
..."tak apa, jangan dulu siapa tahu esok ...
...bahagia mu datang :)"...
...__________...
mungkin itu firasatnya seharian ini. mau bagaimanapun langit adalah anak kandungnya batin keibuannya ikut terluka mendengar kabar ini. tak terasa ia menangis merasa takut sekaligus khawatir secara bersamaan.
"kamu jangan bercanda." ujarnya
"vanilla ga bercanda mah. nanti aku kasih alamat rumah sakitnya. mamah dateng malem ini jagain kak langit aku bakal pergi dulu kalo mamah ga mau ada aku disini asal mamah temuin kak langit dulu, dia butuh mamah." ujar vanilla seolah tahu bahwa wanita yang sedang bicara dengannya amat sangat tak menginginkan kehadirannya.
"yasudah. malem ini saya yang jaga dia. kamu bisa pergi dari sana sekarang." ujar wanita itu tanpa berpikir ada yang terluka di sana.
"iya mah. makasih udah mau ngomong sama aku" tanpa ada jawaban telpon itu langsung ditutup.
terukir senyum yang menyakitkan di sana lalu terdengar pula tawa yang menertawakan dirinya sendiri di sana. vanilla bangun dari duduk dia melihat kearah kakaknya itu yang masih belum terbangun.
"kak langit kenapa gw gak pernah rasain disayang kek lho atau kek dia, gw gak berhak ya rasain semua itu. apa gw harus terbaring ke lho dulu biar semua orang bisa sayang biar gw sempet rasain nya juga."
"ayah, mamah, bunda bahkan lho semuanya gk ada yang sayang dari dari dulu sampe gw segede ini haha" ujar gadis itu sambil tertawa namun matanya menangis ia juga sesekali memukul dadanya yang sesak
"ga ada yang peduli gw kak. bahkan kalo gw nangis gw butuh seseorang gw gak ada siapa-siapa. gw cape selama ini, lho tau ga gw udah berapa kali nyoba buat mati" ujar vanilla dengan suara yang semakin pelan.
gadis itu takkan berani mengatakan seperti itu jika orang dihadapannya ini sadar. vanilla memanfaatkan keadaan untuk bercerita dengan kakaknya itu tentang apa yang selama ini ia pendam sendirian. ia hanya berharap setelah ini perasaannya akan lebih baik dan tenang.
setelah lelah mengeluarkan semua keluh kesahnya. dengan menengadah ke atas seperti memaksa air matanya masuk kembali, vanilla tersenyum pada kakaknya dia bersiap ingin keluar dari sana.
"makasih ya kak udah dengerin. gw tinggal dulu mamah mau nemuin lho mungkin sebentar lagi sampe. lho cepat bangun gih." ujar vanilla kemudian mengusap lembut dahi langit dengan tangan kanannya.
kemudian gadis itu keluar dari sana. dia tidak mungkin pulang ke rumahnya malam ini. mungkin dia butuh suatu tempat untuk menghabiskan waktu sendiri sambil mencari ketenangan.
tanpa ia sadari laki laki yang terbaring itu dari ujung matanya meneteskan ari mata.
______
__ADS_1
12:12
dibibir pantai seorang laki laki sendirian terduduk di sana menikmati dinginnya malam dengan pikiran yang tak karuan banyak hal yang terjadi hari ini untuknya.
tiba-tiba berbunyi notifikasi dari ponselnya sebenarnya dari tadi memang sepertinya banyak yang mengirim pesan padanya dan dia yakin salah satunya adalah ibunya yang seperti biasa selalu mengkhawatirkannya dengan malas dia membuka ponsel yang sejak tadi sama sekali tak tersentuh.
rasanya ia merasa bersalah jika membicarakan ibunya terus mencarinya hingga jam segini.
benar, dia memang mendapat pesan dari ibunya tapi itu dua jam yang lalu. ada pesan dari yudha rio dan grup kelas serta grup klubnya membahas kejadian tadi. tak ada yang menarik menurutnya namun yang paling atas sedikit membuatnya penasaran
vanilla membalas pesannya jam segini. apa gadis itu belum tidur pikirnya dan tiba tiba saja baskara merasa merindukan gadis itu.
message
^^^12:13^^^
^^^"iya bas.."^^^
12:14
^^^12:14^^^
^^^"belum, lho aja belum tidur"^^^
12:15
"ehehe gw lagi diluar."
^^^12:15^^^
^^^"ngapain jam segini diluar, tapi ngomong-ngomong gw juga si haha"^^^
12:16
"seriusan lho. sekarang lho dimana terus sama siapa, ini udah malem."
__ADS_1
^^^12:16^^^
^^^"kepo lho"^^^
diam diam vanilla seolah menunggu balasan dari baskara. entah sudah ke berapa kali gadis itu menarik nafas dalam-dalam. karena tak kunjung mendapat balasan vanilla memasukkan ponselnya kedalam kantong celananya lalu kembali menatap ombang yang saling bersahutan didepannya.
sedang asik tengelam dalam berbagai macam pikiran. tiba-tiba sebuah jaket melingkar dipundaknya. vanilla tersentak kaget dia refleks ingin bangun namun di tahan oleh laki laki yang kini ikut duduk disampingnya.
"ga nyangka ya bisa ketemu disini" ujar baskara memulai obrolan
"hmm" gadis disampingnya itu menatap sama dengannya ke depan.
"lho mau pulang. gw anterin la yuk" ujar baskara setelah beberapa menit mereka saling diam dengan pikirannya masing-masing.
"ga bas gw lagi mau disini. lho aja yang duluan pulang" ujar vanilla sambil menatap ke langit yang disampingnya
"gw juga lagi pingin disini.."
tak lama kemudian terdengar isa kan yang lolos dari bibir mungil gadis itu. dia sebenarnya sudah menahannya dari tadi. rencana ia untuk melepas semua sendirian ditempat itu sepertinya gagal dia tak ingin seorang ada disisinya saat ini melihatnya terpuruk jatuh saat ini namun mengapa laki laki ini harus datang disaat dirinya tidak mampu menahan air mata.
"la lho nangis, lho kenapa??" ujar panik baskara sambil menatap wajah sedih gadis disampingnya.
"gw.. gw gak papa lho pergi aja bas gw pengen sendiri" ujar vanilla yang tak kuat lg membendung air matanya namun ia tak suka dengan keadaan ada seseorang melihat itu semua termasuk baskara.
"gak van.. gw ga mungkin biarin in lho Sendiri disini. klo lho ga mampu buat cerita gak papa setidaknya izinin gw buat nemenin lho" ujar baskara yang kemudian memeluk tubuh gadis itu yang ternyata semakin terisak sangat kuat didalamnya.
seperti waktu yang tepat vanilla memang sangat membutuhkan suatu pelukan. tak bisa menolak gadis itu merasa sangat nyaman hingga tumpah sudah segala air mata yang ditahannya. seumur umur baru baskara yang membuat nya merasa ditemani seperti saat ini.
baskara sedikit merasa paham mengapa gadis itu tak bisa menceritakan apapun pasti karena masalah keluarganya. karena laki laki itu sudah sempat membaca isi hati gadis yang kini bersamanya lewat buku diary yang tak sengaja ditemukan oleh dia.
ya baskara sudah mengetahui semua tentang gadis itu, memang itu tidak baik karena dia dengan lancang membuka privasi seseorang tanpa izin. dia penasaran hingga kelewatan namun setelah iya membaca semuanya semalaman laki laki itu tertegun bahkan ikut merasa terluka dengan nya.
"gw harap lho bisa berbagi rasa sakit lho ke gw la walau bukan sekarang lho bisanya." ujar baskara dalam hatinya.
langit yang tadinya sedikit gerimis kini terang kembali dengan kehadiran ribuan bintang bertaburan di sana. dua orang itu sama sekali tak terpejam hingga pajar terlihat bangkit dengan indah.
__ADS_1