SESAK

SESAK
episode dua puluh empat


__ADS_3

sejak mendapat berita dari yudi langit terlihat gusar di tengah rumah menunggu kedatangan orang tuanya di sana jika pria itu dalam keadaan baik seperti semula tentu tak butuh waktu lama ia akan langsung jalan sendiri kemana ia ingin pergi.


"langit kamu kenapa lagi, ayah lagi banyak kerjaan yang ditinggalin di sana cuma karena kamu" ujar seorang pria paruh baya yang datang dengan pakaiannya sedikit berantakan itu


"yah vanilla dirumah sakit sekarang ayuk kita harus ke sana" ujar cepat langit


"kamu ayah kira kenapa ternyata karena anak ga berguna itu. biarin aja dia bisa sendiri yang harus kamu pikirin itu diri kamu langit liat keadaan kamu sekarang." ujar geram ayahnya


"yah! bisa peduli sama vanilla sekali ini aja gak, dia lagi gak baik baik aja di sana kamu orang tua nya! kalo ayah gak mau cukup anterin langit ke sana sekarang" pinta langit, sungguh dia tak habis pikir dengan orang tuanya itu mengapa ia terlalu menutup hati untuk anaknya sendiri.


"ais punya anak keras kepala dibilangin. asal kamu tahu dia bukan adik kamu dia cuma anak yang gak tau dari mana perempuan ****** itu dapetin dia dan bodohnya ayah baru tahu setelah cerai sama mamah kamu"


keduanya sama sama diam bedanya satu mencerna apa yang didengar dan satunya lagi mencerna apa yang baru saja diucapkannya.


langit tertawa kecil di sana menangapi ucapan yang baru didengarnya baginya itu lelucon konyol yang pernah ia denger


"ck, ga yah jangan ngarang! vanilla adik langit sampe kapanpun dia adik gw" ujar langit langit menggelengkan kepalanya serasa percaya tidak percaya kenyataan yang baru ia denger bahwa vanilla bukanlah adik kandungnya.


__________


"pasien sudah melewati masa kritisnya, saya harap pihak keluarga bisa memperhatikan kesehatan mentalnya juga karena saya perhatikan banyak sekali bekas bercode ditangannya." ujar seorang dokter setelah panjang lebar menjelaskan.


langit masih mengingat ucapan dari dokter tersebut. mata nya memperhatikan dua lengan yang kini terbuka itu masih sangat jelas bekas garis bergaris yang bahkan ada yang masih baru terkelupas kulit keringnya.


langit sampai dirumah sakit dengan bantuan teman temannya, ayahnya masih bersikeras tak memiliki keinginan untuk sekedar melihat keadaan gadis itu dan justru ia kembali memilih pergi ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang tertinggal di sana.


"mamah.. mah" rancaw seorang gadis dengan mata yang masih tertutup itu

__ADS_1


"hei lho kenapa.." ujar lembut langit bahkan ia baru menyadari tutur katanya bisa selembut itu.


seolah tak mendengar panggilan langit vanilla masih saja merancaw dengan peluh keringat di keningnya yang semakin banjir padahal suhu di sana lumayan dingin.


"tunggu sebentar, biar gw panggil dokternya" ujar yudi sigap lalu menghilang dibalik pintu


langit menggenggam tangan dingin vanilla, wajah ketakutan dengan bibir pucat itu membuat hati kecil langit merasakan sesak.


apa yang dia lakukan sebagai seorang kakak yang diingatnya hanya luka luka yang hampir setiap hari diberikan untuk gadis itu dan tanpa sadar diluar pun dia juga dilukai.


tetesan air matanya jatuh mengandung penyesalan lagi, yang terakhir kali pun langit masih ingat dengan sengaja ia melampiaskan emosinya pada gadis itu dan masih sangat jelas bagaimana wajah ketakutannya.


tak butuh waktu lama yudi dengan seorang dokter yang sama masuk, laki laki berjas putih itu mulai memeriksa tubuh lemah vanilla mulai dari menekan nekan denyut nadinya lalu serangkaian pengecekan yang ia lakukan.


setelah beberapa menit membiarkan dokter memeriksa lagi..


"pasien akan saya berikan obat penenang, biarkan ia istirahat dengan tenang. saya sarankan setelah pasien pulih pasien dibawakan ke ahli psikolog/psikiater karena yang saya lihat pasien mengalami trauma atas apa yang dialaminya." jelas dokter tersebut lalu kemudian meninggalkan ruangan itu.


yudi dapat merasakan emosional langit saat ini, tak ada yang bisa ia lakukan selain mengawasi temannya itu dalam diam.


"soal ini lho serahin aja ke gw, biar gw sama anak anak yang nyari tahu siapa orangnya."ujar yudi


_________


kedua tangan gadis itu melingkar di pinggang baskara, ia begitu merasa senang sampai sepanjang jalan hanya ada senyuman di bibirnya. bagiamana tidak, baskara untuk pertama kalinya mengajaknya keluar berdua sebab biasanya dirinyalah yang biasa mengajak laki laki itu.


ya, baskara tak tahan diem begitu saja rasa penasaran dengan amarah yang memuncak membuatnya mengingat ingat siapa yang berkemungkinan menyakiti vanilla, namun entah mengapa rasa yakinnya lebih mengarah pada gadis yang saat ini bersamanya meskipun belum tentu benar faktanya.

__ADS_1


"baskara aku tahu kamu pasti suka sama aku juga, aku suka kamu kek gini" ujar ica semakin mempererat pelukannya


tak ada respon apa apa dari langit ia hanya terus melajukan kendaraannya sedang seseorang yang dibelakang nya begitu menikmati suasana berdua.


namun tiba tiba motor yang mereka kendarai berhenti dipinggir jalan yang gelap gulita, bata gadis itu hanya dapat melihat titik titik cahaya yang sedikit jauh dari mereka.


"bas.. kamu kenapa berenti, gw takut" ujar panik ica, padahal baskara tahu jelas gadis itu sangat takut kegelapan.


"sengaja" ujar enteng baskara


motor baskara dimatikan ica berusaha mengeluarkan ponselnya karena hanya itu sumber cahaya yang bisa digunakan, namun belum sempat gadis itu menghidupkan layar ponselnya, benda pipih miliknya itu langsung dirampas baskara seolah bisa terbaca olehnya pergerakan ica


"bilang ke gw apa yang udah lho lakuin ke vanilla" ujar baskara, kini tatapannya terlihat dingin lengkap dengan wajah datarnya


"baskara lho apaan sih, gw mau pulang sekarang!" bentak ica, ia hanya menutupi rasa takutnya


"kita gak akan pulang sampe lho bilang semuanya, siapa yang lho suruh kunci vanilla di kamar di toilet" suara yang bisanya disukai ica itu entah mengapa malam ini begitu menakutkan baginya.


"gw gk tau apa apa. sekarang bilang gw mau pulang!" ujar ica


"gw udah ikutin kemauan lho buat tunangan tapi kenapa lho masih nyakitin dia!" geram baskara


ica diam, entah bagaimana pria didepannya ini tahu soal itu. baskara terlalu tahu semua tentangnya begitu mudah bagi pria itu menekan dirinya untuk berbicara dan kini tak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti permainan pria itu.


"oke, kalo lho gak mau ngomong lho gw tinggalin disini" ujar baskara pria itu mulai naik ke motornya


"bas gak lucu gw takut gw mohon gw mau pulang" nada bicara gadis itu sangat ketara ketakutan.

__ADS_1


"ck(tertawa), kalo lho cwo udah abis lho,CAPET BILANG SIAPA!!"


"Leo.. gw mau pulang sekarang" ujar kalah ica


__ADS_2