Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Berubah


__ADS_3

Semua berubah..


Setelah malam itu, Seline tak lagi melihat keberadaan Gavin dimanapun. Bahkan Gavin telah keluar dari kampus sehari setelah makan malam itu. Tak ada kata pamit, bahkan dua sahabatnya juga tak tahu menahu keberadaan pria itu. Seolah-olah Gavin di telan bumi.


Bagaimana dengan Lina? Gadis itu juga tak kelihatan sama sekali batang hidungnya. Tapi yang pasti, Lina masih berstatus mahasiswa di kampus ini. Mungkin gadis itu tengah mengajukan cuti mengingat berita yang sebelumnya beredar tentangnya.


Mengenai berita perselingkuhan mereka, berita tersebut berangsur-angsur mereda. Namun masih banyak orang membicarakan berita tersebut. Bahkan beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan Seline, mereka menatap kasihan pada gadis pirang itu.


Lalu bagaimana keadaan gadis pirang itu? Seline masih bersikap seperti biasa. Pagi hari dia akan ke kampus, dan saat libur dia akan mengunjungi perusahaannya mengingat satu minggu setelah hari ulang tahunnya, Rosell akan melaunching model baru mereka.


Yang berbeda dari Seline saat ini adalah di tiap pagi harinya, akan ada seorang pria yang tersenyum menatapnya. Tak jarang, di malam hari pria itu terkadang juga menemuinya. Siapa lagi kalau bukan Andre.


"Jadi, siapa pria yang gue temui di rumah lo tadi pagi?" tanya Jenni menaikturunkan alisnya.


Saat ini Jenni dan Seline sudah berada di kantin kampus. Karena jam pembelajaran dimulai tiga puluh menit lagi, jadi dua gadis itu memutuskan untuk menunggu dosen di kantin saja.


Pagi tadi Jenni memang tiba-tiba berkeinginan untuk menjemput sahabatnya pagi-pagi sekali. Mungkin karena dia bangun terlalu pagi, sehingga dia juga ingin menyeret sahabatnya agar berangkat pagi juga bersamanya. Namun gadis bermata kucing sangat terkejut saat sampai di rumah sahabatnya, ada pria bule yang membukakan pintu untuknya.


Jenni sungguh terpesona. Mata pria itu, wajahnya yang sangat tampan, bahkan otot tubuh pria itu terlihat sangat enak disentuh. Hei, dia juga wanita. Diberikan pemandangan seperti itu membuat matanya berbinar seketika.


Tapi sedetik kemudian Jenni tersadar, siapa pria ini? Apakah pria ini saudara jauh Seline? tapi kenapa dirinya tak pernah tahu?


Jenni selalu memperhatikan interaksi Seline dengan pria itu. Bahkan dengan sengaja, gadis bermata kucing itu ikut sarapan. Dan dia tahu satu hal, hubungan mereka bukan seperti saudara. Dia bisa melihat itu dari cara sang pria memperlakukan sahabatnya dengan penuh kasih. Dia benar kan?


"Jawab, Seline. Gue penasaran." Rajuk Jenni melihat sahabatnya yang hanya fokus dengan bukunya.


Seline menaruh bukunya. Kemudian Seline menatap Jenni, "dia bukan siapa-siapa, Jenni. Dia hanya salah satu investor terpenting di Rosell."


"Are you sure?" tanya Jenni.


Jenni memicingkan matanya tak percaya. Hey, mana ada seorang investor yang berkunjung ke rumah pemilik perusahaan di jam enam pagi. Dan dia tak mungkin bisa percaya dengan ucapan Seline kali ini.

__ADS_1


"Yes, of course." jawab Seline tanpa ragu.


"Memang apa yang investor itu lakukan di rumah lo sepagi ini? Apa kalian sedang rapat penting?" tanya Jenni yang terdengar seperti mengejek.


"Entahlah. Aku sendiri juga bingung. Aku selalu bertemu dengannya di setiap aku membuka mata. Bahkan terkadang dia menginap di rumahku tanpa aku sadari."


"Woahh.. kalian bahkan sudah memiliki hubungan sejauh itu?"


Jenni menutup mulutnya tak percaya. Sementara Seline merutuki dirinya, sepertinya dia baru saja salah ucap.


"Maksudku bukan begitu. Aku bahkan tak tahu siapa dia selain nama panjangnya." jawab Seline jujur.


"Serius?! Lo bahkan tak tahu dia siapa, tapi pria itu sudah sering menginap di rumah lo?"


Belum sempat menjawab, Seline dan Jenni dikejutkan dengan salah satu kakak seniornya yang tiba-tiba saja datang dan duduk di sebelah Seline.


"Seline, gue turut prihatin sama lo. Gue harap lo bisa sabar ya untuk hari ini."


Seline ngebug. Dia tak paham sama sekali dengan ucapan Risa, salah satu kakak seniornya ini. Memangnya dia kenapa sampai temannya ini prihatin kepadanya?


Bisik-bisik mulai terdengar. Atensi ketiga gadis itu teralihkan kala melihat siluet seorang gadis tengah berjalan santai ke kantin. Gadis itu seakan tak terganggu dengan suara bisikan dan tatapan yang diarahkan untuknya. Dengan santainya, gadis itu duduk di dekat meja Seline dan melewati gadis pirang yang tengah ngebug itu begitu saja.


"Woahhh.. ternyata masih punya muka juga." Julid Jenni tentu saja tak suka dengan mantan sahabatnya.


Ya, Jenni sangat tak suka dengan tingkah Lina. Dia dan sahabatnya yang lain sepakat untuk memutuskan persahabatan mereka dengan Lina dan Gavin. Mereka tak pernah membenarkan perselingkuhan tersebut meski itu bukanlah ranah mereka untuk ikut campur. Namun yang pasti, mereka seakan sepakat untuk tak berteman dengan Gavin dan Lina.


"Stt.. Jenni, sudahlah." bisik Seline.


"Hei, mana bisa begitu!"


"Seline, jangan terlalu baik jadi orang. Orang yang nggak tahu malu sama sahabatnya sendiri, nggak perlu dikasihani." ujar Jenni sambil melirik Lina.

__ADS_1


"Benar itu, Seline. Baik boleh, tapi kalau kebaikan kita dimanfaatkan orang lain, mending kamu tinggalin sahabat yang macam itu." ucap Risa, kakak senior mereka.


"Wihh.. kak, ternyata pikiran kita sama."


"Jelas dong."


Keduanya bertos ria dan tertawa bersama. Sementara Seline hanya menggelengkan kepalanya saja dan kembali membuka bukunya. Gadis itu tak sadar, jika gadis yang digosipkan oleh banyak mahasiswa itu tengah mengepalkan tangannya erat menahan emosi dan rasa malu yang sedari tadi dia rasakan.


......................


Tak ada yang terjadi setelah itu, Seline dan sahabatnya bahkan tak bertemu lagi dengan Lina. Dan Seline bersyukur akan hal itu.


Saat ini Seline tengah berjalan keluar kelas. Hari sudah mulai gelap dan dia juga ingin segera menyapa kasur empuknya. Dia akan mencari taksi untuk mengantarnya pulang mengingat dia tadi berangkat bersama Jenni. Namun saat asyik melangkah, tiba-tiba tangannya dicekal dan digeret oleh seseorang. Mau tak mau Seline menuruti orang itu.


"Gue mau bicara penting sama lo." ucap orang itu setelah berhasil membawa Seline ke belakang gedung yang sepi.


"Ngomong aja, Lina. Kenapa kamu harus menyeretku ke tempat sepi seperti ini?"


Gadis pirang itu berusaha bersikap santai meski dia tengah memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti.


"Lo kan orangnya?" tanya Lina menatap Seline.


"Lo kan orang yang menyebarkan video dan foto-foto itu?" tanya Lina sekali lagi.


Melihat Seline yang hanya diam saja, Lina pun berteriak, "Jangan berpura-pura polos, Seline!"


"Lo benar-benar licik!"


Seline tersenyum, dia harus kuat jika ingin menjauhkan Lina dari kehidupannya kali ini. Dia harus bisa tegar agar kematiannya dulu tak menghantui di setiap malamnya. Lagipula dia kini sudah memiliki kekuatan. Meski kekuatan itu belum cukup untuk menghancurkan mantan sahabatnya.


"Ya, itu aku."

__ADS_1


"Aku yang sudah menyebarkan aibmu ke media kampus. Aku juga yang membuat berita tersebut sampai keluar kampus."


"Lina, itu memang perbuatanku. Lantas kamu mau apa? Membalas ku?" tanya Seline.


__ADS_2