengkar.


"Ya sudah, kalau gitu aku mau balik ke kelas. Sepertinya kelasku sebentar lagi masuk." Ujar Seline.


"Aku antar ya , sayang." Ujar Gavin yang langsung diangguki Seline.


"Gue ikut." Putus Lina mengikuti kedua pasangan itu dan langsung menggandeng lengan Seline erat seakan tak memperbolehkan Gavin berdekatan dengan tunangannya sendiri.


......................


"Aku ke kelasku dulu ya, sayang. Nanti pulangnya tunggu aku. Aku antar kamu pulang." Ujar Gavin.

__ADS_1


Ketiganya sudah ada di depan ruang kelas Seline.


"Oke." Jawab Seline tersenyum.


Seline masuk ke dalam ruangan miliknya. Saat dia duduk di salah satu bangku dekat jendela, dia melihat jika Gavin tengah diseret Lina entah kemana. Tak mau membuang waktu, Seline kembali berdiri dan memutuskan untuk keluar kelas.


"Mau kemana?" tanya Jenni yang kebetulan berpapasan dengan Seline di depan pintu.


"Sebentar. Aku mau ke toilet dulu. Bye." Ujar Seline.


Gadis pirang itu berlari karena takut kehilangan jejak Gavin dan Lina. Seline terus berjalan hingga sampailah di area belakang gedung yang sangat sepi.


Gadis itu bersembunyi di balik tembok dan mendengarkan samar-samar percakapan kedua pengkhianat itu. Seline memutuskan untuk mengambil ponsel miliknya dan merekam keduanya dengan sembunyi.


"Gavin! Lo kok akhir-akhir ini jadi baik sih sama Seline!" Teriak Lina bersedekap dada.


"Lina, Lo tahu kan kalau Gue harus baik-baikin dia sampai berhasil mendapatkan semua hartanya?" Jawab Gavin malas.


"Gue lihat-lihat Lo mulai tertarik sama tuh cewek!"


"Gavin! Mata Lo tuh nggak bisa bohong. Lo mulai ngelihat Seline seperti saat awal-awal kalian pacaran. Dan gue nggak suka itu!" Tekan Lina.


"Terus gue harus gimana? Kalau gue cuek, yang ada Seline bakalan bosen sama gue."


"Lo tenang aja. Setelah gue berhasil dapat seluruh hartanya yang nggak seberapa itu, gue bakalan putusin dia dan nikahin Lo seperti rencana awal!" Lanjut Gavin.


"Beneran? Lo nggak bohong kan?" tanya Lina memastikan.


"Ya. Lo tahu kan gue nggak pernah bohong. Lagipula dari awal itu keinginan Lo kan buat ambil alih perusahaan Seline dan jadiin perusahaan tersebut sebagai mahar pernikahan kita? So, Lo harus sabar. Karena semua itu butuh waktu yang nggak sebentar!" Ujar Gavin.


Lina langsung berlari memeluk Gavin. Dan dibalas oleh Gavin. Sedangkan Seline, gadis itu mulai mematikan ponselnya karena dirasa video yang direkamnya tadi sudah cukup untuk digunakan sebagai bukti nantinya.

__ADS_1


Seline semakin menyembunyikan dirinya kala melihat Lina melangkah pergi terlebih dahulu. Beruntung Lina tak berjalan di dekat persembunyian Seline dan tak mengetahui keberadaannya.


Gadis pirang itu kini melihat ke arah Gavin yang tengah menyalakan sebuah rokok dan menyesapnya perlahan.


"Lina.. kalau saja Lo dulu nggak minta perusahaan keluarga Seline, gue nggak akan bertindak sejauh ini buat dapatin harta keluarga Seline. Gue pasti bakal putusin Seline sebelum pertunangan ini terjadi." Gumam Gavin sambil menatap kepergian Lina.


"Tapi Lo aneh. Cuma karena iri, Lo bertindak sejauh ini. Padahal kalau dipikir-pikir, uang keluarga gue jauh lebih banyak dibanding milik Seline. Harusnya Lo cukup terima cinta gue tanpa harus iri dengan kehidupan Seline." Lanjut Gavin.


Gavin kembali menyesap rokoknya dan tertawa remeh.


"Gimana kalau gue suka lagi sama Seline? Kelihatannya Seline sekarang udah balik kayak dulu. Dan gue lebih suka Seline yang manis kayak sekarang." Gumam Gavin lagi.


"Kan lumayan juga, gue dapat hartanya Seline. Dan gue juga bisa miliki gadis manis buat dijadiin istri. Yah.. meskipun udah nggak perawan lagi gara-gara gue sama Lina bikin jebakan biar Seline tidur sama orang asing kemaren."


Gavin melempar rokok yang sudah habis dan menginjaknya dengan pelan, "Tapi gue bersyukur. Selain gue masukin obat perangsang dalam minuman Seline, gue juga masukin obat pencegah kehamilan dalam minuman tersebut. Jadi meski nggak suci lagi, gue masih bisa miliki Seline. Toh gue juga udah berkali-kali main sama Lina dan cewek lain." Ucap Gavin panjang lebar.


Setelah mengatakan itu, Gavin melangkah pergi menjauhi area belakang yang sangat sepi itu. Meninggalkan Seline yang tengah terisak di balik tembok seorang diri.


Seline tak menyangka, jika One Night Stand yang dilakukannya dulu adalah hasil rencana milik Gavin dan Lina. Seline kira malam itu adalah akibat kesalahannya sendiri yang mabuk-mabukan karena minum minuman beralkohol.


Tapi jika dipikir-pikir sekali lagi, Seline hanyalah minum dua gelas kecil dan dirinya langsung merasa kepanasan. Sedangkan teman-temannya yang lain yang minum banyak tak berakhir tidur di hotel seperti dirinya. Teman-teman Seline hanyalah mabuk biasa tak seperti dirinya yang sampai harus kehilangan mahkotanya dalam satu malam saja.


"Lina, aku salah apa sama kamu?"


"Gavin, kenapa harus aku yang kamu targetkan?"


"Hikss.. Apakah kalian berdua benar-benar tak memiliki rasa kasihan sedikitpun denganku? Aku bahkan tak melakukan apapun pada kalian dulu. Aku selalu memprioritaskan kalian berdua karena kalianlah orang yang aku sayangi setelah kepergian orangtuaku."


Seline terus menangisi kejadian yang menimpa dirinya. Apa salahnya? Apa yang di iri kan oleh Lina dari dirinya? Apa??


...****************...

__ADS_1


__ADS_2