
Langit mengangkat kursi rodanya dengan tangan dan melemparkannya ke tubuh baskara hingga sedikit membuat ngilu bagian tulang tubuh itu yang terbentur. namun saat ini baskara seolah menulikan telinga serta rasa sakitnya hanya untuk tetap berbicara dengan vanilla walau sesaat.
"la.. gw mau lho tau kalo gw sayang sama lho, gw harap lho bisa bahagia. sebenernya gw pingin terus sama lho cuma kalo kehadiran gw bikin lho sakit mending gw pergi dari sekitar lho" laki laki itu berucap dengan mata yang berair.
kesal peringatan nya ta didengarkan langit mengambil gelas yang ada dekat jangkauannya itu lalu melemparkannya tepat mengenai kepala bagian samping baskara lalu pecah terjatuh ke lantai.
"stt argh.. m-maffin gw la bikin lho sakit, gw gak pernah mau jadi sebab lho sakit " ujar baskara mata keduanya saling menatap dalam sedikit pudar karena sama-sama mulai terhalang gelinangan air yang terkurung di sana.
tangan vanilla tetap di genggam hangat oleh tangan yang lebih besar darinya,
merasa muak yudi yang sedari tadi duduk diam kini turun tangan ia mencengkram kerah baju baskara dengan kasar lalu membawa tubuh itu menjauh dari vanilla.
"gw bakal pergi tapi biarin gw ketemu vanilla sebentar" baskara memberontak, hingga satu pukulan mendarat ke wajah nya memberikan sensasi kebas yang cukup membungkam mulut baskara.
merasa tak dihiraukan yudi kembali melayangkan beberapa pukulan membuat tubuh baskara jatuh kebawah, hendak mengambil tubuh itu lagi namun satu suara membuat pergerakan yudi terhenti.
"cukup !!!" dengan nada peringatan dan permintaan
"udah cukup d-dan kamu baskara, gw mohon mulai sekarang di manapun dan kapanpun kita ketemu lagi anggap kalo kita ga saling kenal " sedikit terbata gadis itu berucap dengan tatapan yang tak berarah
"v-vanilla.." jujur ucapan itu membuat hatinya terasa sakit.
"sekarang pergi.." kini wajah vanilla ia paling kan ke arah yang berbeda dari keberadaan baskara. " gw mohon pergi!" lanjutnya
untuk beberapa detik baskara menatap gadis yang bahkan tak mau menatapnya lagi, perlahan ia bangkit dengan sendiri ada sedikit suara tawa yang ditujukan untuk dirinya.
suara sepatunya yang terdengar lemah mulai berjalan selangkah demi langkah meninggalkan ruangan itu. setelah gadis itu mengungkapkan perkataannya baskara tak lagi membantah dan mempertahankan keinginan laki laki itu untuk sesaat bersama vanilla walau untuk yang terakhir kalinya.
merasa bahwa dirinya harus cukup memahami dan sadar bahwa kehadirannya hanya akan melukai gadis itu. baskara dia tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan segala kebahagiaan seolah tak pernah berpihak padanya.
________
ditempat lain..
pintu itu baru terkunci dari dalam, orang orang yang tersisa diluar memahami rasa sedih dan mungkin wanita itu butuh istirahat dari lelahnya kenyataan tentang kehilangan.
__ADS_1
masih mengenakkan dress hitam yang ia kenakan saat di pemakaman, kini kakinya ia rentangkan di atas meja rias sambil menikmati nikmatnya duduk di kursi empuk di depan kaca.
"cukup merepotkan ternyata " sambil berucap ia memejamkan matanya sesaat, hingga kemudian kembali membuka untuk memperhatikan wajahnya sendiri yang ada didalam kaca.
"ais aku terlihat seperti wanita yang benar-benar sudah tua" tangannya mulai telaten membersihkan permukaan wajah nya.
dua mata sedikit sembab bahkan masih ada sisa jejak basah di sana.
tiba tiba dering ponselnya berbunyi menghentikan kegiatannya itu.
"......."
"pastikan semua benar benar aman" ujarnya dengan seseorang di dalam ponsel itu
"mom.." ujar seseorang yang baru masuk dengan satu nampan makanan di tangannya
"e- eh adel kenapa kamu yang bawa" beranjak berdiri lalu kedua tangannya menyambut yang dibawakan anak tirinya itu.
"gak papa mom tadi adel cuma gak sengaja lewat terus liat bik ati (pembantu) berdiri di depan pintu bawain makanan tapi momy gk keluar juga jadi adel aja yang bawain" jelas dengan tenang dari adel, sembab di matanya masih ada bahkan seperti nya bertambah.
tak ada penolakan.
"setelah ini gantian, gw yang jadi pemain" hanya suara di dalam hati dan satu senyuman setelah nya.
__________
hari mulai mengelap, rintik hujan yang tadinya tak mampu meratakan tanah yang kering menjadi basah dengan hadirnya. justru bahkan kini ada beberapa bagian jalan yang sampai mengenang airnya.
pandangan mata orang orang yang lalu lalang semakin terhalang oleh derasnya air yang turun ke jalan. hanya ada kendaraan beroda empat lah yang berani menerobos hujan itupun mereka berjalan dengan pelan.
anehnya setelah berjalan kaki sedikit jauh seseorang dengan tenang duduk di taman dekat rumah sakit. seperti tak merasakan kedinginan meski kini seluruh pakaiannya sudah di basahi oleh air hujan, perlahan ia mengangkat kepalanya menatap langit membiarkan rintik rintik yang sedikit keras itu menyentuh kulit wajahnya.
air mata yang diam diam keluar tanpa ekspresi sedih tersamarkan oleh hujan, memang itu tujuannya.
"mana baskara, lama amat, apa kita susul aja ke dalem yud" ujar rio, yudha seolah menimang nimang sebelum akhirnya ia mencoba menghubungi nomor sahabatnya itu.
__ADS_1
dua sahabat baskara memang ikut kerumah sakit namun baskara meminta keduanya menunggu di kantin yang ada di sana dengan alasan karena takut menganggu kenyamanan gadis itu bilang terlalu banyak orang datang bersamanya.
"nomornya ga aktif" ujar yudha ia menurunkan benda pipih yang tadinya ia angkat kesamping telinganya
"tapi itu motornya kan masih ada" ujar rio setelah sedikit celingukan melihat keberadaan parkiran motor yang masih terjangkau oleh matanya.
"berarti dia masih di dalem. kita susul aja"
meninggalkan bekas makanan mereka keduanya segera masuk mencari keberadaan ruangan vanilla, hingga tak terlalu lama kini mereka sudah sampai di depan pintu.
tangan rio yang sedang ter ambang di udara hendak mengetuk pintu itu urung setelah seseorang lebih dulu membuka pintu.
"cari siapa ?" ujar yudi yang kebetulan ada keperluan diluar, ia kembali menutup pintu ruangan itu agar tak menganggu adik temannya yang baru tertidur.
"ini ruangan vanilla kan? baskara nya masih ada di dalem? kita juga temennya vanilla."
ujar yudha
"ya ini ruangnya vanilla, orang yang kalian cari udah lama pergi dari sini, vanilla juga baru tidur jadi ga bisa di ganggu kalo kalian mau jenguk dia" ujar yudi dengan wajah datar kemudian berlalu dari sana.
rio yang sepertinya sedikit tersulut dengan cekatan yudha menahan lengan tangan temannya agak tak membuat keributan di sana.
"belagu banget jadi orang, siapanya vanilla sih" gerutu rio
"udah kita tanya satpam aja" yudha mengajak rio pergi dari sana
...________...
...MAKASIH YANG MASIH SETIAP NUNGGUIN CERITA INI, AKU BAKAL TETEP LANJUTIN CERITA INI SAMPE AKHIR WALAUPUN SEDIKIT LEMES KARENA PEMINAT NYA dikit....
...MAAF KALO MASIH BANYAK KEKURANGANNYA, DAN SOAL ILANG BEBERAPA WAKTU TERKAHIR AKU ADA BEBERAPA PROBLEM DI KEHIDUPAN AKU JADI GA BISA FOKUS NULIS BEBERAPA WAKTU TERAKHIR....
...OYA INI ADA AKUN SOSMED AKU YANG MAU MAMPIR BISA HEHE...
__ADS_1