Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Tak tahu malu


__ADS_3

"Terima kasih, tuan Andrean."


Seline melepas sabuk pengamannya. Kegiatan itu diperhatikan oleh pria bermata biru dengan seksama. Seolah apapun yang dilakukan Seline adalah hal menarik untuknya.


"Sweetie, tidak bisakah kamu memanggilku dengan panggilan yang lebih manis? Aku tidak suka kamu memanggilku tuan. Seperti ada jarak di antara kita." Ucap Andre dengan suara seksinya.


"Lalu aku harus memanggilmu apa? Kamu kan salah satu investor perusahaan. Jadi bagaimanapun hubungan kita sebelumnya, aku harus tetap menghormatimu."


Pria itu nampak berpikir, "bagaimana jika kamu memanggilku sayang?"


"No!" Tolak Seline mentah-mentah. Telinganya bahkan langsung memerah. Dan Seline tak sadar akan hal itu.


"Baiklah-baiklah. Panggil namaku saja. Jangan bersikap terlalu formal padaku. Oke, sweetie?" Tanya Andre semakin menggoda.


Gadis pirang itu nampak berpikir, tapi tak lama dia pun menyetujui saran itu. Lebih baik memanggil nama saja daripada harus memakai panggilan aneh-aneh. Karena dia tahu jika tak segera menyetujui saran pria bule itu, pria di sebelahnya ini akan semakin menggodanya.


"Oke, tidak masalah."


"Kalau begitu aku harus segera pergi. Jenni sudah menghubungiku saat ini." Ucap Seline sambil memperlihatkan ponselnya yang berisi chat dari Jenni bahwa gadis bermata kucing itu mencari dirinya.


"Tentu, sweetie. Belajar yang rajin."


Pria bermata biru itu memberikan senyum terbaiknya dan tak lupa mengacak rambut gadis pirangnya. Telinga Seline semakin memerah, bahkan saat ini pipinya juga ikut memanas. Dengan segera, gadis itu berlalu pergi dari mobil yang sedari tadi membuatnya panas dingin.


Seline berlarian masuk ke dalam gedung sambil menutupi pipinya. Dan Andre yang melihat itu dari dalam mobilnya terkekeh gemas. Tak sia-sia dirinya menginap di rumah gadis itu. Dia merasa selangkah lebih dekat dengan gadis yang dia cintai.


Sementara di dalam kelas..


"Duhh.. capek.." keluh Seline setelah berhasil menemukan tempat duduk yang kosong.


"Kenapa lo? Habis di kejar tunangan lo itu ya?" tanya Jenni yang memang sengaja mengosongkan bangku di sebelahnya agar di isi Seline.


"Huhh? enggak." ucap gadis pirang itu secara langsung.


"Terus kenapa?"


"Oh.. apa jangan-jangan lo ketemu si pelakor itu kan?" tebak Jenni.

__ADS_1


"Enggak kok. Aku malah belum ketemu mereka sama sekali." jawab Seline jujur.


"A-aku tadi cuma takut dosennya udah datang."


"Iya, benar." lanjut Seline mencoba meyakinkan Jenni.


"Yakin nih?" tanya Jenni nampak tak percaya. Gadis bermata kucing itu menatap Seline dengan pandangan penuh menyelidik.


"Yakin lah."


Seline segera mengalihkan pembicaraan, dia tak siap jika harus menceritakan sosok Andre. Gadis pirang itu hanya tak tahu bagaimana menceritakan sosok pria bule itu. Tidak mungkinkan dirinya menceritakan jika dia menghabiskan satu malam panas dengan orang asing dan ternyata orang asing itu adalah salah satu investor perusahaannya? Ah, memikirkannya saja membuat pipi Seline bersemu lagi.


"Oh iya, aku punya kabar gembira. Kamu tahu kan acara fashion show di Milan yang akan diadakan satu bulan lagi?"


"Tentu saja gue tahu. Mama kan diundang ke acara itu. Dan sebenarnya mama ingin ajak lo ikut juga." Jawab Jenni.


"Mama bilang jika lo ikut ke sana dengan kami, lo bisa mendapatkan banyak pengalaman berharga demi Rosell." lanjut Jenni yang berhasil teralihkan.


"Em.. sepertinya aku tidak bisa ikut." ucap Seline mengerucutkan bibirnya berpura-pura menyesal. Namun sedetik kemudian gadis pirang itu tersenyum kala melihat ekspresi sahabatnya kecewa.


"Serius?!"


"Yeyy.. Akhirnya gue ada teman di sana!"


Keduanya saling menggenggam tangan dan menggoyangkannya menyalurkan kebahagiaan.


"Hei, yang di sana!!"


"Bisa diam tidak?!"


Ooppss.. Kedua gadis itu terlalu asyik dengan dunia mereka sendiri hingga tak menyadari jika ada dosen yang sudah masuk. Semoga saja mereka tak di usir di kelas ini.


......................


"Kalian mau makan apa? Biar hari ini gue yang pesan."


Kali ini mereka hadir dengan formasi lengkap di kantin. Bahkan Gavin dan Lina juga hadir di sana seolah-olah mereka tak terganggu dengan berita yang beredar.

__ADS_1


"Mending samain aja. Biar nggak ribet nanti." Saran Jenni.


Lily dan yang lainnya menyetujui saran Jenni. Membuat Marvin segera berlalu dari sana dan memesan makanan untuk mereka bertujuh.


Sementara di sisi lain, Seline sedari tadi amatlah risih. Bahkan gadis pirang itu menunjukan muka cemberutnya secara terang-terangan. Bagaimana tidak, pria yang begitu dia benci malah duduk di sebelahnya seolah-olah tak merasa bersalah sama sekali. Apakah pria itu sudah lupa apa yang dilakukannya selama ini?


"Sayang, kamu tahu kan kalau berita di luar sana itu hoaks? Aku nggak mungkin selingkuhin kamu. Apalagi selingkuh sama sahabat kamu sendiri. Kamu percaya kan sama aku." Bujuk Gavin memelas.


Sebenarnya bukan hanya Seline saja yang risih. Jenni, Lily dan Vino juga tak menunjukkan wajah bahagia sama sekali saat satu meja dengan dua pengkhianat itu.


"Ckk.. Hehh, brengsek! Pelakor! Bisa nggak sih kalian jauh-jauh dari kita?!" tanya Jenni tak tahan.


"Apaan sih, gue cuma mau dekat sama tunangan gue sendiri. Lo nggak perlu ikut campur. Kalau mau, pindah aja sendiri sana!" Usir Gavin berusaha membela diri.


"Iya, berita itu tuh hoaks. Kalian jangan percaya deh. Kalian kan tahu sendiri kalau gue udah jadi sahabat Seline sejak SD. Nggak mungkin gue mau sama tunangan sahabat gue sendiri." Ucap Lina yang juga berusaha membela dirinya.


Jenni mencibir pelan, mulutnya komat kamit tak jelas seakan tengah mengejek keduanya secara terang-terangan.


"Masa sih?"


"Yakin kalian nggak selingkuh di belakang Seline? Jujur aja kali." celetuk Lily.


"Mulut lo kok kurang ajar ya, Ly?" ucap Lina.


Lina tak suka dengan Lily dan Jenni sedari dulu. Karena mereka berdua tak sepolos Seline, yang dengan mudah dia manfaatkan. Namun dia harus menahan ketidaksukaanmya pada dua gadis itu karena Seline yang mengenalkan dirinya dengan mereka saat SMA dulu.


"Udah-udah, jangan berantem." Lerai Seline.


Bagi Seline, belum saatnya dia dan Lina bertengkar. Dia masih memiliki rasa penasaran dengan alasan Lina bersikap kejam padanya. Dan untuk saat ini dia harus berpura-pura bersikap polos seperti biasanya.


"Lina, aku percaya kok sama kamu. Kamu nggak mungkin kan mengkhianati aku? Kita bahkan sudah bersama sejak kecil."


"Tentu Seline. Gue nggak mungkin main-main di belakang lo seperti apa yang diberitakan."


Lina tersenyum penuh kemenangan sedangkan yang lainnya berdecak tak percaya. Sampai kapan Seline harus bersikap polos? Kenapa tak segera memaki-maki Lina saja dan menyebarkan video yang telah Seline rekam saat itu? Pasti mahasiswa lain juga mengerti jika bukan Seline yang bersalah.


"Lalu bagaimana denganku, sayang? Kamu percaya kan sama aku? Kita bahkan sudah berteman dan sering bersama sejak bayi. Orang tua kamu pasti sedih di surga sana kalau kamu tak mempercayai aku." Rajuk Gavin.

__ADS_1


__ADS_2