
"udah bas sekarang lho teneng dulu, ini ga ada salah lho sama sekali." ujar rio dan diangguki oleh anak-anak lainnya.
baskara masih syok dengan kejadian beberapa jam lalu, walaupun memang tidak ada hubungannya dengan dia atas musibah itu. hanya saja baskara yang memang pada dasarnya takut melihat darah hingga tubuhnya bergetar hebat tadinya.
"tadi lho kalah cuma tipis banget. bahkan kayaknya bareng tapi tetep aja dia yang menang." jelas yudha sambil meneguk minuman yang dibelinya
"tapi buat pemula lho udah hebat bisa ngelawan langit yang pada dasarnya udah lebih duluan terjun ke jalanan" ujar seseorang dari arah belakang lalu mengambil duduk didekat anak-anak lainnya.
"gw ga peduli soal pertandingan. nanti gw mau ngasih uang taruhan itu lho tolong cari info ke anak klub mereka soal no rekeningnya. gw cabut dulu" ujar baskara kemudian memilih beranjak dari sana
"bas mau kemana?" tanya rio namun dihentikan seseorang disampingnya
"biarin dia sendiri dulu." ujar yudha karena dia paham betul temannya itu yang mungkin butuh ketenangan
_______
di lorong rumah sakit
jantung yang berdebar serta air mata yang menggambarkan rasa sedihnya seorang gadis berlari dengan diikuti laki laki disampingnya. vanilla kini sudah sampai rumah sakit dan sedang menuju ruang dimana adanya keberadaan langit.
keadaan depan ruangan yang menakutkan itu membuat kakinya gemetar terlihat ayahnya yang begitu khawatir menunggu dengan anak istrinya didepan sana.
tadi sebelum masuk didepan banyak anggota klub kakaknya itu yang juga ikut ke rumah sakit lengkap dengan deretan motor mereka yang memenuhi tempat parkir namun mereka memilih menunggu di luar karena tadi sempat diusir oleh wanita yang kini tengah menenangkan ayah dari laki laki yang terbaring lemah di dalam.
bisa di lihat dari balik kaca, langit tengah di tangani dokter dan beberapa suster yang membantunya. begitu sibuk hingga beberapa kali suster keluar masuk dari sana entah apa yang mereka lakukan dengan wajah wajah yang tampak menegangkan.
sempat beberapa kali vanilla bertanya pada suster yang keluar masuk itu namun nihil mereka tak memberi jawaban. serangkaian selang dan alat alat rumah sakit kini menempel ditubuh laki laki itu. satu perban melingkar di kepala dan entah apa yang terjadi dikakinya seperti terbungkus di sana.
"kak langit.." ujar vanilla sangat pelan hampir tak terdengar siapa pun
__ADS_1
dua tangan pria yang disampingnya memapah tubuh gadis itu agar tak merosot ke lantai karena lagi lagi kakinya seperti tak bertulang begitu lemas untuk sekedar berdiri.
yudi membawa vanilla berjalan sedikit ke kursi yang ada di sana untuk membawa gadis itu duduk.
tatapan tak suka dari ibu tiri gadis itu memang tak disadari vanilla gadis itu sedang terisak tak memperdulikan sekitar.
"kak yudi.. sebenarnya kak langit kenapa bisa ke gini??" tanya vanilla menatap pria disampingnya.
"dia tadi ikut balapan lagi. waktu mereka udah lewat garis finis baru ini kejadian kayaknya ada masalah sama motor dia soalnya gw sempet liat gerak gerik paniknya dia sampe akhirnya motor dan dia jatoh di jalanan itu cuma gw yakin ada yang maen kotor dari lawannya itu" jelas yudi pada gadis yang tengah menatapnya tak percaya
"kenapa sih mereka tega ke gini ke kak langit cuma karena ngerebutin uang ngorbanin nyawa orang lain . gw benci sama orang itu" ujar vanilla dengan kembali menutup wajahnya yang dibanjiri air mata lagi
selang beberapa menit seorang dokter keluar dari sana dengan membuka masker yang menutupi wajahnya.
"keluarga pasien?" ujar dokter muda tersebut
"untung kalian cepat membawanya kesini telat sedikit saja itu akan sangat sulit. pasien kehilangan banyak darah dari luka di kepalanya dan kaki pasien mengalami lumpuh sementara itu bisa kembali seperti semula dengan seiringnya waktu serta usaha melakukan terapi. pasien saat ini belum sadar kalian bisa melihat setelah ia dipindahkan ke ruang rawat. maaf saya permisi dulu." ujar dokter tersebut kemudian berlalu dari sana.
pria paruh baya itu kembali terduduk lemas sambil memegang kepalanya. begitupun dengan vanilla yang lagi lagi terisak begitu penuh duka.
________
masih rumah sakit, gadis itu tengah menunggu seorang diri di ruangan langit.
ayahnya harus pulang karena suatu pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan ibu dan adik dirinyapun memilih pulang kerumahnya karena merasa tidak betah ikut menginap di sana.
vanilla memperhatikan wajah langit itu yang terpejam belum mau membuka dua mata indahnya. lagi lagi satu tetes matanya terjatuh mengenai tangan nya sendiri.
ditangan gadis itu tergenggam ponsel langit yang memang sebelum balap semalam sempat ia titipkan pada yudi dan sebelum pria dengan anak-anak klubnya itu pergi ia mengembalikan ponsel itu pada vanilla.
__ADS_1
entah mengapa gadis itu tiba tiba menghidupkan layar ponsel yang bergambarkan Squidward hitam putih ditangannya. ya vanilla tahu kakaknya itu sejak kecil hingga sekarang masih menjadi pengemar tokoh kartun itu.
vanilla tersenyum mengingat dulu iya pernah sengaja memindahkan siaran tv kesukaan langit hingga membuat kakaknya itu marah padanya padahal gadis itu hanya ingin bercanda. kemudian iseng iseng vanilla memasukkan sandi hanya menebak saja tanggal lahir kakaknya itu dan ternyata itu benar.
sempat melirik ke kakaknya yang masih belum juga terbangun. vanilla hanya tertuju pada satu hal, kontak mamahnya.
ya gadis itu ingin memberitahu tentang langit pada mamahnya sekaligus ingin mengobati rindunya walau hanya sekedar suara.
dengan rasa takut takut vanilla memberanikan dirinya menghubungi nomor telepon bernama mamah itu. sekali dua kali hingga beberapa kali panggilan itu tidak juga menemukan jawaban. seperti kata pepatah usaha tak menghianati hasil, akhirnya terdengar jawaban dari seberang sana.
"mau apa lagi kamu, mamah gak tahan diganggu langit. sekarang cepat ngomong?" ujar seorang wanita yang vanilla dapat yakinin itu mamahnya
jujur saja vanilla merasa terharu akhirnya dia bisa mendengar lagi suara itu.
"halo?"
"yadh mamah tutup telponnya" ujarnya lagi
"mah, ini aku vanilla aku kangen mamah" dengan suara yang bergetar vanilla berucap
"ngapain kamu nelpon saya pake ponsel langit segala, mana langit? kalo gak ada yang mau dia omong telpon nya mau saya tutup." ujar wanita paruh baya itu lagi
"mamah gk kangen vanilla, mamah ga mau ngomong sama vanilla mah? vanilla sebenernya salah apa? ujar gadis jujur dia sangat iri dengan kakaknya setidaknya mamah serta ayahnya masih menyayanginya.
"buat apa saya ngomong sama kamu. klo ga ada yang penting jangan telpon saya lagi"
"kak langit kecelakaan, dia belum sadar sampe sekarang mah" ujar vanilla segera karena takut wanita itu lebih dulu mematikan telponnya.
diam, seketika wanita itu diam mendengar apa yang baru didengarnya.
__ADS_1