Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Rencana ke mall


__ADS_3

Seline tersenyum manis menatap Gavin. Dengan perlahan gadis itu melepaskan genggaman tangan Gavin yang memang sedari tadi bergelayut pada tangannya.


"Gavin, apa kamu bisa membuktikan kalau berita itu bohong?" Tanya Seline pelan.


"Lalu bagaimana dengan perlakuanmu padaku akhir-akhir ini? Kamu bahkan memarahiku saat aku tak memberikan harta keluargaku seperti yang kamu inginkan bukan?" lanjut Seline tanpa emosi.


Belum sempat Gavin protes, Marvin sudah datang dan membawa beberapa piring makanan mereka dengan dibantu dua pelayan. Seline langsung mengalihkan fokusnya dan menatap berbinar makanan yang ada di hadapannya. Seperti biasanya, gadis itu langsung menyantap makanannya tanpa memperdulikan sekitar.


Dan mau tak mau Gavin hanya bisa menghela nafas panjang dan ikut menyantap makanannya seperti yang lain.


Tiga puluh menit berlalu, Seline dan yang lainnya sudah menyelesaikan makan mereka. Namun mereka masih duduk santai di kantin membahas hal-hal yang kurang penting. Seperti saat ini, Seline dan Lily tengah berdebat tentang benda apa yang akan mereka beli di mall nanti.


"Mending kita beli jaket couple. Kan lucu kalau dipakai bertiga." Saran Lily.


"Tapi aku jarang pakai jaket. Mending beli gelang couple aja biar manis." Sanggah Seline.


"Nggak. Kita beli jaket aja."


"Gelang aja, Lily."


"Jaket, Seline."


"Gelang."


"Jaket."


Ya, Seline, Jenni dan Lily memutuskan untuk pergi ke mall dan menghabiskan waktu bersama setelah jam istirahat usai karena kelas mereka selanjutnya kosong. Jika Seline dan Lily tengah berdebat, lain halnya dengan Jenni, Vino dan Marvin. Mereka tengah sibuk berdiskusi tentang film action yang tengah naik daun saat ini.


"Seru nggak sih filmnya?" tanya Vino tertarik.


"Seru lah. Gue sama Marvin kemarin udah nonton. Duh.. keren lah pokoknya. Ya kan, Marvin?" tanya Jenni menatap Marvin.


"Ya. Gue yang nggak suka nonton film aja langsung suka pas udah nonton." jawab Marvin.


"Wahh. kayaknya gue harus nonton nih. Tapi sama siapa? Masa sendirian?"


"Sama gue aja, Vin. Gue juga belum sempat nonton tuh film." Ajak Gavin.


Seakan tak mendengar suara Gavin, Vino beralih menatap dua gadis yang tengah berdebat itu. Siapa lagi kalau bukan Lily dan Seline yang kini tengah mendebatkan warna jaket apa yang akan mereka beli nanti.


"Hei, pirang! Poni!" Panggil Vino yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Seline dan Lily.


"Kalian mau ke mall kan? Gue ikut dong. Gue mau nonton film action yang kata Jenni bagus itu. Nanti tiket gue yang bayarin deh."


"Masa tiket aja sih yang dibayarin?" tanya Lily menyilangkan kedua tangannya sombong. Seakan dia baru saja mendapatkan mangsa baru yang bisa dia ploroti. Yah, meski kaya di antara teman-temannya, yang namanya gratisan harus dia manfaatkan sebaik mungkin dong. Apalagi seorang Vino Bramastya.


Vino memutar bola matanya jengah, "Terus kalian bertiga mau apa?"

__ADS_1


"Traktir jajan juga dong. Kalau bayarin tiket nonton aja gue juga bisa beli sendiri." jawab Lily tengil.


"Ya udah iya, khusus hari ini, gue bayarin apapun yang kalian makan. Dan gue juga bakal bayarin jaket couple kalian bertiga. Gimana?"


"Waw.. serius nih?" Ujar Jenni tertarik.


"Iya, gimana?" tanya Vino sekali lagi.


"Oke, setuju. Gue ikut." jawab Jenni cepat.


"Aku juga." jawab Seline antusias.


"Call. Kalau gratisan sih kita bisa temenin lo nonton apapun." jawab Lily senang.


"Gue ikut juga dong." ucap Lina tiba-tiba.


"Lo, Marvin, ikut nggak?" tanya Jenni.


"Kayaknya enggak. Hari ini tugas gue banyak banget." Jawab Marvin.


"Sayang, aku ikut ke mall ya." Ucap Gavin menatap Seline.


"Eh, Seline, nanti bareng mobil gue aja." Ajak Lily yang di balas dengan anggukan.


Mereka berlima terus berbincang menghiraukan dua orang yang sedari tadi berusaha ikut dalam perbincangan mereka. Mereka berlima seolah sepakat untuk mendiami Lina dan Gavin serta menganggap dua orang itu seakan tak ada.


Lina dan Gavin merasakan hal itu. Dua orang itu tengah bertatapan seolah berbicara melalui telepati. Terlihat jika Lina tengah memendam emosinya dan Gavin pun sama. Namun keduanya tak menyadari jika Seline bisa melihat kemarahan dari sorot mata mereka.


"Ini kamu yang bayar kan?" tanya Seline pada Vino.


"Iya. Gue yang bayar jaket couple kalian." jawab Vino malas.


Bagaimana tidak malas, sudah satu jam lebih Vino hanya duduk di sudut sambil memandangi ketiga gadis yang asyik dengan dunia mereka sendiri. Andai saja dia tahu jika selama ini menunggu perempuan belanja, lebih baik dirinya menonton film sendirian saja. Ayolah, menunggu itu hal yang sangat membosankan baginya.


"Kalau gitu, tambah ini boleh nggak?" tanya gadis pirang itu lagi.


Seline menunjukkan dua buah hoodie berwarna hitam dan abu-abu dengan gambar couple di hadapan Vino.


"Beli aja. Nanti gue bayar." ucap Vino santai.


"Oke, makasih Vino." jawab Seline tersenyum.


"Kalau gitu yang ini punya Vino ya."


Seline memberikan hoodie yang berwarna hitam itu pada Vino. Laki-laki bertato itu menerimanya dengan bingung.


"Kenapa di kasih ke gue, Sel?"

__ADS_1


"Soalnya ini buat kamu. Masa kamu yang belanjain kita tapi kamu nggak beli apapun. Jadi ini punya kamu ya."


Vino melongo, namun ucapan Seline selanjutnya mampu membuat Vino semakin bingung.


"Kalau yang abu-abu ini buat Lily ya. Biar kalian berdua punya barang couple."


Setelah mengatakan itu, Seline berlalu pergi meninggalkan pria bertato itu bengong. Namun tak lama, Vino kembali dengan ekspresinya dan bergumam, "sudahlah. Apapun yang dia lakukan, yang pasti bukan uang gue yang habis."


"Lumayan juga ini hoodie." Gumam Vino sambil melihat-lihat hoodie hitam yang kini ada di genggamannya.


Setelah mereka berbelanja, kini Vino memberikan satu persatu tiket yang ada di tangannya pada tiga gadis yang mengerubunginya.


"Nih, tiket kalian."


"Kenapa kamu pesan tiket dengan kursi pasangan?" tanya Seline membolak-balikkan tiket miliknya.


"Benarkah?" tanya Jenni ikut melihat tiket miliknya.


"Emang kenapa? Tadi kata petugasnya tiket yang ada tinggal ini aja. Yang lain penuh. Kalian tahu sendiri kan kalau film ini tuh emang lagi best seller." Bela Vino yang memang asal beli.


"Terus gue sama siapa?"


Kini Jenni melihat satu per satu tiket milik temannya, "Gue duduk sama lo, Vin?"


"Iya mungkin. Gue juga nggak tahu."


"Ishh.. gimana sih. Lo yang beli, lo yang bagiin, kok lo malah nggak tahu apapun." Julid Jenni.


"Gimana kalau kita tukeran aja." Usul Seline.


"Kalian nggak keberatan kan?" lanjutnya.


Semua mengangguk. Vino yang malas berdebat pun ikut mengangguk karena dirinya memang hanya murni ingin menonton film bergenre action tersebut, entah dengan siapapun itu.


"Kalau gitu, tukar ya."


Seline langsung mengambil tiket milik Vino dan menukar dengan miliknya. Setelah itu dia menarik tangan Jenni agar segera memasuki area bioskop. Meninggalkan Lily yang tengah terkejut dengan aksi sahabatnya.


Lily kira jika Seline ingin duduk bersama Vino. Makanya gadis pirang itu menyarankan untuk bertukar tiket. Tapi ternyata..


"Ayo masuk. Gue nggak mau ketinggalan filmnya." ajak Vino.


"A-ayo." jawab Lily malu-malu.


Gadis berponi itu melangkah bersama Vino dengan pikiran kemana-mana. Pipi gadis itu memanas dengan diiringi detak jantung yang kian berdebar kala memasuki area bioskop dan duduk bersanding dengan pria yang disukainya.


Ya, Lily Valencia, gadis berponi itu sudah memendam perasaan pada Vino sejak lama. Dan tak ada siapapun yang mengetahui perasaannya sampai saat ini. Karena Lily sendiri tak ingin merusak persahabatannya karena cinta.

__ADS_1


Itulah yang dia pendam selama ini.


...****************...


__ADS_2