SESAK

SESAK
episode tujuh


__ADS_3

brummm..brummm


suara motor sport yang berhenti tepat di depan seorang gadis SMA yang tengah berdiri bersama tiga laki laki teman sekelasnya itu. vanilla memperhatikan motor berwarna hitam tersebut sampai kemudian ia sadar siapa yang tengah berjalan ke arahnya.


"kak yudi..kenapa kak?" tanya vanilla saat itu. kebetulan sekolah sudah mulai sepi hanya tersisa beberapa siswa saja yang masih menunggu jemputan atau angkutan umum.


"jemput lho van.."


"gw disuruh langit, yuk pulang" jelas yudi lebih lanjut sebelum vanilla melontarkan pertanyaan.


vanilla manggut manggut, ternyata kakaknya itu masih memperdulikan nya. vanilla bersyukur akan hal itu yang berarti hubungan ia dengan kakak satu satunya akan kembali membaik seperti saat sewaktu kecil dulu.


" la.. siapanya lho" tanya baskara mendekat dengan wajah datarnya.


"ini temennya kakak aku. dia disuruh jemput aku sekolah biar pulang bareng" jelas vanilla pada baskara dan hanya mendapatkan kata oh dari laki-laki itu.


"bareng gw aja la.. suruh aja temen kakak lho pulang ntar lho gw yang anter." tawar baskara


"ga bisa. vanilla bareng gw sesuai yang diminta kakaknya." sambung yudi tak mau berlama-lama ia langsung menarik tangan kiri vanilla.


"lho ga bisa maksa vanilla dia punya hak buat milih" ujar baskara menarik tangan kanan gadis yang terlihat bingung dengan kedua tingkah dua laki laki tinggi di hadapannya.


dengan sedikit kasar yudi mendorong lengan baskara yang memegang tangan vanilla. baskara melepas tatapan mata tajamnya sangat terlihat tak bersahabat dan vanilla menyadari hal itu membuatnya mengedik ngeri.


"hmm gw pulang sendiri aja naek angkot kalian pulang ke rumah masing-masing aja" ujar vanilla menengahi dua orang yang membuatnya pusing.


"gak!!" terdengar sangat kompak

__ADS_1


vanilla kicep mendengar jawaban tersebut. dua orang itu saling melempar tatapan tak suka. terlihat beberapa guru baru keluar dari dalam gerbang sekolah dan sesekali memperhatikan mereka. kemudian yudha dan rio yang juga ada di sana memilih menyepil ketengah tengah mereka agar tak terjadi perkelahian yang tak diinginkan.


"ehehe bas lho bilang kita mau nonton Spongebob dirumah lho. yuk Sekarang keburu abis filmnya" garing yuda berusaha mencairkan suasana


"jam segini udah abis. adanya upin ipin da" timpal rio setelah beberapa detik mengingat jadwal film.


dan dari dalam sekolah sana bersamaan dengan para guru terlihat ica yang berlari kearah mereka tepatnya menghampiri baskara.


"bas aku pulang bareng kamu ya. plis aku ga bawa motor lagi di benerin soalnya." rengek ica sambil melingkarkan tangannya ke lengan baskara.


"apaan si ca. sama yang lain aja." jawab baskara.


"gw bilangin sama om ya lho gak mau anterin gw dan biarin gw jalan kaki" ancam ica dengan mata yang berkaca-kaca.


"van ayuk. gw ga bisa lama lama"


"lho bisa ga si sehari aja ga ganggu gw ca. selama ini gw udah diem aja tapi lho malah ngelunjak" ujar baskara kemudian dia berlalu pergi kearah motornya karena sudah mengetahui vanilla telah lebih dulu pulang dengan teman kakak gadis itu. baskara meninggalkan area sekolah tanpa membawa ica dengannya dan tanpa mengindahkan ocehan gadis itu.


"lah kita ditinggal anjim tu bocah" ujar rio


"ayuk ca gw anterin. mau lho di culik om om karena nunggu sendirian." ujar yudha yang sudah siap pergi dari sana.


dengan menghentak hentikan kakinya namun tetap menaiki motor yudha.


__________


20:36

__ADS_1


di ruangan serba biru langit tidak terlalu berantakan juga tidak terlalu rapih. televisi yang hidup di sebelah satu sisi itu dibiarkan tanpa diperhatikan. makan malam yang belum di sentuh tergeletak di atas meja samping kasurnya berkali kali handphone itu diambil lalu diletakkan kembali.


baskara duduk di ujung bibir kasurnya mengambil gitar dan mulai dengan lihai memetik senar hingga menghasilkan alunan nada yang indah. mengenakan sepotong kaos hitam dan celana pendek ia menyilang kan kaki hingga beberapa menit pun berlalu.


pintu putih di depannya tiba tiba saja dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu. seorang Pria paruh baya yang tak lain adalah ayahnya datang langsung menuju kearahnya.


baskara menghentikan permainan gitarnya saat itu juga.


"yah.. udah pulang?" tanya baskara karena memang sejak iya pulang sekolah tadi yang dia tahu ayahnya belum pulang dari kantor


"ga usah bicara yang gak perlu. ayah gak habis pikir sama kamu bisa bisanya kamu ga mau anter ica pulang bareng kamu sampe dia nangis nangis kayak gitu."


"kamu ga inget ayahnya yang dulu nolong keluarga kita dan buat berbuat baik sama anaknya aja kamu ga bisa!" ujar ayahnya tepat di depan wajah baskara yang terlihat mulai tersulut emosi.


"yah.. baskara cuma gak mau pulang sama ica dan itupun baru hari ini baskara gak nurutin apa mau dia. apa harus segitunya bales budi kenapa gak ayah aja." ujar baskara terhenti ketika satu tamparan melayang mengenai wajahnya.


baskara masih diam merasakan nyeri yang menjalar ke pipi dan hatinya. bagaimana bisa ayahnya melakukan itu hanya karena dia tidak mengantarkan ica pulang sesuai kemauan gadis itu. selama ini baskara menahan rasa tidak nyamannya karena mengingat bagaimana dulu ayah ica membantu perekonomian keluarga mereka yang sangat jatuh parah. namun semua seperti terus tidak cukup dan baskara dipaksa mengorbankan dirinya untuk amat patuh akan kemauan anak dari orang yang telah membantu keluarganya meski sebenarnya ia sangat terganggu.


seperti pada beberapa tahun terakhir ica slalu ingin diantar jemput bersama baskara, ica slalu ingin terus satu kelas dengan baskara, ica selalu kemana mana harus ditemani baskara dan laki-laki itu harus menurutinya.


jujur saja baskara sudah lelah dengan semua itu sangking lelahnya baskara selalu membayangkan jika suatu saat nanti dia biasa membayar semuanya tanpa harus ada lagi rasa wajib balas budi yang terus mengganggunya.


"mau kemana kamu!" hentak ayah baskara


baskara mengambil jaket miliknya yang tergantung di dekat meja sekaligus mengambil kunci yang tergeletak di atas meja. baskara tak memperdulikan pertanyaan ayahnya. dia segera menjauh ada rasa kecewa di hatinya namun dia tak ingin melawan orang tua yang telah membesarkannya maka dari itu baskara lebih memilih menjauh kan diri untuk mencari ketenangan. baskara melewati pintu yang ternyata baru datang seorang wanita paruh baya yang amat ia cintai sekilas menatap mata tersebut lalu kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya.


"sudah yah. jangan berlebihan kasian baskara biar dia cari ketenangan. bunda yakin baskara gak bermaksud sengaja bikin nangis ica juga." ujar wanita tersebut agar menghentikan suaminya yang ingin mengejar anak laki laki mereka

__ADS_1


__ADS_2