SESAK

SESAK
episode empat belas


__ADS_3

setelah menghabiskan hari yang cukup panjang kini waktunya jam pulang sekolah.


dari setiap ruangan puluhan siswa keluar dari sana. begitupun vanilla, gadis itu ikut bersama salah satu kelas yang juga telah usai jam sekolah nya.


"buat pacar gw" ujar baskara memberikan bunga berwarna putih yang baru dipetiknya


"lho suka bunga la?" tanya baskara memperhatikan wajah gadis yang tengah mengulum senyum itu.


"hm .."


"kalo lho suka gw bakal kasih lho bunga tiap hari biar lho bisa senyum gini terus" ujar laki laki itu mengelus atas kepala vanilla, dia tak tahu saja detak jantung gadis itu bak berlari karenanya.


"jangan tiap hari nanti habis bunga sekolah karena lho cabut in" ujar vanilla dengan diiringi tawa kecil di akhirnya


"biarin.." ujar baskara acuh dengan lagak tak perduli nya yang dibuat buat. vanilla mencubit sedikit lengan baskara dan berhasil membuat laki laki itu mengaduh sambil tertawa


"baskara kita pulang bareng ya, inget kemarin kamu janji sama ayah kamu" ujar ica yang kini tengah memeluk lengan baskara


"apaan si ca. ya gw tahu gw harus pulang bareng lho tapi gak usah kek tadi" ujar baskara setelah melepas kan tangan ica yang melingkar dilengannya merasa tak nyaman


"ca mau bareng gw gak. gw bisa anter lho kan rumah kita searah" ujar vanilla yang memang benar rumah mereka bertiga satu arah namun rumah vanilla sedikit lebih jauh dari mereka.


"lho pulang sendiri aja, rumah baskara sama gw juga searah malah tetanggaan"


"yasudah gw pulang duluan ya la, lho hati hati.." ujar baskara yang kini mencuri cubitan di pipi kanan vanilla. gadis itu memegang pipinya yang kini agak memerah


ica ikut berlalu dari sana, kini gadis itu jalan beriringan dengan baskara kearah parkiran motor. begitupun dengan vanilla dengan menjaga jarak agar tak terlalu dekat dengan dua orang didepannya.

__ADS_1


setelah keduanya baru meninggalkan area sekolah vanilla langsung ikut menyusul di belakang. tatapan gadis itu menatap belakang punggung dua orang didepannya. vanilla entah mengapa merasa tak nyaman dengan apa yang dilihatnya gadis itu membiarkan satu persatu sepeda motor lain menyalipnya dengan mengendurkan gas motor agar berjalan sedikit lebih lambat.


diparkiran area rumah sakit vanilla mensejajarkan motornya di sana. berjalan dengan sedikit cepat sambil membawa kantong plastik berisikan bubur ayam serta sekotak susu dan roti yang dibelinya dimini market pinggir jalan tadi untuk langit.


namun tubuh mungil gadis itu tiba-tiba hampir tersandung oleh dorongan kecil mendadak dari seseorang yang kini sudah berjalan jauh didepannya.


"makanya kalo jalan itu minggir jangan ketengah" ujar reni ibu tirinya itu.


padahal di samping wanita itu ada ayah dari gadis hampir terjatuh karenanya, benar benar acuh bahkan pria paruh baya itu tak sempat menengok biarpun sesaat justru semakin mempererat rangkulan di pundak istrinya.


"lho gak papa van?" tanya yudi yang menahan tubuh vanilla


"gak papa kak" ujar vanilla menampakkan senyum yang yudi tahu itu terlalu di paksakan.


"lho mau ke ruang langit kan. yuk kita ke sana gw juga mau jenguk tu anak" ujar yudi


vanilla menganggukkan kepalanya lalu mereka kembali melanjutkan langkah mereka ke ruangan langit.


"makan dulu langit, ayah sama bunda udah bawain makanan dari luar jadi jangan cari alesan lagi" ujar reni berpindah mengelus surai nya


"gw udah kenyang lho ngerti gak!" bentak langit yang sudah tak tahan mendengar ocehan wanita tersebut


"langit!!" ujar ayahnya diiringi dengan satu tangannya yang menyapa pipi tirus langit.


"kamu gak ada sopan santu nya sekarang. bunda kamu itu perduli sama kamu bukannya kamu berterimakasih!"


"dia ngurusin gw gini cuma karena ada lho. gw bisa ngurus diri gw sendiri PERGI!!!" ujar langit penuh emosi tiba tiba dadanya terasa menyesakkan ia membanting wadah makan yang dipegang ayahnya sendiri serta apa saja yang terjangkau olehnya.

__ADS_1


vanilla dan yudi yang baru sampai berusaha menenangkan langit yang tengah memberontak. tak lama kemudian dokter dan beberapa suster yang mendengar kericuhan datang lalu mereka semua di minta untuk keluar dari sana.


"ini pasti gara gara kamu! langit jadi ikutan kurang ajar sama saya" sarkas wanita itu tiba-tiba pada vanilla


"tante jangan salah in vanilla. dia sama saya aja baru sampe." ujar yudi


"kamu gak usah ikut campur keluarga saya. kamu itu orang lain gak usah banyak omong!" ujar pria paruh baya itu dengan keadaan baju yang sedikit kacaw.


"ayuk yah kita pulang sekarang. kayak di dalem udah ada dokter yang jagain langit." ujar reni membawa suaminya pergi.


dari dalam perlahan suara amukkan langit mulai mereda, ntah apa yang di lakukan mereka terhadap pria tersebut. hingga beberapa menit dokter serta suster itu keluar dari balik pintu.


"keluarga saudara langit?"


"iya dok saya adiknya" ujar vanilla mendekat


"pasien sudah tertidur sekarang. saya terpaksa memberinya suntikkan penenang. saya harap kalian bisa memberikan ia dukungan dan jangan membebani pikiran pasien karena itu akan menghambat kesembuhannya. baik saya permisi" ujar dokter tersebut berlalu dari sana


lalu dengan sangat perlahan keduanya masuk kembali ke dalam ruangan itu. kini terlihat langit dengan mata indah yang sudah terpejam. vanilla mengambil duduk di dekat langit hanya menatap wajah kakaknya saja tanpa berani menyentuhnya.


air mata sialan itu jatuh lagi namun dengan segera vanilla menghapusnya dengan punggung tangan.


"udah van.. langit gak papa"


"lho makan dulu aja lho kan baru pulang sekolah pasti lapar" ujar yudi


"gak kak gw ga lapar. gw cuma ngantuk pingin tidur sebentar disini." ujar vanilla meletakkan kepalanya di atas lipatan kedua tangan. hanya menumpang sedikit dipinggir tempat tidur langit.

__ADS_1


"hm iyasudah kalo gitu kamu tidur aja dulu. nanti gw bangunin" ujar yudi yang kini mengambil duduk di kursi sofa di sisi kiri ruangan itu.


perlahan mata vanilla terpejam sedikit merasa nyaman dengan bau khas tubuh langit di dekatnya. memang kebiasaan vanilla saat kecil ia akan cepat tertidur jika di dekat langit.


__ADS_2