Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Tidur bersama


__ADS_3

Seline menumpuk beberapa bantal dengan teliti. Ya, Seline memutuskan untuk tidur satu ruangan di kamar Andre. Karena Seline merasa tak tega jika harus menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar sebelah di malam hari untuk dia gunakan. Maka dari itu, dia pun berinisiatif menumpuk banyak bantal di tengah-tengah kasur sebagai batas antara dia dengan Andre. Tentu saja dia melakukan itu karena dia tak mau kejadian panas di Paris terulang lagi.


Sementara itu, Andre yang kini tengah duduk di sofa hanya memperhatikan gadisnya sambil menyeruput secangkir kopi. Baginya kegiatan Seline amatlah menggemaskan. Lihat saja nanti, saat tunangannya itu sudah tertidur lelap, dia akan menyingkirkan bantal-bantal itu agar dia bisa memeluk erat sang pujaan.


Ah, dirinya tak sabar menunggu hari esok. Dia ingin melihat bagaimana respon Seline di pagi hari saat tahu jika bantal-bantal yang telah dia susun berceceran kemana-mana. Pasti sangat menggemaskan.


"Sweetie, minumlah coklat panasmu."


"Sebentar."


Seline kemudian meletakkan satu bantal lagi di atasnya. Setelah itu sang gadis berjalan mendekat ke arah Andre dan duduk di sebelah pria itu.


"Kenapa kamu minum kopi di malam hari?" tanya Seline heran.


Gadis itu kemudian mengambil secangkir minuman yang di yakini sebagai miliknya dan mulai meminumnya secara perlahan.


"Haruskah aku minum wine?" tanya Andre jahil.


"Terserah kamu saja. Tapi jika ada aku, sebaiknya kamu tak melakukan itu. Aku tak ingin merasakan malam panas itu lagi."


"Baiklah. Lantas apa yang sebaiknya aku minum, sweetie? Aku tidak terlalu menyukai minuman manis sepertimu."


"Bagaimana jika secangkir teh hangat? Ku rasa itu tidak terlalu manis. Dan bisa membuat tubuhmu rileks."


"Entahlah, aku belum pernah minum teh. Tapi sepertinya aku akan mencoba meminumnya besok."


Seline mengangguk, setelah itu dia menghabiskan minumannya dan berdiri. "Aku akan tidur sekarang. Kamu tak tidur? Ini sudah sangat malam."


"Tidurlah terlebih dahulu, sweetie. Aku akan ke kamar mandi sebentar."

__ADS_1


Seline mengangguk. Gadis pirang itu kemudian memutuskan untuk segera menidurkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Tak lama setelah itu, Seline merasakan jika tempat Andre sudah mulai terisi. Keduanya tak mengatakan apapun. Bahkan Seline masih memejamkan matanya membelakangi Andre.


Sepuluh menit berlalu.


Seline yang memang sedari tadi tak tidur itu kini tak tahan lagi. Dia pun membalikkan tubuhnya dan menatap pada tumpukan bantal yang ada di antara mereka.


"Kamu sudah tidur?" tanya Seline pelan.


Andre yang memang sedari tadi hanya berbaring terlentang tanpa memejamkan matanya pun kini ikut mengubah posisinya menghadap ke tumpukan bantal itu.


"Belum. Apa kamu tidak bisa tidur, sweetie?"


"Entahlah, aku merasa ngantuk tapi dari tadi aku tak bisa tertidur."


"Mau ku ceritakan masa kecilku, sweetie? Siapa tahu setelah mendengarnya kamu bisa tidur. Dan juga mungkin setelah mendengar cerita ini bisa mengurangi rasa penasaranmu padaku."


Gadis itu segera membenarkan letak selimutnya dan menyamankan tubuhnya sebelum mendengarkan Andre bercerita. Sementara Andre, kini mata itu tengah menerawang jauh sembari mengingat setiap adegan yang tak pernah dia lupakan.


......................


Tujuh belas tahun yang lalu..


"Jadi, ini rumah baru kita?" tanya sosok anak laki-laki berusia sebelas tahun itu.


"Ya. Untuk sementara kita akan tinggal di sini sampai papa berhasil membangun anak perusahaan di sini. Tidak masalah kan, Andre?" tanya sang papa.


"Terserah." jawab Andre santai.

__ADS_1


Ya, anak laki-laki bermata coklat terang itu adalah Andrean. Dia dan keluarganya baru saja pindah ke Indonesia karena ingin melebarkan sayap perusahaan hingga negara ini. Dan papa Andre berinisiatif untuk mengajak keluarganya ke sini sekaligus mencari suasana baru.


Andre menjalani hari-hari seperti biasanya. Dia dapat beradaptasi dengan mudah mengingat dia termasuk anak yang cerdas.


Dalam satu tahun, Andre sudah bisa menguasai bahasa Indonesia. Namun karena sifatnya yang dingin, dia tak memiliki teman sama sekali. Bahkan di sekolah, anak yang kini berusia dua belas itu jarang mengeluarkan suaranya. Dia hanya akan datang dan pergi ke sekolah tanpa menyapa teman-temannya. Bahkan dirinya tak pernah menunjukkan batang hidungnya di sekitar lingkungan tempatnya tinggal setelah pulang dari sekolah. Andre tak pernah menyapa tetangganya sama sekali sejak dia pindah ke Indonesia.


"Andre, karena perusahaan yang papa dirikan sudah mulai berkembang, kita akan kembali ke Milan lima hari lagi. Mama akan mengurus perpindahan sekolahmu."


Andre yang mendengar itu merasa biasa saja. Baginya, mau tinggal di sini atau di sana semua sama saja. Sama-sama membosankan.


Empat hari berlalu dengan sangat cepat. Besok adalah hari dimana keluarga Andre kembali pulang ke Italia. Semuanya telah siap. Bahkan tiket pesawat sudah mereka pesan beserta koper-koper yang sudah mereka tata agar esok hari tak ketinggalan pesawat.


Saat ini Andre tengah membaca buku di taman kompleks. Namun dirinya tak bisa fokus karena sedari tadi ada anak kecil yang berusaha menggangunya. Gadis itu terus saja menatap Andre, meski anak laki-laki dingin itu tak memberikan reaksi apapun.


"Pergilah." Hardik Andre yang mulai terusik. Sepertinya dia mulai menyesal untuk datang ke sini. Seharusnya dia mendekam di kamarnya saja seperti biasa.


"Kakak bukan olang cini ya? Boleh nggak kalau celin ikut duduk di cini?" tanya gadis kecil yang belum lancar bicara itu.


Andre tak merespon apapun. Membuat gadis kecil itu langsung saja duduk dengan sedikit kesusahan mengingat betapa kecil tubuhnya.


Saat anak kecil itu sudah berhasil duduk di sebelah Andre, gadis kecil itu hanya memperhatikan anak laki-laki yang ada di sebelahnya dengan seksama. Kaki kecilnya yang menggantung itu dia gerakkan berayun-ayun.


"Mata Kakak cantik. Milip cepelti foto wanita yang Celin temukan di kamal kosong itu."


Suara gadis kecil itu mengusik keheningan yang terjadi. Andre yang memang sedari tadi sudah terganggu dengan tatapan gadis kecil itu, semakin terusik. Namun Andre tak mengatakan apapun. Anak laki-laki itu hanya menatap bukunya meski sesekali melirik sang gadis kecil itu.


"Kakak, apa Celin melakukan kecalahan? Ibu Celin memalahi Celin kalena tak cengaja menemukan foto wanita itu." adu si gadis kecil dengan mata mengalir.


Andre yang mendengar isakan gadis kecil itu benar-benar terusik. Sepertinya hari ini ketenangan memang tak bisa dia dapatkan. Andre pun menutup bukunya dan menatap pada sosok gadis kecil yang semakin tersedu-sedu itu.

__ADS_1


Anak laki-laki bermata biru itu merasa iba. Entah kenapa hatinya ikut tersayat saat mendengar gadis kecil itu menangis. Dan baru kali ini dia merasakan perasaan aneh seperti ini.


"Menangis lah." Ucap Andre menuntun gadis kecil itu ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggung gadis kecil itu. Membuat gadis kecil itu semakin mengeraskan tangisannya.


__ADS_2