
berita kematian orang ternama di kalangannya itu tersebar dengan cepat, mengagetkan berbagai pihak dengan persepsi masing-masing. setelah mendapatkan panggilan telpon saat itu keduanya memang langsung menuju rumah sakit yang disebutkan. namun ketika sampai di sana istri maupun anak itu hanya menemui tubuh yang tak lagi bernyawa.
setelah pemakaman selesai wanita paruh baya itu tak berhenti menangisi kepergian suaminya. terlihat begitu berduka
tak berbeda jauh darinya seorang gadis yang berada di sana itu pun merasakan kehilangan yang sangat dalam.
suatu hal yang tak disangka sangka begitu cepat terjadi kecelakaan yang merenggut satu orang tua kandung nya yang tersisa itu harus pergi meninggalkannya juga.
satu per satu sanak saudara dan orang orang terdekat mulai pergi meninggalkan tempat persinggahan terakhir orang tuanya.
"del udah lho jangan nangis lagi ya" ica berusaha menenangkan sepupunya itu
__________
masih di ruangan bernuansa putih seorang pria dengan bantuan ahli terapi itu nampak tengah melakukan jadwal terapinya untuk yang kesekian kali. namun kali ini langit meminta untuk terapi di ruang vanilla yang kebetulan cukup luas itu.
vanilla cukup membaik bahkan gadis itu kini tengah duduk di atas sana sambil tersenyum menyemangati langit yang juga sesekali membalas senyumnya.
"kemajuan yang bagus saudara langit, saya harap anda terus berjuang lebih keras dari ini untuk mempercepat pemulihan" puji ahli terapi itu
bukan hanya langit yang senang mendengar nya vanilla pun ikut senang doa gadis itu kali ini didengarkan tuhan agar langitnya bisa segera sembuh.
"hai.." ujar seseorang yang datang dari balik pintu.
"baskara, kamu ngapain kesini?" tanya vanilla kala matanya bertemu dengan mata mantan kekasihnya itu
"jenguk in lo."ujar baskara tangannya meletakkan parsel buah-buahan ke atas meja kemudian mengambil duduk di samping tempat tidur vanilla
"kan kita gak ada hubungan apa apa lagi" entah mengapa vanilla mengatakan nya
__ADS_1
"emang ada larangan ya mantan gak boleh jenguk orang sakit hm" ujar ringan baskara sambil ia tersenyum pada gadis itu
sejak pertama kali masuk mata baskara langsung mencari keberadaan vanilla tanpa memperhatikan sekitar, laki laki itu bahkan mungkin tak sadar jika kehadirannya dari awal menarik perhatian seseorang yang sudah lama berada di sana.
"ngapain lho kesini" ujar tak ramah langit
kini vanilla bolak balik memperhatikan wajah keduanya. namun yang ia tangkap sepertinya langit tak menyukai kehadiran baskara
"emang lho siapa?" ujar balik tak ramah baskara, karena baginya pria yang baru berbicara padanya lah yang lebih dulu tak ramah berkata.
"walau gw ketemu lho cuma sekali tapi gw masih bisa inget lho sebelum gw berakhir kek gini"
baskara masih berusaha mengingat ingat siapa pria yang dihadapannya sampai satu nama yang disebut vanilla membuat ia sedikit lemas mengingat kejadian itu. matanya meniti ke kedua kaki langit yang terduduk di atas kursi roda.
"bas dia kakak gw, namanya langit" sahut vanilla di tengah keduanya
"dan kak langit ini baskara temen sekolah vanilla disekolah" lanjut nya.
memang banyak sekali tuduhan dan kecurigaan yang langit dapatkan untuk pria yang didepannya saat ini tetapi langit bukan tipe orang yang mudah menyimpulkan sesuatu hanya karena dugaan tanpa bukti yang jelas.
sebisa mungkin langit bersikap tenang karena langit melihat dari sekian banyak anak sekolah ditempat yang sama dengan vanilla hanya anak laki laki itu yang datang menjenguk adiknya.
"gw minta maaf ga sempet jenguk lho waktu kecelakaan itu, gw juga ga tahu kalo lho kakaknya vanilla" ujar baskara
"jadi kak langit terakhir balapan sampe kek gini sama lho." ujar tak menyangka vanilla
"iya van maafin gw, gw gak tahu kalo dia kakak lho bahkan gw baru tahu sekarang" jelas jujur baskara
vanilla menatap dalam dalam ke dua mata baskara seolah menyelidiki adakah kebohongan dari sana namun dirinya berhasil diyakinkan bawa laki laki itu mengatakan dengan kejujuran.
__ADS_1
jika dipikir pikir dengan baskara yang ia kenal sangat tak mungkin yang terjadi dengan langit ada unsur kesengajaan dari baskara. dirinya tahu betul bagaimana laki laki itu, vanilla berusaha berfikir positif bahwa semua itu real hanya sebuah kecelakaan.
suara pintu di buka seseorang masuk kedalam sana di tengah perbincangan mereka. sejak pulang subuh tadi yudi baru kembali menemui sahabatnya itu.
"ngapain kamu kesini!" ujar sarkas yudi ketika matanya menatap kehadiran baskara di sana yudi semakin menampakkan rasa tak sukanya
"dia temennya vanilla biarin in aja.." sahut langit
"keknya lho pasti bakal ngusir dia kalo lho tahu apa yang gw sama anak-anak temuin" ujar santai yudi sambil mengambil duduk di sofa yang sedikit jauh
langit nampak memasang wajah serius seolah benar benar ingin mendengar kan hal apa yang ingin temannya itu sampaikan.
"tunangannya itu orang yang udah buat vanilla adek lho sampe kek gini. ia nyuruh orang buat nyelaka in vanilly karena dia gak suka ni cwonya dekat sama adek lho"
"lho mau liat vanilla disakiti sama cwe gila kek tunangan lho itu lagi?" lanjut yudi
baskara benar benar tak berkutik, ia sadar apa yang dikatakan yudi memang sangat benar adanya namun rasa rindu dan khawatir ingin melihat keadaan vanilla membuat lupa bahwa mendekatkan dirinya pada vanilla justru sebuah ancaman untuk gadis itu.
penjelasan yudi langsung bisa ditangkap oleh vanilla siapa orang yang dimaksud nya, hatinya begitu sakit tak menyangka ica berbuat sejauh itu padahal dia sudah mendapatkan baskara darinya.
"gw liat lho udah mukul cwo itu suruhan cwe lho, terus ngapain lho kesini lagi?" ujar yudi semakin memojokkan baskara yang nampak diam tenggelam dalam rasa bersalah
langit berusaha berdiri dari duduknya untuk melayangkan satu bogeman yang cukup kuat menyapa pipi kanan baskara, meski akhirnya tubuh langit tersungkur karena belum cukup kuat kakinya menopang tubuhnya sendiri.
rasa marah tak terima membuatnya tak bisa jika tak meluapkan emosi saat itu juga.
"bangs*t jangan pernah lho deket vanilla lagi! pergi!" tak ada balasan dari baskara dia hanya diam, ia merasa begitu pantas mendapatkan semua itu bahkan belum cukup membayar kesalahannya pada vanilla.
"van gw minta maaf sama lho udah nyakitin lho, gw gagal" baskara berusaha menggenggam tangan vanilla, mata gadis itu sudah berair tak tahu apa yang sedang ia rasa kan lagi saat ini.
__ADS_1
langit mengangkat kursi rodanya dengan tangan dan melemparkannya ke tubuh baskara hingga sedikit membuat ngilu tubuh nya. namun ia seolah menulikan telinga serta rasa sakitnya hanya untuk tetap berbicara dengan vanilla sesaat.
"la.. gw mau lho tau kalo gw sayang sama lho, gw harap lho bisa bahagia. sebenernya gw pingin sama lho cuma kalo kehadiran gw bikin lho sakit mending gw pergi dari sekitar lho" laki laki itu berucap dengan mata yang berair.