Seline: Change My Second Life

Seline: Change My Second Life
Lina sahabatku


__ADS_3

"Lina, itu memang perbuatanku."


"Lantas kamu mau apa? Membalas ku?" tanya Seline.


Lina tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha.."


Seline menatap Lina dengan bingung. Memang apa yang harus ditertawakan? apakah ada yang lucu di sini?


Tak lama, Lina menghentikan tawanya. Dia kembali berucap, "Jadi ini akhir persahabatan kita."


"Seline, inikah tingkah lo yang sebenarnya? Seperti yang gue duga, lo hanya pura-pura polos selama ini. Nyatanya lo adalah gadis yang jauh lebih menjijikkan daripada gue."


"Kalian semua berbicara seolah perbuatan gue dengan Gavin adalah suatu kesalahan. Tapi mereka bahkan tidak tahu apa yang sudah lo perbuat kan?"


Lina mendekat ke arah Seline. Gadis itu membisikkan sesuatu, "Seline si gadis manis yang polos ini ternyata sudah tidak perawan. Dan keperawanannya bahkan dinikmati oleh pria asing yang tak di kenal."


Tes..


Satu tetesan air mata jatuh di pipi Seline. Melihat itu, Lina menjauhkan tubuhnya dari Seline dan menatap mantan sahabatnya itu. Mengawasi setiap ekspresi yang dikeluarkan oleh gadis di hadapannya.


"Setidaknya gue memberikan kesucian gue karena kami saling mencintai, bukan seperti lo yang kenal orangnya saja tidak."


"Kita sama-sama bukan orang baik, Seline. Jadi kenapa cuma gue saja yang dipojokkan saat ini?"


Seline menghela nafas panjang, tak seharusnya dia emosional seperti ini. Dia memang sudah berusaha menerima kenyataan yang ada dan dia sudah berusaha berdamai dengan keadaan yang tak mungkin bisa dia kembalikan. Jika dia bisa meminta, dia ingin kembali di malam saat dia datang ke club itu. Setidaknya dia tak akan minum dan tak akan berakhir seperti wanita yang haus belaian karena minuman tersebut.


"Lalu kamu mau apa, Lina?" ucap Seline setelah berhasil menenangkan dirinya.


"Kamu sudah tidak memiliki bukti apapun kan saat aku tidur dengan pria asing itu?"


Terkejut. Gadis di hadapan Seline itu menatap penuh tanya. "Darimana lo tahu?"


"Karena aku sudah menghancurkan semua bukti yang kalian miliki. Bahkan aku sudah menghilangkan bukti CCTV yang ada di Paris sana."


"B-bagaimana bisa?"


Seline yang melihat Lina tengah gugup saat ini mulai tersenyum. Ternyata memiliki Vino sebagai sahabat dan menjadikan pria itu sebagai orangnya adalah hal yang sangat menguntungkan. Vino benar-benar pria berbakat. Dia sangat berterima kasih dengan pria itu.


"Tentu saja aku bisa. Kamu bahkan sudah tahu kalau aku bukanlah gadis polos seperti yang dibicarakan banyak orang. Lantas kenapa gadis sepertiku yang tak memiliki apa-apa ini tak bisa menghilangkan bukti tersebut? Bahkan aku tahu jika bukan hanya mantan tunanganku saja yang pernah menikmati tubuhmu."


Skakmat. Lina terdiam. Dia awalnya hanya ingin menggertak Seline saja karena selama ini hanya dialah yang digunjingkan oleh banyak orang. Tapi ternyata, mantan sahabatnya ini ternyata sudah mengetahui segalanya.

__ADS_1


"Sudahlah, Lina. Hentikan semua ini. Aku masih menghargaimu karena kamu adalah satu-satunya sahabat yang paling dekat denganku sedari dulu. Kenapa kamu berubah begitu jauh? Tidak bisakah kita berhenti untuk menyakiti?" tanya Seline baik-baik.


Lina mengepalkan tangannya. "Tidak akan. Gue akan terus menjatuhkan lo sampai semua orang tahu kalau gue lebih baik dari lo."


"Setidaknya lo harus merasakan apa yang selama ini gue rasakan, Seline. Lo bahkan nggak tahu rasanya dibanding-bandingkan oleh keluarga sendiri."


Setelah mengatakan itu, Lina bergegas pergi. Dia melewati Seline dengan menabrakkan bahunya pada gadis itu. Beruntung Seline punya refleks bagus.


Seline menghela nafas panjang menatap kepergian mantan sahabatnya itu. Dia tak mengerti, kenapa Lina begitu sangat membencinya? Apa yang telah dia perbuat hingga Lina menjadi seperti ini?


Seline seketika menoleh kala mendengar suara tepuk tangan dari belakang tembok. Dia melihat jika Vino lah yang datang dan mendekatinya. Menatapnya dengan pandangan yang Seline sendiri tak mengerti.


"Jadi, kalian akan tetap bermusuhan setelah bertahun-tahun kalian berteman?" tanya Vino.


"Kamu mendengarnya?" tanya Seline balik.


"Tentu saja. Gue mendengar semua dari awal hingga akhir."


Seline menatap datar Vino. Jika pria itu mendengar semuanya dari tadi, kenapa Vino tak berniat membantunya sama sekali. Benar-benar pria aneh.


"Sudahlah, tak perlu menatap seperti itu."


"Gimana kalau gue antar lo pulang? Anggap aja karena gue lagi baik hati setelah melihat dua sahabat gue saling bertengkar."


Seline merotasikan matanya malas. Gadis itu kemudian melepaskan rangkulan tangan Vino dan berjalan meninggalkan Vino yang menatap Seline heran.


"Dasar wanita."


......................


"Pagi, Sweetie."


"Pagi." jawab Seline.


Setelah membalas sapaan Andre, Seline segera duduk dan menyantap makanannya. Hal ini sudah biasa terjadi. Di setiap pagi hari, Seline akan bertemu dengan Andre di ruang makan. Pria itu tetap sama, selalu menikmati secangkir kopi dengan tablet di tangannya.


Seline sempat berpikir, mungkinkah pria ini tak memiliki tempat tinggal? Kenapa setiap pagi Andre sarapan di rumahnya? Tapi Seline tak pernah menanyakannya secara langsung. Dia tak ingin menyinggung pria yang tak dikenalnya itu.


"Kenapa menatapku?"


Seline gelagapan. Gadis itu kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan menghindari tatapan Andre.

__ADS_1


"A-aku hanya penasaran." jawab Seline sambil mengunyah makanannya.


"Tentang?"


"Tentang asal usulmu. Apa kamu memiliki tempat tinggal? Apa kamu pengangguran? Dimana rumah aslimu? Dan kenapa kamu mengerti setiap ucapanku? Padahal aku terkadang membalas ucapanmu menggunakan bahasa Indonesia bukan bahasa Inggris."


"Jadi kamu sudah mulai membuka hatimu untukku?" tanya Andre menggoda.


"A-apa maksudmu?" tanya Seline gelagapan.


"Aku hanya penasaran saja. Selama ini kamu selalu berada di sekitarku. Kamu tahu segalanya tentangku. Bahkan kunci rumahku pun kamu tahu dimana letaknya."


"Tapi aku bahkan tak tahu siapa kamu selain nama panjangmu itu." lanjut Seline menggebu.


Andre tersenyum. Dia senang, ternyata gadisnya mulai penasaran dengannya. Bisakah dia berharap jika gadis pirang ini mulai sedikit tertarik padanya?


"Baiklah, aku akan menjawab pertanyaan kamu."


"Tapi jika aku menceritakan segalanya tentangku, bukankah kamu bisa terlambat karena mendengarkan ceritaku?" tanya Andre.


Seline nampak berpikir. Dia memang sedikit terburu-buru hari ini karena ingin pergi ke perusahaan miliknya. Dia semalam bahkan sudah menghubungi mbak Karin untuk merencanakan rapat tentang peluncuran yang akan diadakan sebentar lagi.


"Sweetie, sebaiknya habiskan dulu makananmu. Nanti aku akan bercerita semua tentangku setelah kamu memiliki waktu longgar."


Seline mengangguk setuju, "tapi kamu bukan orang jahat kan?"


Andre tertawa mendengar tuduhan yang dilayangkan Seline. Bukankah gadisnya ini sangat lucu?


Sementara Seline, menatap kagum mendengar suara tawa milik Andre. Entah kenapa suara pria itu terdengar sangat manly dan seksi secara bersamaan. Ingin sekali Seline merasakan lagi dekapan pria itu dan menyesapi bibir seksi itu.


"Duhh.. apa sih." batin Seline menggelengkan kepalanya agar segala pikiran negatif menjauhi otak kecilnya.


"Sweetie, aku bukan orang jahat. Jika aku jahat, mungkin aku sudah memperkosamu sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini."


"Benar juga." jawab Seline setuju.


"Sudahlah, sweetie. Segera habiskan sarapanmu. Agar kita bisa segera berangkat."


Seline menuruti ucapan Andre. Dia segera menghabiskan sarapannya agar bisa segera berangkat. Sebagai atasan, dia tentu tak ingin memberikan contoh buruk karena dia sendiri yang minta untuk diadakan rapat pagi ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2