Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Makan Malam


__ADS_3

Seline melihat pantulan dirinya saat ini. Seline memakai dress hitam simple dengan potongan tanpa lengan. Rambut pirangnya dia gerai dan diberikan aksen pita di bagian belakang. Dan untuk wajah, Seline memakai make up tipis dengan lipstik berwarna peach.


Seline juga memakai kalung mutiara dan beberapa gelang kristal berwarna putih. Gadis itu membawa tas kecil berwarna hitam yang senada. Juga memakai heels berwarna hitam dengan aksen mutiara kecil di atasnya.


Setelah dirasa penampilannya cukup, Seline pun memutuskan untuk turun ke bawah. Terlihat jika Bibi Lela tengah terpesona dengan sosok majikannya.


"Wahh.. nona cantik banget." Puji bi Lela.


"Terima kasih, Bi." jawab Seline tersipu.


"Kayaknya Seline bakal pulang malam. Kalau Seline minta Pak Anton buat jemput Seline nanti, nggak masalah kan?" tanya Seline.


"Tenang aja, non. Pak Anton nggak bakalan nolak permintaan non Seline. Biar bibi yang bicara sama Pak Anton nanti." jawab bi Lela.


"Ya sudah, Seline pergi dulu ya."


Seline melangkah menuju mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya. Siapa lagi pemilik mobil itu jika bukan Gavin. Gavin memang sudah menunggu Seline di depan rumah gadis itu sedari tadi. Mungkin sudah dua puluh menit Gavin menunggu tunangannya keluar.


Gavin yang awalnya merasa sangat malas menunggu Seline, kini tampak terpesona akan kecantikan yang Seline tunjukkan. Gavin menatap kagum tunangannya tanpa kedip. Jarang sekali Seline berdandan seperti ini. Gadis yang ada dihadapannya ini terlihat sangat anggun dan menawan.


"Sayang, kita berangkat sekarang?" tanya Seline yang berhasil membuat Gavin kembali fokus.


"Iya. Ayo." ujar Gavin sambil membukakan pintu mobil untuk Seline.


Mobil hitam tersebut melaju menembus jalanan yang sedikit macet.


"Kamu cantik sekali, Sayang." Ucap Gavin sambil sesekali melirik Seline.


"Terima kasih. Aku memang sengaja berdandan malam ini." Balas Seline.


Gavin tersenyum senang. Dirinya kini merasa terbang di atas awan kala mendengar Seline dengan sengaja berdandan untuk dirinya. Padahal mereka hanya makan malam seperti biasanya saja.


Mobil terus melaju hingga sampailah ke tempat yang mereka tuju. Sebuah restoran mewah dengan pemandangan malam yang indah dan bisa mereka nikmati karena kini Seline dan Gavin tengah duduk di lantai atas.


Gavin tak membooking satu lantai restoran ini mengingat malam ini hanyalah acara makan malam biasa. Jadi dirinya tak perlu merasa bersikap romantis. Namun kebetulan sekali, sedari mereka masuk ke lantai atas, hanya ada satu meja yang terisi selain miliknya. Padahal Gavin tahu jika biasanya restoran ini selalu penuh mengingat betapa populer dan eksklusifnya restoran yang dikunjunginya kali ini.


Seline dan Gavin sudah menyebutkan pesanan masing-masing. Kini mereka hanya tinggal menunggu pesanan mereka datang saja.

__ADS_1


"Sayang," panggil Gavin membuat sang tunangan menatap Gavin.


Gavin menggenggam tangan Seline yang ada di atas meja, "sebentar lagi kan ulang tahun kamu, kamu mau kado apa dari aku?"


Seline nampak berpikir, dia teringat jika di hari ulang tahunnya, saat itulah dirinya kehilangan perusahaan miliknya karena kecerobohannya sendiri yang terlalu mempercayai Gavin.


Ya, pada tanggal 11 Juli, saat itulah dirinya dibujuk Gavin untuk menandatangani beberapa berkas pengalihan hak milik Rosell. Dan jika tebakan Seline tak salah, maka malam ini Gavin akan meminta sesuatu yang sangat berharga baginya.


"Aku nggak perlu kado apa-apa kok. Cukup kamu berada di sisi ku dan setia sama aku, itu udah buat aku bahagia." Ucap Seline manis.


"Begitukah? Tapi aku ingin sekali memberikanmu kado ulang tahun yang berkesan untukmu."


"Bagaimana jika aku belikan tas mewah untuk ulang tahunmu kali ini?" tanya Gavin.


"Boleh. Apapun hadiah dari kamu, pasti aku terima dengan senang hati." Ujar Seline berusaha tersenyum manis.


Tak lama, makanan yang mereka pesan tersaji. Keduanya makan dengan tenang.


"Sayang, kamu suka?" tanya Gavin menatap iris mata gadis pirang itu.


"Iya, di sini pemandangannya begitu cantik. Dan makanannya juga enak. Restoran di sini juga tidak terlalu ramai."


"Sayang, kamu tahu kan mimpiku selama ini?" tanya Gavin memulai pembicaraan.


Seline menatap Gavin dengan raut tak terbaca.


"Kamu tahu kan kalau sedari lama aku ingin sekali mendirikan club terbesar dan termewah se-Asia dengan tanganku sendiri?" lanjut Gavin.


"Kebetulan ada salah satu temanku yang ajak aku untuk bergabung bersama-sama mendirikan club malam seperti impianku selama ini. Bahkan dia tak keberatan dan membiarkanku meng-handle semuanya."


Menghela nafas panjang, Gavin melanjutkan ceritanya lagi. "Tapi, teman aku minta untuk seluruh biaya pembangunan dibebankan kepadaku. Namun untuk biaya lainnya dan lokasi pembangunan sudah disediakan temanku."


Seline masih setia menatap sang tunangan. Dia tahu kemana arah pembicaraan kali ini. Karena di hidupnya dulu, Gavin juga berbicara persis seperti saat ini.


Gavin mulai menggenggam tangan Seline yang ada di meja dan merubah mimik wajahnya sesedih mungkin.


"Sayang, kamu cinta kan sama aku?"

__ADS_1


"kamu bisa kan bantu aku? Nggak banyak kok. Aku cuma kekurangan dana sekitar dua puluh milyar aja." Pinta Gavin.


Bagus. Sekarang tinggal dirinya sebisa mungkin harus menolak permintaan tersebut jika tak ingin kehilangan rumahnya sendiri. Begitulah pikir Seline.


"Gavin sayang, kamu tahu kan aku nggak ada uang sebanyak itu?" Seline berusaha berbicara selembut mungkin.


"Bagaimana kalau kamu coba pinjam dulu ke bank? Atau kamu bisa minta tolong ke orang tua kamu."


"Dan saat nanti bisnis kamu sudah berkembang, kamu bisa balikin modal yang diberikan sama orang tua kamu."


"Tante Mila dan Om Heru nggak akan keberatan kok. Mereka pasti bangga sama kamu yang mau mencoba hidup mandiri."


"Kalau kamu kesulitan bicara sama mereka, biar aku yang ngomong sama mereka. Bagaimana?" Ujar Seline panjang lebar.


Gavin mengetatkan rahangnya mendengar alasan Seline. Pria itu bahkan tanpa sadar mencengkram erat tangan Seline yang dipegangnya sedari tadi. Membuat Seline meringis kesakitan.


Namun bukannya merasa iba, Gavin justru tak melepaskan tangan Seline meski gadis itu berusaha melepaskan cekakan tersebut.


"Lepas, Gavin! Tanganku sakit." pinta Seline.


"Seline! Lo bilang lo cinta sama gue. Lo bilang kalau lo akan lakuin apapun biar gue bahagia. Dan lo bilang kalau lo akan selalu dukung apapun yang gue lakukan, termasuk bantu gue kejar impian gue!"


"Tapi sekarang lo malah suruh gue minta duit ke orang tua gue! Mikir gak Lo! Kalau mereka campur tangan dan ngasih modal buat usaha gue, itu berarti gue bukan mendirikan club tersebut dengan tangan gue sendiri, tapi pakai duit orang tua gue!"


"Dan lo sendiri tahu kalau gue punya impian kayak gitu biar orang tua gue nggak ngeremehin gue kayak sekarang! Biar orang tua gue nggak banding-bandingkan gue sama kakak gue!"


Setelah mengatakan itu, Gavin dengan kasar menyentak tangan Seline. Beruntung tak ada piring di atas meja mereka karena sudah dibersihkan oleh pelayan sebelumnya dan hanya menyisakan dua cangkir minuman saja.


"Gavin, kamu tahu sendiri kan kalau aku nggak ada uang sebanyak itu? Bahkan tabungan yang ditinggalkan orang tua ku aja nggak ada setengahnya dari yang kamu minta. Maka dari itu, aku kasih saran seperti tadi." Ujar Seline berusaha tenang meski tangan satunya masih mengusap bekas cekalan tunangannya.


"Kalau gitu lo kan bisa jual rumah lo." Ucap Gavin dengan entengnya.


"Lo bisa pindah ke apartemen kita seperti yang gue saranin kemaren."


"Lagipula kalau usaha gue sukses, lo juga bakal ngerasain hasilnya. Karena lo yang akan jadi istri gue nanti."


"Dalam setahun, gue bahkan bisa beliin lo rumah yang lebih besar daripada rumah jelek lo itu." Lanjut Gavin meremehkan satu-satunya rumah yang ditinggalkan mendiang orang tua Seline pada anaknya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2