
Tokk.. tokk..
"Siapa?" tanya Seline.
Pintu terbuka memperlihatkan sosok wanita paruh baya yang beberapa hari lalu sudah bekerja di rumah ini.
"Nona Seline, ada tamu."
Seline menghentikan aktivitasnya dengan segera. Saat ini dia tengah sibuk menonton drama dari laptop dengan beberapa camilan sebagai temannya.
"Bibi kenal orangnya nggak?" tanya Seline malas. Ayolah, dia sudah terlanjur nyaman dengan posisi seperti ini.
"Maaf, nona, bibi nggak kenal."
Menghela nafas panjang, Seline segera bangkit dari kasurnya dan berdiri di hadapan bibi Lela. "Baiklah, Seline akan keluar. Bibi tolong buatkan minum ya."
"Tentu, non."
Keduanya kini berjalan keluar kamar dengan arah berbeda. Jika bibi Lela pergi ke dapur, maka Seline melangkah ke ruang tamu untuk melihat siapa orang yang telah mengganggu acaranya.
Dan saat ini Seline merasa menyesal telah menemui tamunya. Harusnya dia melanjutkan acara menonton dramanya dari pada harus bertemu dengan pria bule yang tengah tersenyum padanya.
"Tuan Andrean, kenapa kamu ke rumah seorang gadis malam-malam seperti ini?" tanya Seline bersedekap dada.
"Tentu saja karena aku merindukan wanitaku." Jawab Andre tenang.
Seline melotot mendengar jawaban tak terduga pria bule itu. Gadis pirang itu langsung duduk di hadapan pria itu dengan tak santai. "Kenapa kamu bilang aku wanitamu?"
Andre tersenyum tipis, "karena hanya akulah satu-satunya pria yang telah berhasil menjebol kesucianmu. Jadi wajar kan kalau aku bilang kamu adalah wanitaku."
"Ya!" teriak Seline tak terima, malu lebih tepatnya.
Andre tersenyum, ternyata menggoda Seline sangat menyenangkan. Lihatlah matanya yang melotot, hidung kembang kempis, juga telinganya memerah. Sungguh menggemaskan.
"Aku cuma bercanda, sweetie."
"Aku ke sini karena selain merindukanmu, aku ingin memberikan sesuatu untukmu."
Andre mengeluarkan sebuah undangan yang terlihat elegan. "Bacalah."
"Bukankah ini sebuah undangan?" Tanya Seline menyelidik. Tapi dia juga penasaran, sehingga dia segera membaca undangan itu.
"Ini serius?!" tanya Seline memastikan.
"Ya. Jadi bagaimana, kamu mau mencobanya?"
__ADS_1
Undangan yang diberikan Andre adalah undangan acara fashion show yang diadakan di Milan. Itu adalah salah satu acara peragaan busana terbesar di dunia yang tidak semua brand bisa ikut, bahkan hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmati acara tersebut.
Bagaimana perasaan Seline sekarang? Tentu saja sangat bahagia. Ayolah, Rosell hanyalah brand menengah di antara ratusan brand lokal yang sudah mendunia. Dan jujur saja, baru kali ini ada yang melirik Rosell. Meski hanya mengundang Rosell sebagai tamu, tapi Seline sangat senang. Dia yakin akan ada banyak ilmu yang di serap dan relasi yang bisa dia kenal jika dia dan timnya berhasil masuk ke acara bergengsi tersebut.
"Woaahhh...!!"
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan undangan ini?" tanya Seline antusias. Gadis itu bahkan sudah duduk di sebelah Andre, sangat dekat sekali.
Andre menatap dalam gadis pirang itu, "tentu saja aku bisa mendapatkan apapun, sweetie."
Pria bule itu mendekatkan tubuhnya pada Seline membuat keduanya tak berjarak, "jadi, sudahkah kamu mulai mencintaiku?"
"Aku jauh lebih baik daripada tunangan brengsekmu itu. Aku bahkan bisa mendapatkan apapun hanya dengan jentikan jari. Tidakkah kamu tertarik?"
Seline menatap lama pria itu. Saat keduanya dekat seperti ini, Seline bisa merasakan hembusan dari pria dihadapannya ini. Dia dengan penuh rasa penasaran memperhatikan setiap detail wajah sang pria. Bukankah pria dihadapannya ini adalah pria yang sangat tampan? Mata itu, Seline seakan tenggelam di dalam lautan yang sangat luas dan membuatnya ingin sekali lebih lama menatap wajah manly sang pria.
Sedangkan Andre tersenyum tipis melihat jika wanitanya sudah mulai menaruh ketertarikan untuknya. Dengan pelan dia akan mulai mendapatkan hati gadis pirang ini dan menjadikannya miliknya. Tak apa meski sedikit lama, dia hanya ingin menebus keteledorannya dulu karena baru bisa menemui malaikatnya sekarang.
Seline yang sudah tersadar langsung beranjak dari duduknya dan berdiri menjauh. Dengan gugup, dia mengipasi wajahnya yang memanas.
"Aisshh.. apa yang baru saja ku pikirkan?" batin Seline malu.
"Tuan Andre, bisakah kamu pulang saja?" usir Seline.
"Kenapa aku harus pulang?" tanya Andre balik dengan wajah tengilnya.
"Terserahlah. Mau tidur di sini juga nggak masalah. Aku mau istirahat." Pamit Seline yang tiba-tiba berlari dan masuk ke dalam kamarnya.
Setelah berhasil menutup pintu kamarnya, Seline lantas menyembunyikan dirinya ke dalam selimut. Dia terlalu malu. Kenapa hari ini dia begitu berani menatap pria bule itu?
"Hatiku, kenapa kamu begitu murahan? Jangan karena dia tampan, kamu dengan tak tahu malunya malah deg-degan ya. Ingat, jika semua pria selain ayah adalah makhluk brengsek." batin Seline menguatkan hatinya.
Seline terus meyakinkan dirinya jika dia tak akan jatuh ke dalam pesona pria bermata biru itu. Hingga tanpa sadar matanya terpejam dan berakhir tertidur tanpa sempat mematikan laptopnya yang layarnya masih hidup.
Sementara di luar kamar...
"Silahkan, tuan. Ini minumannya."
Andre mengangguk dan dengan tenang meminum secangkir kopi yang disuguhkan.
"Apakah di sini ada kamar kosong yang bisa aku pakai?" tanya Andre.
"Ada, tuan. Jika anda tidak keberatan, saya akan membersihkan kamarnya terlebih dahulu."
Andre mengangguk. Dia penasaran, bagaimana reaksi gadisnya keesokan hari kala mendapati dirinya sudah ada di rumah ini dan menginap semalaman. Akankah gadisnya marah-marah seperti tadi? Ah, membayangkannya saja membuatnya tersenyum senang.
__ADS_1
......................
Seline menatap pantulan dirinya di depan cermin untuk memastikan penampilannya sebelum berangkat ke kampus. Setelah di rasa tak ada yang perlu di benahi, gadis pirang itu segera mengambil tas miliknya juga undangan yang sempat dia terima dari pria bule itu. Dia ingin mampir sebentar ke perusahaannya dan memberitahukan undangan tersebut pada mbak Karin. Biar mbak Karin bisa mengajak salah satu desainer untuk menemani dirinya saat berada di sana.
Gadis pirang itu berjalan ke ruang makan dengan langkah riang. Seakan pagi harinya penuh dengan kebahagiaan. Mungkin Seline sudah lupa apa yang terjadi tadi malam.
"Selamat pagi, bi Lela." Sapa Seline ramah saat berpapasan dengan wanita tua itu.
"Pagi, nona. Saya sudah menyiapkan sarapan di meja makan, nona."
"Benarkah? Terima kasih, bi. Kalau gitu Seline sarapan dulu ya."
Seline melangkah pergi dengan antusias membayangkan makanan apa yang akan dia nikmati pagi ini. Baginya, masakan bi Lela adalah salah satu makanan favoritnya. Membayangkannya saja membuat cacing di perutnya berbunyi seakan mengerti jika minta segera di isi.
Namun langkah Seline memelan kala melihat siluet pria yang nampak tak asing tengah duduk santai sambil minum secangkir kopi seakan tengah berada di rumahnya sendiri.
"Tuan Andrean?" tanya Seline dengan tak yakin.
"Kenapa bisa di sini? Apa aku sedang bermimpi?"
Pria yang merasa terpanggil namanya itu meletakkan ipad-nya dan kopinya secara perlahan. Kemudian pria itu menatap Seline dengan senyuman paling menawan yang dia punya. Seline bahkan hampir pingsan kala melihat senyuman itu di pagi hari namun dia segera menggelengkan kepalanya agar tetap sadar.
"Pagi, ma chérie, tidurmu nyenyak?"
"Ini bukan mimpi?" tanya Seline pada dirinya sendiri.
"Bukan, sweetie. Duduklah terlebih dahulu. Kakimu akan pegal jika terus berdiri seperti itu."
Gadis pirang itu menurut. Dengan pelan dia duduk tepat di depan Andre dan menatap penuh tanya pria itu. "Jelaskan padaku, kenapa kamu bisa ada di rumahku sepagi ini?"
"Sweetie, kamu lupa apa yang kamu katakan padaku tadi malam?" tanya Andre balik. Pria itu dengan tenang mengambilkan nasi pada piring Seline.
"Memang apa yang aku katakan?" tanya Seline memiringkan kepalanya.
Seline mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam. Dan saat perkataannya terakhir kali terlintas di kepalanya, Seline mendelik. Jadi pria ini menganggap serius omongannya? Oh tidak, tak seharusnya dia berbicara tanpa berpikir dulu.
"Tapi kamu tidak tidur di kamarku kan?" tanya Seline penuh selidik.
Andre telah mengambilkan beberapa lauk yang terhidang apik di atas meja untuk Seline. Kemudian dia dengan ramah menatap Seline, "apa kamu ingin aku tidur di kamarmu?"
"Tentu saja tidak!" Teriak Seline panik.
"Hahaha.. tenang saja. Aku tidur di salah satu kamar kosong yang ada di rumah ini."
"Nah.. sekarang makanlah. Kamu tak tertarik dengan makanan yang terhidang ini?"
__ADS_1
Fokus gadis pirang itu berasil teralihkan. Kini dia tak memikirkan apapun dan langsung saja menyantap sarapannya. Membuat Andre tersenyum sambil terus menatap gadisnya tanpa henti.
...****************...