Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Sesi curhat Seline


__ADS_3

Seline menenggelamkan wajahnya di atas meja, dia lelah sedari tadi berusaha menghindari tunangannya. Mau sampai kapan seperti ini? Begitulah pikirnya. Dia takut dan bingung. Haruskah dia memutuskan tunangannya sekarang juga? Tapi mengingat dia tak memiliki bukti yang cukup, dirinya hanya bisa menghela nafas panjang.


"Udahlah, mending lo nggak masuk kuliah aja dulu." Saran Jenni yang sedari tadi setia menemani Seline kabur-kaburan dari Gavin.


"Aku bingung, Jen." Lirih Seline.


"Udah nggak usah bingung, gimana kalau kita bolos bareng sampai tunangan lo berhenti gangguin lo." Ajak Lily yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Seline.


Saat ini Seline bersama temannya tengah ada di sebuah cafe tak jauh dari kampus. Di jam makan siang seperti ini, biasanya mereka akan berada di kantin. Namun karena situasi yang tidak memungkinkan, Seline pun memutuskan untuk makan di cafe saja. Dan beruntung sekali, dua sahabatnya mau menemaninya.


"Nggak bisa. Nanti kalau kita dapat nilai jelek gimana? Satu minggu yang lalu kan kita habis ijin liburan ke Paris selama satu minggu." Celetuk Seline.


"Tenang aja. Kan rektornya paman gue. Minta libur satu minggu lagi juga nggak masalah. Biar gue yang tangani." Ucap Lily.


"Gak bisa gitu, Lily. Seminggu yang lalu aja kita udah minta libur. Masa sekarang mau libur lagi."


"Ya terus gimana, Seline? Lo sampai kapan mau kejar-kejaran terus sama dia?" tanya Lily balik.


"Maaf nih, bukan maksud kita ikut campur. Tapi kalau lo nggak keberatan, lo mau nggak cerita masalah sebenarnya ke kita?" tanya Jenni berusaha menengahi.


Lily mengangguk karena jujur saja, sebagai sahabat Seline, mereka tak terlalu dekat. Seline selalu enggan bercerita hal privasi dengan Lily ataupun Jenni. Selama ini Seline selalu bercerita dengan Lina seorang.


"Jadi gini.."


"Gue ada konflik sama Gavin."


Seline mulai bercerita tentang masalahnya dengan Gavin. Semuanya. Tentang Gavin yang memintanya untuk tinggal bersama dan menjual rumahnya. Tentang Gavin yang berselingkuh dengan Lina. Bahkan Seline tak segan-segan menunjukkan video mesum tunangannya yang sempat dia rekam beberapa hari yang lalu.


Seline sudah tak meragukan Lily dan Jenni lagi karena berdasarkan dari kehidupannya dulu, Lily dan Jenni lah yang kerap membantunya tanpa bertanya apapun. Jadi Seline akan mulai mempercayai Lily dan Jenni.


Selain itu, Seline juga mulai mempercayai Vino. Karena pria itulah yang tadi membantunya dari amukan Gavin. Dan Vino sendiri juga berkali-kali sempat memperingatinya mengenai Gavin di kehidupannya dulu namun tak pernah diindahkannya.


Saat ini tinggal Marvin, apakah pria itu orang Gavin atau dia hanya sekedar berteman dengan Gavin? Apakah dirinya bisa mempercayai Marvin seperti dirinya mempercayai yang lain?


Kembali ke Seline..


BRAKKK!!!

__ADS_1


"Gila! Lina kenapa bisa nggak tahu malu kayak gitu sih!" Amuk Jenni.


"Bener tuh! Nggak tahu diri banget tuh cewek. Ngapain coba rebut cowok sahabat sendiri!" Timpal Lily.


Keduanya tak terima. Mereka tak bisa membenarkan sama sekali tindakan Lina dan Gavin yang berselingkuh dan hendak merebut harta Seline.


"Seline, lo coba jujur sama gue. Selama ini lo punya masalah nggak sih sama Lina? Perasaan hubungan kalian baik-baik aja deh." Ucap Jenni tak habis pikir.


Tindakan Lina benar-benar di luar nalar. Berani menusuk sahabat kecilnya sendiri.


Seline berusaha mengingat-ingat apa kesalahannya pada Lina hingga gadis itu menaruh kebencian sebesar itu padanya. Namun berkali-kali Seline mencoba mengingatnya, baik di kehidupannya dulu maupun sekarang, dia tak memiliki kesalahan yang fatal hingga harus menerima kebencian sebesar itu dari sahabatnya sendiri.


"Aku nggak tahu. Mungkin aku pernah melakukan kesalahan pada Lina. Tapi aku sudah berusaha mengingat dan sejauh ini aku tak tahu apa kesalahanku hingga mendapatkan kebencian itu dari sahabatku sendiri."


Seline menitikkan air matanya tanpa sadar. Seline ingat, sedari kecil dirinya dan Lina selalu bersama-sama. Seline ingat saat pertama kali dirinya berkenalan dengan Lina saat keduanya masuk di sekolah dasar yang sama dan duduk di bangku bersebelahan. Dan ternyata mereka berdua tinggal di satu komplek membuat keduanya semakin dekat.


Seline dan Lina memutuskan untuk sekolah di tempat yang sama. Bahkan sampai detik ini, Seline dan Lina juga kuliah di kampus yang sama meski jurusan mereka berbeda.


Seline lebih dulu mengenal Lina daripada yang lainnya. Itulah yang membuatnya mempercayai Lina lebih dari siapapun. Karena Seline baru berteman dengan Lily dan Jenni saat bertemu di sekolah menengah atas.


"Terus sekarang apa rencana lo?" tanya Jenni.


"Nggak mungkin kan lo diam aja setelah tahu semua ini?" lanjut Jenni.


Belum sempat Seline menjawab, tiba-tiba saja kursi di sebelah Jenni di duduki oleh seseorang. Membuat ketiga gadis itu bungkam seketika.


"Wihh.. tumben nih nongkrong cuma bertiga. Biasanya kalian berempat nggak pernah pisah. Kemana yang satunya?" Tanya Vino.


Ya, orang yang tiba-tiba datang itu adalah Vino, salah satu teman mereka. Vino tanpa permisi bahkan mengambil kentang goreng yang ada di meja, entah milik siapa itu.


"Ngapain sih Lo tiba-tiba ke sini?" tanya Jenni mulai risih dengan kehadiran Vino.


"Iya. Lo ngapain sih tiba-tiba nimbrung. Ini teritorial khusus cewek ya. Lo yang cowok mending pergi deh." Usir Lily.


Vino tak mengindahkan usiran kedua gadis itu. Vino bahkan langsung menangkup wajah Seline, membuat Seline terkejut dengan tingkah random Vino yang tiba-tiba.


"Lo ngapain nangis, Sel?" tanya Vino memperhatikan wajah Seline di tangannya.

__ADS_1


"Ishh.. Lo apa-apaan sih?!" tepis Jenni membuat Vino berhasil menjauhkan tangannya karena kesakitan.


Lily menekuk wajahnya melihat tingkah random Vino. Namun sedetik kemudian, Lily kembali menetralkan ekspresinya seolah bukan apa-apa. Dan Seline tak sengaja melihat perubahan wajah Lily, membuatnya menyadari sesuatu.


"Vino, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Seline setelah berhasil menghapus air matanya.


"Gue sebenarnya mau ngasih ini." ucap Vino sambil memberikan sebuah flashdisk kecil.


"Apa tuh isinya?" tanya Lily.


Lily hendak mengambil flashdisk yang ada di meja itu. Namun dengan cepat Vino mengambilnya kembali.


"Seline, sebelum gue kasih ini, gue mau tanya satu hal." Ucap Vino sambil menggoyang-goyangkan flashdisk miliknya.


"Gimana perasaan Lo sama Gavin sekarang?" tanya Vino.


Jenni mendelik. Sedangkan Lily, sorot mata gadis itu semakin mendung meski wajahnya tak menunjukkan ekspresi cemburu. Untuk apa Vino mempertanyakan perasaan Seline pada Gavin? Apakah Vino hendak mengungkapkan perasaannya? Begitulah pikir Lily.


Lama memperhatikan, Seline mulai angkat bicara dan menjawab pertanyaan Vino dengan lantang.


"Aku benci sama Gavin."


"Jadi rasa cinta Lo buat dia udah hilang?" tanya Vino sekali lagi.


Seline mengangguk yakin.


"Ya. Rasa cintaku buat dia udah hilang sejak aku tersadar dari mimpi burukku." Jawab Seline lantang.


"Bagus."


Vino menyerahkan kembali flashdisk yang dibawa ke tangan Seline secara langsung.


"Kalau gitu, nih, hadiah buat gue sebagai sahabat lo. Gue harap lo bisa gunain itu dengan bijak."


Seline tersenyum menerima benda kecil itu. Meski dia tak tahu apa isi di dalamnya, tapi dia yakin jika isi dalam flashdisk tersebut akan bermanfaat untuknya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2