
Seline memutuskan untuk tak masuk kuliah hari ini dengan alasan ingin mengunjungi perusahaannya. Sebenarnya dia juga tak berbohong dengan alasan tersebut meski itu bukanlah alasan utama. Dan alasan utamanya adalah karena dia tak ingin bertemu dengan Gavin terlebih dahulu untuk saat ini.
"Pagi semua!" sapa Seline memasuki salah satu ruangan yang di isi beberapa desainer perusahaannya.
"Selamat pagi, Seline."
Satu persatu mulai menjabat tangan Seline dengan senang. Dan tentu Seline membalasnya dengan penuh senyuman. Setelah sesi ramah tamah, Seline mulai duduk di bangku kosong yang memang dikhususkan untuknya.
"Baiklah. Mari kita mulai."
"Apa ada yang ingin mempresentasikan terlebih dahulu desainnya?" tanya Seline ramah mengingat jika Seline adalah yang termuda di antara yang lain.
Satu persatu mulai menunjukkan desain milik mereka yang memang sebelumnya sudah melalui tahap revisi berkali-kali dengan mbak Karin.
"Bagus, saya suka sekali. Kalian memang desainer terbaik yang dimiliki perusahaan." puji Seline membuat yang ada di sana bernafas lega.
"Seline, apakah kamu juga ingin mempresentasikan desainmu? Bukankah kemarin kamu bilang kalau ingin mencoba ikut juga?" tanya mbak Karin.
Yang lain menatap Seline antusias. Meski Seline belum pernah ikut menyumbangkan idenya, tapi Seline adalah anak dari pendiri perusahaan Rosell. Jadi mereka sangat menantikan ide-ide dari Seline.
"Baiklah. Kalau begitu giliran saya. Jika ada yang kurang berkenan, kalian boleh mengkritik hasil desainku. Tidak perlu merasa sungkan karena kita memiliki misi yang sama, yaitu memajukan brand Rosell supaya lebih dikenal."
Seline mulai berdiri dan mempresentasikan desain-desain baju miliknya. Meski masih pemula, Seline berusaha memberikan yang terbaik saat ini. Seline juga memanfaatkan pengetahuannya dari kehidupan sebelumnya dan mengembangkan apa yang akan menjadi trend nantinya.
"Seline, kebanyakan desainmu fokus kepada wanita karir ya?" tanya salah satu desainer yang sedari tadi memperhatikan, Bu Indri namanya. Desainer yang sudah lama mengabdikan dirinya untuk Rosell.
"Ya. Bukan hanya itu saja. Karena Seline yakin saat ini banyak wanita karir yang kesulitan memadupadankan style fashion yang itu-itu saja."
"Maka dari itu Seline mengadopsi model fashion dari Korea dan China dan mengembangkannya menjadi selera yang pas untuk wanita karir di negara kita."
"Bukankah ini terlalu menantang? Karena selama ini fokus Rosell hanyalah dress dan gaun, bukan kemeja atau blouse dengan setelan celana." tanya salah satu orang yang hadir.
"Bukankah jika lebih menantang akan lebih menarik?" tanya seseorang menimpali.
__ADS_1
"Begini, saya membuat desain ini bukan tanpa alasan. Saya yakin, semakin hari wanita berkarir semakin banyak. Mengingat para wanita juga sudah mulai bosan jika hanya duduk diam di rumah. Maka dari itu, saya ingin membuat desain dengan fokus wanita karir. Saya membuat desain kemeja, blouse dan celana karena ingin menunjukkan jika wanita mandiri juga bisa memakai setelan baju sesuai yang mereka inginkan. Tidak harus memakai rok ataupun gaun dan dress saja." Terang Seline panjang lebar.
Semua yang hadir mengerti dengan penjelasan Seline. Lagipula tak ada salahnya untuk mencoba merambah ke konsumen lain karena selama ini fokus Rosell hanya itu-itu saja.
"Baiklah. Saya setuju untuk memasarkan desain milik Seline pada anniversary perusahaan kita. Jika kalian juga setuju, silahkan angkat tangan." Ucap mbak Karin memulai voting.
Satu per satu dari mereka mengangkat tangan pertanda jika tak ada yang keberatan dengan desain milik Seline. Bahkan ke tujuh desainer tersenyum ke arah Seline seakan memuji gadis pirang itu membuat Seline bahagia.
......................
"Kerja bagus, Seline. Mbak nggak nyangka sama kemampuanmu. Padahal kamu belum lulus, tapi sudah bisa ikut menyuarakan desain baju milikmu. Mbak harap kamu lebih sering datang ke perusahaan. Kayaknya mbak udah muak sama Pak Aldo." Ucap mbak Karin.
"Dia sukanya marah-marah." Bisik mbak Karin pada Seline membuat keduanya tertawa cekikikan.
"Mbak jangan gitu, bagaimanapun juga pak Aldo sangat berjasa buat Rosell."
"Iya, sih. Kalau nggak ada dia pasti perusahaan ini sudah gulung tikar sejak kepergian orang tua kamu." ucap mbak Karin sendu.
Seline tersenyum. Meski pak Aldo, sekretaris mendiang ayahnya tapi pak Aldo dan mbak Karin adalah sosok yang dapat dipercaya. Pak Aldo selalu mengupayakan segala hal demi kepentingan Rosell berkembang, termasuk pergi ke luar negeri untuk meninjau lokasi yang akan dijadikan perusahaan cabang di sana.
"Seline, ada yang mencarimu." Ucap salah satu karyawan menghampiri Seline.
"Oh. Mbak kenal orangnya nggak?"
Karyawan itu menggeleng membuat Seline bertanya-tanya siapakah yang mencarinya saat ini.
"Ya udah, mbak, Seline pergi dulu ya." Pamit Seline.
Seline berjalan dengan tenang mengikuti karyawan tadi. Saat karyawan berhenti di depan ruangan, Seline melihat siluet pria bertubuh tegap dan kokoh tengah duduk di kursi tamu.
"Siapa dia?"
"Dia ada di dalam. Saya pergi dulu ya, Seline. Saya ada janji mau lihat bagian produksi." Pamit karyawan itu yang langsung di angguki Seline.
__ADS_1
Seline mulai melangkah dengan senyumnya, karena bisa saja tamu tersebut adalah salah satu investor atau kolega orang tuanya yang mungkin saja belum Seline kenal.
"Selamat siang, tuan." Sapa Seline ramah saat dirinya sudah duduk di kursi kosong.
Namun sedetik kemudian mata Seline melebar kala melihat siluet pria yang ada di hadapannya kini. Pria bermata biru keabuan itu tersenyum tipis menatap Seline tak berkedip sama sekali.
"Untuk apa dia ke sini?" batin Seline.
"Selamat siang, sweetie." balas Andre.
Ya, Andre lah orang yang kini tengah duduk di hadapan Seline. Pria bule itu benar-benar membuat gadis pirang itu tak bisa berkata-kata.
"Apa kamu masih sibuk, sweetie? Aku ingin sekali mengajakmu makan siang." tanya Andre membuka suara.
Seline berkedip beberapa kali untuk menghilangkan keterkejutannya.
"Ada perlu apa Anda ke sini, tuan Zinchenko?" tanya Seline berusaha profesional.
"Hanya mengajakmu makan siang." Balas Andre enteng.
"Dan kenapa saya harus menerima ajakan Anda?"
"Sebelum itu, bagaimana Anda bisa masuk ke perusahaan saya? Mengingat jika orang yang tak memiliki wewenang dalam perusahaan saya tak bisa masuk ke sini." tanya Seline sekali lagi.
Andre tersenyum tipis namun auranya benar-benar dominan. Mata pria itu, seakan bisa menenggelamkan siapapun yang melihatnya, termasuk Seline yang sedari tadi berusaha bersikap profesional.
"Kamu tidak tahu, Sweetie? Aku adalah salah satu pemegang saham mayoritas di perusahaan Rosell. Jadi aku bisa mengunjungi perusahaan ini kapanpun aku mau."
Seline mengerjapkan matanya bingung. Benarkah? Sejak kapan? Setelah ini dirinya ingin memastikan dengan jelas siapa saja kolega dan orang-orang yang bekerjasama dengan perusahaan yang ditinggalkan orang tuanya.
"Jadi sweetie, ayo kita makan siang. Aku ingin sekali berbincang berdua denganmu dan membicarakan hubungan kita." Ajak Andre sekali lagi.
"Hubungan apa?"
__ADS_1
...****************...