
"Ehemm.. Sel, lo lagi ada masalah ya sama Gavin? Tadi di kampus Gavin nyari-nyariin lo. Dia kayak marah gitu sama Lo. Emang kalian ada masalah apa sih?" tanya Lina mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Lina, aku lagi nggak mood bicara tentang masalah pribadi. Bisa nggak kalau kita bahas topik lain?" tanya Seline balik.
"Kenapa? Bukannya kita udah jadi sahabat sejak lama, kenapa nggak mau bahas masalah pribadi sih?" tanya Lina tak terima.
Seline beranjak dari kasurnya dan melangkah mendekati Lina. Gadis pirang itu duduk di depan Lina dan menatap wajah Lina hendak mengamati sorot mata yang Lina berikan saat ini.
"Kalau gitu, gimana kalau kita bahas privasi kamu aja? Aku kan selama ini udah sering curhat ke kamu. Tapi kamu udah lama banget nggak cerita apapun sama aku."
Ucapan Seline membuat Lina mendelik kaget. Namun tak lama, ekspresi Lina kembali seperti biasa. Ah, andaikan Lina seorang aktris, pasti gadis itu sudah mendapatkan penghargaan karena dapat mengontrol mimik wajahnya dengan cepat.
"Jadi, gimana kamu sekarang? Lagi dekat sama siapa? Masa di kampus nggak ada satupun yang menarik perhatian seorang Lina Ariyanti?"
Lina gugup, tentu saja. Dan ekspresi itu bisa terbaca oleh Seline meski Lina menutupinya.
"Seperti yang gue bilang tahun lalu. Gue masih belum nemu cowok yang cocok buat gue. Mungkin karena selera gue yang terlalu tinggi kali ya, makanya nggak ada satupun cowok yang cocok buat gue jadiin pacar. Ha.. ha.. ha..."
Lina berusaha membuat lelucon untuk mencairkan suasana yang nampak tegang. Jujur saja, Lina merasa jika Seline seperti orang lain saja. Sahabatnya itu selama ini tak pernah bersikap seperti ini. Seline adalah gadis baik hati yang tak pernah membantah sekalipun ucapannya.
"Benar juga. Kamu kan suka cowok yang manly dan badboy tapi memiliki sifat romantis. Kamu juga suka cowok yang kaya raya namun tidak pelit. Kamu juga suka sama cowok yang bisa ngetreat cewek like queen meski sosoknya badboy. Ya kan?"
Lina mengangguk menyetujui ucapan Seline. Memang benar dirinya sangat suka dengan cowok badboy dan kaya. Apalagi bisa bersikap romantis dengan pasangannya. Itu adalah salah satu syarat agar dicintai olehnya.
"Ya, Seline. Lo bener banget."
Seline terlihat berpikir sejenak sebelum memberikan saran, "mau aku kasih saran nggak?"
"Vino Bamastya, kamu kenal kan?" tanya Seline yang dibalas dengan anggukan oleh Lina.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak tertarik sama dia? Dia punya tampang badboy kok. Tatonya bahkan memenuhi lengan kanannya dan Vino bahkan pakai piercing di bibir dan alisnya. Benar-benar tampang badboy banget."
"Vino juga kayaknya bukan orang sembarangan dilihat dari barang yang dipakai selalu bermerek terkenal. Dan juga, sampai saat ini dia nggak pernah dekat sama gadis manapun. Kenapa kamu nggak coba melihat ke Vino?"
Bukannya Seline ingin menjodohkan sahabatnya dengan Vino. Tapi gadis pirang itu ingin melihat bagaimana reaksi Lina selama ini.
"Gue nggak tertarik sama Vino." jawab Lina.
"Seline, kalau gue boleh jujur, gue sebenarnya udah nemuin cowok yang gue suka sejak lama. Bahkan sejak kita SMA."
"Serius?! Berarti kamu suka sama salah satu teman SMA kita?" tanya Seline pura-pura tidak tahu. Padahal gadis pirang itu sangat tahu orang yang dimaksud Lina.
"Yap. Gue bahkan udah suka sama dia sejak kelas satu. Tapi sayang, saat itu dia nggak kasih respon ke gue sama sekali. Cowok itu malah suka sama gadis lain."
"Beneran?! Kasih tahu dong siapa namanya? Aku penasaran." Ucap Seline antusias.
Lina tersenyum remeh. Gadis itu berpikir jika Seline masih sangatlah polos, tak tahu jika Gavin lah pria yang dimaksud sedari tadi. Ternyata aura yang dirasakannya dari Seline sedari tadi hanyalah ketakutannya semata.
"Loh, dia punya cewek?!" Seline masih mempertahankan ekspresinya.
"Yes. Tapi dia janji dalam waktu dekat ini akan putus sama ceweknya dan beralih sama aku."
"Lina, tapi itu salah."
Lina semakin tersenyum remeh. Dia sudah tak memperdulikan hal-hal seperti itu. "Salah? Gue rasa gue nggak seratus persen salah. Apa mencintai seseorang adalah sebuah kesalahan? Lo bahkan nggak tahu gimana rasanya lihat cowok yang gue cintai dekat dengan cewek lain yang gue kenal."
"Kehidupan cewek itu terlalu sempurna, Seline. Dan gue hanya ingin mengambil salah satu kebahagiaannya. Gue cuma minta setitik kehidupan sempurna yang selama ini dia miliki."
Perasaan Lina menggebu dan tanpa sadar mengeluarkan seluruh amarahnya selama ini. Kala melihat Seline terkesiap, Lina pun mulai pamit beralaskan jika dirinya harus segera pulang. Menyisakan Seline seorang diri.
__ADS_1
"Kamu beranggapan bahwa hidupku sempurna? Padahal kamu jauh lebih kaya dan memiliki orang tua yang lengkap, Lina."
"Ku harap apa yang aku perbuat setelah ini bisa menyadarkanmu. Jauh dalam lubuk hatiku, aku ingin kamu kembali menjadi Lina yang ku kenal."
"Tapi jika setelah ini kamu masih iri denganku, maka jangan salahkan aku jika pertemanan kita hancur lebur."
......................
Pagi ini seluruh fakultas di sebuah universitas ternama digemparkan oleh berita perselingkuhan. Banyak mahasiswa yang berbisik secara terang-terangan membahas berita yang entah itu valid atau tidak.
Berita yang memaparkan foto dua orang tengah bercumbu mesra itu di beri judul, "Ternyata mahasiswa jurusan bisnis ini berselingkuh dengan sahabat tunangannya sendiri! Menurut kalian siapa yang salah? Apakah si pria yang memang tak bisa menahan hasratnya? Atau si pelakor yang memang tak punya rasa malu? Atau mungkin si cantik yang tak bisa menjaga pasangannya sendiri hingga berhasil direbut?"
Sementara salah satu mahasiswa yang tengah diberitakan itu tengah berjalan dengan santainya seolah tak tahu apa yang tengah terjadi saat ini.
"Seline, lo baik-baik aja kan?" tanya Lily menghampiri gadis pirang yang tengah berjalan dengan santai itu.
"Aku? Baik-baik aja kok." ucap Seline heran dengan tingkah dua sahabatnya.
"Lo udah lihat berita di website kampus belum?" tanya Jenni meneliti ekspresi Seline yang tak terganggu sama sekali.
Seline menggeleng, apakah ada berita penting yang terlewatkan olehnya?
Melihat Seline yang masih memproses pertanyaannya, Jenni pun mengambil inisiatif dengan memajang ponselnya yang berisi berita terbaru itu tepat di depan mata Seline. Dan gadis pirang itu langsung membacanya dengan pasti.
"Jadi gimana, Lo nggak apa-apa? Atau kita harus bolos dulu untuk hari ini?" tanya Lily.
"Iya, kita bisa bolos lagi untuk hari ini. Lagipula dosen yang ngajar hari ini Bu Indri. Jadi Lo bisa minta izin dengan alasan ada kesibukan yang nggak bisa ditinggal." Saran Jenni.
Seline tampak berpikir dengan serius. Memang Bu Indri adalah dosen yang sangat simpel. Asal tugas di kerjakan tepat waktu, mahasiswa boleh-boleh saja izin jika memang tak bisa mengikuti pelajarannya.
__ADS_1
"Udah, yuk, daripada Lo di kampus dan dengar omongan yang enggak-enggak. Mending kita pergi sekarang juga." Ajak Lily menarik tangan Seline.