Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Hadiah untuk Vino


__ADS_3

"Seline. Gue mau minta hadiah gue."


"Oke. Kamu minta apa? Apapun yang kamu minta, aku akan berusaha mengabulkannya."


"Apapun?"


"Ya. Apapun."


"Kalau begitu, datanglah ke restoran La Roses jam tujuh malam di hari ulang tahun lo nanti."


"Hanya itu?" tanya Seline.


"Tidak. Gue ada permintaan yang tak kalah penting saat Lo ada di sana."


"Apa itu?"


"Apapun yang ditanyakan nantinya, Lo nggak boleh jawab tidak."


"Ha?"


"Seline, apapun yang terjadi di restoran itu nantinya, Lo harus menjawab ya tanpa bertanya. Bisa kan?"


"Gue harap lo bisa melakukan itu. Karena hanya itu balasan yang gue minta dari lo." lanjut Vino.


Di sinilah Seline berada.


Dengan gaun sederhana dan make up tipis, Seline melangkah santai ke sebuah restoran seperti yang di instruksikan Vino. Entah kenapa Vino sampai memintanya untuk datang ke restoran ini di hari ulang tahunnya. Tapi yang pasti, janjinya pada Vino harus dia tepati mengingat pria itu selalu membantunya.


"Mari nona, saya antarkan Anda."


Seline tiba-tiba saja disambut oleh seorang pelayan di depan pintu restoran. Bahkan dia belum menyebutkan apapun, tapi pelayan tersebut seolah mengetahui jika dia hendak menemui Vino.


"Baiklah."


Seline kembali melangkah mengikuti sang pelayan. Gadis pirang itu menatap sekelilingnya penuh kagum. Interior pada restoran ini benar-benar sangat mewah. Terlihat sekali banyak benda berkilauan dan ornamen berkelas menghiasi restoran tersebut. Akan tetapi ada yang aneh, kenapa sang pelayan mengajaknya untuk terus melangkah? Kemana sebenarnya Vino berada? Karena sedari tadi dia tak menemukan presensi pria bertato itu.


"Nona, kita sudah sampai." ucap pelayan.


Seline menatap heran. Karena saat ini dia berdiri di depan sebuah pintu yang menjulang. Tapi kebingungan Seline seketika memudar saat pelayan tersebut mengetuk pintu dan tak lama keluarlah orang yang sedari tadi dia tunggu.

__ADS_1


"Seline, sudah sampai? Gue kira Lo masih di jalan." Gurau Vino setelah menutup pintu tersebut.


"Kan kata kamu harus jam tujuh. Dan sekarang udah jam tujuh." Jawab Seline.


Vino mengangguk, "ya udah, yuk masuk."


Namun sebelum Vino membuka pintu tersebut, Vino kembali menatap Seline. "Ingatkan apa yang gue minta saat itu?"


"Ya, tentu. Aku nggak boleh bilang tidak kan? Apapun yang kamu tanyain nanti, aku harus jawab iya."


Vino menggeleng tak setuju, "no. Hampir tepat. Apapun yang di tanyakan nanti, Lo harus jawab iya."


"Dan bukan gue yang bakal tanya nantinya." lanjut Vino.


"Loh, terus siapa?" tanya Seline bingung.


"Ada kok. Udah yuk, masuk dulu."


Vino segera membuka pintu tersebut. Setelahnya, Vino menyuruh Seline untuk melangkah terlebih dahulu. Gadis pirang itu dengan ragu melangkah maju memasuki ruangan tersebut. Saat sudah sampai di dalam, Vino langsung menutup pintu. Membuat Seline terkejut dan hendak berbalik untuk protes. Namun langkahnya terhenti kala mendengar suara maskulin seorang pria.


"Sweetie.."


"B-bagaimana kamu ada di sini?"


Pria itu tak menjawab. Dia segera berdiri dan mendekati gadis yang masih loading itu. Dengan lembut, sang pria menuntun gadisnya untuk segera duduk. Setelah itu Andre ikut duduk kembali ke tempatnya.


"Sweetie, kamu sangat cantik sekali dengan gaun itu." puji Andre pada gadisnya.


Tak ada jawaban. Tapi Andre memaklumi hal itu melihat raut wajah Seline yang ngebug. Lihatlah, bukankah gadisnya terlihat sangat menggemaskan dengan raut seperti itu? Ingin sekali dirinya mengecup wajah gadis itu.


Seline segera tersadar kala melihat beberapa pelayan mulai masuk dan menyajikan beberapa makanan di hadapannya. Matanya tertuju pada sajian yang sangat memanjakan rasa laparnya. Seolah-olah makanan itu melambai-lambai ke arahnya meminta untuk segera disantap.


Andre yang memang sedari tadi memperhatikan Seline, tahu jika gadisnya saat ini tengah tertarik dengan apa yang ada di atas meja. Beberapa hari selalu menemani Seline, membuatnya hafal jika gadis pirang ini akan selalu menatap penuh memuja saat disajikan makanan enak. Asal makanan itu bukan buah alpukat.


"Sweetie, jangan di makan dulu." Cegah Andre.


Seline yang sudah membuka mulutnya pun menutupnya kembali. Tangannya langsung menaruh kembali makanan yang hendak dia suap dengan sedikit hentakan. Jujur saja, dia tak suka jika kegiatan makannya ada yang menganggu. Meski yang menginterupsinya adalah orang yang mentraktirnya makan.


"Andre.. kenapa aku nggak boleh makan sih?" Rajuk Seline dengan bibir mengerucut sebal.

__ADS_1


"Kalau kamu keberatan bayar ini semua, nggak masalah. Aku bisa kok bayar makanan ini." lanjutnya.


"Bukan begitu, sweetie." Ucap Andre.


"Kamu tunggu sebentar ya." lanjut Andre.


Setelah mengatakan itu, pintu kembali terbuka dan salah satu pelayan membawakan sebuah kue ulang tahun yang sudah dihiasi dengan lilin yang menyala. Juga, ada beberapa pelayan lain yang membawakan hadiah dan bahkan para pelayan tersebut menyanyikan lagu ulang tahun untuk Seline.


Seline tersenyum haru. Meski dia tak tahu siapa yang sudah memberikannya kejutan untuk dirinya malam ini, tapi dia sangat bahagia. Entah Vino ataupun Andre, dirinya sangat berterima kasih atas kejutan ini.


"Sweetie, make a wish dulu ya sebelum meniup lilin." Ucap Andre saat lagu selamat ulang tahun tersebut telah selesai.


Seline segera memejamkan matanya, berdoa seperti yang selalu diharapkannya. Setelah itu dia meniup lilin tersebut dengan sekali hembusan.


Sesudah gadis pirang itu meniup lilin, para pelayan berpamitan untuk pergi dari sana. Menyisakan Seline dan Andre dengan pikiran masing-masing. Seline yang masih berusaha mencerna sekitar, sedangkan Andre yang sedari tadi masih tak berhenti menatap penuh damba ke arah Seline.


"Andre, apakah ini semua kejutan dari kamu?" tanya Seline menatap antusias pada kue yang ada di meja. Jangan lupakan buket bunga mawar yang kini tengah dia hirup dalam-dalam karena Seline sangat menyukai harumnya.


"Tentu saja. Apa kamu suka, sweetie?" Tanya Andre


"Ya, aku suka. Terima kasih, Andre."


"Aku kira kamu udah nggak mau lagi dekat sama aku mengingat pembicaraan terakhir kita yang sedikit tak enak. Aku minta maaf ya kalau perkataanku sebelumnya menyakiti hatimu." Lanjut Seline tanpa sadar jika saat ini dirinya tengah mengungkapkan penyesalannya.


Andre tak menjawab. Pria itu malah bangkit dan berjalan mendekati Seline. Setelah itu, Andre berlutut sambil tangannya menggenggam tangan Seline dengan lembut dan tangan satunya lagi dia gunakan memegang sebuah kotak berisi cincin.


"Roseline Aghata, will you marry me?"


Seline melotot terkejut. Apa-apaan pria di hadapannya ini? Tak ada angin, tak ada hujan, kenapa tiba-tiba pria bule ini melamarnya?


"Sweetie, you are the only queen in my heart. So, will you be mine?" tanya Andre sekali lagi.


Seline hendak menarik tangan yang digenggam Andre. Namun satu kalimat terakhir dari Andre, membuatnya urung melakukan hal itu.


"Pilihan kamu cuma dua, sweetie."


"Yes or Yes."


"So, which one do you choose?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2