Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Sahabat Seline


__ADS_3

"Jadi kalian suami istri?" tanya Seline memperhatikan kedua pasangan paruh baya itu dengan seksama. Bukan paruh baya sebenarnya, namun tepatnya pasangan usia tiga puluh lebih. Sang suami berusia tiga puluh delapan tahun dan sang istri berusia tiga puluh lima tahun.


"Ya, nona. Kami sudah menikah." Jawab bibi Lela, sang istri berbicara.


Lela Nur Hayati, wanita berusia tiga puluh lima tahun yang melamar sebagai pembantu adalah seseorang yang pernah bekerja di rumah salah seorang tuan muda yang tinggal di luar negeri, sehingga bibi Lela menguasai bahasa Inggris. Begitulah yang tertulis pada surat lamarannya.


Sedangkan sang suami, Pak Anton Hartono, pria itu juga menguasai bahasa Inggris dan sedikit ilmu bela diri karena ikut sang istri bekerja di luar negeri. Selain itu Pak Anton juga bisa mengendarai mobil karena saat di luar negeri dia bekerja sebagai sopir pribadi. Sebelum menikah, Pak Anton bekerja sebagai sopir di Jakarta. Sehingga dia bisa hafal jalanan yang ada di sini.


"Kalian sudah punya anak?" tanya Seline.


"Belum, Nona." jawab Pak Anton.


"Baiklah, kalian aku terima bekerja di sini." Putus Seline.


"Mari, aku tunjukkan kamar kalian. Karena kalian suami istri, kalian bisa memakai satu kamar di sana. Dan mengenai gaji, aku minta maaf jika gaji yang aku tawarkan tak sebesar gaji kalian sebelumnya." Lanjut Seline.


Seline tahu, meski hanya berprofesi sebagai pembantu maupun sopir pribadi, tapi keduanya pasti mendapatkan gaji dollar yang fantastis daripada bersama dengannya.


"Tidak, Nona. Gaji yang Anda tawarkan sudah lebih dari cukup." Ujar bibi Lela membuat Seline tersenyum.


Bisakah dia mempercayakan rumahnya pada dua orang ini? Semoga saja dia tak salah mempercayai seseorang lagi seperti kehidupan sebelumnya.


......................


"Jadi, gimana dengan orang yang gue rekomendasiin?" tanya Vino.


Kali ini Vino mengajak Seline untuk berbincang di taman kampus. Dan keduanya tengah duduk berdampingan.


"Aku sudah menerima keduanya."


"Baguslah. Lo ada acara malam nanti?" Tanya Vino.


"Emm.. Ya. Aku ada acara makan malam dengan tunanganku." Jawab Seline sedikit ragu. Untuk apa Vino menanyakan hal pribadi kepadanya? Mereka tak sedekat itu untuk saling mengetahui masalah pribadi keduanya meski mereka bersahabat.


"Seline, karena Lo udah gue anggap sebagai salah satu sahabat gue, gue kasih Lo saran." Ujar Vino.


"Tolong pertimbangkan sekali lagi tentang perasaan Lo sama Gavin. Sekali-kali lihatlah sorot matanya saat dia tengah bersikap romantis sama Lo." Lanjut Vino.


Seline mengernyit heran, "Vino, bukankah Gavin sahabatmu? Kenapa kamu berbicara seakan-akan Gavin mencurigakan? Apa kamu memiliki perasaan denganku?"

__ADS_1


"Hahahaha..!!" Vino tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan terakhir Seline.


Seline semakin mengernyitkan keningnya dan menggeser duduknya sedikit menjauh dari Vino. Sepertinya sahabat Gavin yang satu ini agak aneh, begitulah pikirnya.


Vino menghentikan tawanya, kemudian menatap Seline. Ah, sepertinya dia baru sadar jika tawanya terlalu lepas.


"Seline, gue nggak ada perasaan sama sekali buat Lo selain persahabatan. Lagipula bagi gue, cinta itu cuma omong kosong buat orang kayak gue." Ucap Vino serius.


"Tapi Gavin emang orang yang mencurigakan." lanjut Vino.


Setelah itu Vino berdiri dan menepuk pundak Seline, "Lo benar-benar harus hati-hati sama tunangan Lo. Jangan terlalu percaya sama apa yang Gavin omongin. Dia terlalu munafik buat dijadiin sebagai sandaran hidup."


Setelah mengatakan itu, Vino berlalu pergi dari sana meninggalkan Seline yang tengah merenung seorang diri.


Namun kegiatan Seline terusik kala melihat dua orang yang dikenalnya tengah berjalan mengendap-endap. Seline pun melangkah mengikuti mereka. Mereka terus berjalan hingga sampailah ke gudang yang sepi.


Dua orang yang dikenali Seline itu masuk ke dalam gudang tersebut, sedangkan Seline berusaha mengintip dari balik pintu yang tak tertutup rapat.


Kedua orang yang sangat dikenal Seline itu tengah sibuk saling mencumbui satu sama lain. Bahkan tangan sang pria tak segan-segan menggerayangi tubuh sang gadis.


"Ahh.. Gavin, Lo kapan mau jalanin rencana kita?" tanya Lina berusaha menahan setiap deesahan yang keluar kala Gavin menyesapi leher jenjangnya.


"Tenang saja. Malam nanti, gue bakal coba buat minta rumah Seline. Ahhh..." Gavin berbicara di sela-sela desahannya.


"Shhh.. kali ini kamu harus bisa puasin aku, Lina.."


Gavin mulai membuka celananya dan mengeluarkan miliknya yang terlihat besar itu. Gavin menuntun Lina untuk menyesapi miliknya yang langsung diangguki oleh sang wanita.


Mereka berdua terus melakukan hal yang lebih jauh tanpa memperdulikan sekitar. Bahkan kedua insan yang tengah bergumul itu tak menyadari jika ada sosok yang sedari tadi merekam aksi bejat keduanya, yaitu Seline.


Setelah lama merekam, Seline memutuskan untuk menyudahi acara mengintipnya dan berlalu dari sana. Lagipula dia merasa tak perlu menunggu kedua orang itu menuntaskan hasrat mereka hingga selesai. Baginya video yang didapatkannya sudah lebih dari cukup.


Seline bergegas kembali ke kelasnya mengingat sebentar lagi perkuliahan juga akan dimulai. Saat memasuki kelasnya, Seline melihat jika Jenni tengah mengobrol bersama beberapa teman kelasnya. Seline pun berjalan dan duduk di dekat mereka.


"Seline, Lo darimana aja?" tanya Jenni.


"Dari taman. Dosennya belum masuk kan?" tanya Seline memastikan.


"Belum. Lagian mahasiswa yang lain juga masih belum masuk semua." jawab Ghea, salah satu mahasiswa yang satu kelas dengan Jenni dan Seline.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, beberapa mahasiswa mulai masuk ruangan dan dosen yang mengajar juga mulai masuk dan pelajarannya pun dimulai.


......................


"Mau aku antar?" tanya Gavin.


Kali ini Seline dan beberapa temannya sedang berada di parkiran hendak pulang. Karena Seline tadi tak membawa mobil dan mobil Seline masih di bengkel, Seline pun jadi bingung bagaimana dirinya pulang.


"Gavin, Lo minggu lalu kan udah janji mau anter gue nyari buku." Ujar Lina tiba-tiba.


"Ah benar." nada menyesal keluar dari mulut Gavin. Meski Seline yakin Gavin tak sepenuhnya menyesal.


"Bareng gue aja gimana? Kebetulan gue hari ini bawa mobil sendiri." Ajak Lily.


"Boleh deh. Nggak ngerepotin kan?" tanya Seline memastikan.


Ah, andaikan dia tak trauma mengendarai mobil, pasti lebih baik dirinya mengendarai mobil sendirian seperti sebelumnya. Namun sejak dia bangkit dari kematiannya, dia memiliki trauma untuk mengendarai mobil seorang diri. Itulah salah satu alasan dia mencari sekuriti sekaligus seorang sopir. Tapi saat ini Pak Anton dia suruh untuk mengantarkan mobilnya ke bengkel karena perawatan rutin.


"Nggak kok, tenang aja. Tapi mampir makan dulu bisa kali. Gue laper nih." Celetuk Lily yang diangguki oleh Seline.


"Sayang, kalau gitu aku antar Lina dulu ya. Jangan lupa nanti malam." Pamit Gavin.


"Iya, hati-hati di jalan."


"Seline, gue pinjem tunangan Lo sebentar. Oke." Ucap Lina sambil menggandeng erat lengan Gavin.


Kedua orang itu segera pergi menyisakan Lily dan Seline yang mulai berjalan menuju mobil milik Lily.


"Seline, gue heran, Lo kenapa percaya banget sama Lina dan Gavin." ucap Lily.


"Kalau gue jadi Lo, gue bakal ikut kemanapun tunangan gue pergi."


"Karena pelakor bisa berbentuk siapa saja, termasuk sahabat sendiri." Lanjut Lily.


Sedangkan Seline hanya menanggapi Lily dengan senyuman saja, membuat Lily hanya bisa menghela nafas lelah.


Bagi Lily, Seline memang terlalu polos. Bahkan tak pernah curiga sedikitpun dengan kedekatan Lina dan Gavin. Tapi Lily tak tahu, jika Seline yang sekarang bukanlah Seline yang polos seperti dulu. Seline yang sekarang sedang berusaha keras untuk bisa mengubah takdirnya yang tragis.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2