
derasnya masih tak berkurang juga, sudah hampir setengah jam tubuh itu tak bergeming justru dirinya nampak menikmati dinginnya hujan yang seolah memeluknya.
tak ada siapa siapa hanya saja sesekali ibu ibu yang tak jauh dari situ melihat kearahnya dengan menggeleng geleng kan kepala sebab melihat seorang laki laki yang sengaja menguyur kan tubuhnya sendiri di tengah derasnya hujan malam, terlalu bodoh pikirnya.
"bas lo bego atau apa! udah lama lho disini? gw sama yudha dari tadi nyariin lho, kek bocah tau gk ujanan kek gini"oceh rio yang baru datang dengan yudha. baskara hanya diam matanya menatap sesaat kedua temannya itu lalu kembali melempat tatapan yang lurus ke depan
beberapa menit yang lalu, setelah mereka menanyakan sosok baskara pada satpam rumah sakit laki laki agak tua itu hanya mengatakan terakhir melihat pria dengan ciri ciri yang di tanyakan anak muda didepannya itu berjalan kaki sendiri keluar ke arah sebelah kiri dari sana.
Mereka berdua terpaksa menerobos hujan demi mencari keberadaan baskara dan benar dapat mereka kenali dari pakaian sahabatnya itu tengah duduk diam sendiri membelakangi keduanya.
"cape gw.." suara yang samar karena bersaing dengan suara deras hujan itu namun masih tetap bisa di tangkap oleh telinga keduanya
"apapun masalah yang lagi lho hadapin lho kuat bas lho gak boleh gini, lho harus ingat lho ada kita klo lho ngerasa berat ngadepin nya sendiri." ujar tulus yudha, entah mengapa sangking lama nya pertemanan mereka hingga ia bisa merasakan rasa sakit yang sedang sahabat nya itu rasakan.
Yudha memeluk tubuh lemah sahabat nya itu, ia tahu banyak nya problem yang sedang baskara alami bahkan tanpa laki laki itu menceritakan. meski tanpa suara isak dan tak terlihat air mata yudha yakin bahwa baskara sedang menangis saat ini.
pada akhirnya rio ikut memeluk keduanya, ia hanya terlalu khawatir dengan sahabatnya itu sebab baginya baskara maupun yudha diam diam ia anggap sebagai abang karena dia hanyalah anak tunggal di keluarganya dan kedua sahabatnya itu memberikan rasa nyaman yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
"apaan si anj dingin woy ayuk ke sana aja" ujar rio setelah beberapa saat adegan dramatis menurut nya itu buyar karena rasa dingin yang semakin menjadi.
"ya asu sampe dalem dalem lelep punya gw"ujar yudha yang ikut melonggarkan peluk kan
baskara tertawa mendengarnya seperti biasa mereka lah yang selalu ada setiap kali dirinya rapuh dan begitupun sebaliknya walaupun terkadang cara mereka menghibur agak lain.
"gw gak kebayang punya lo bas pasti udah ber keriput kedinginan " tambah rio berhamburan pergi duluan karena yakin sebentar lagi kata kata mutiara baskara akan keluar
"menciut.." tambah yudha kemudian ia ikut berlari dari sana
"anj anak dakjal lo berdua !!" ujar baskara, kini ketiganya berhamburan dari sana saling
kejaran menuju parkiran dirumah sakit.
_________
__ADS_1
terlelap dengan tenang vanilla memeluk boneka kecilnya yang di bawakan langit dari rumah mereka. suasana sepi jam dinding menunjukkan sudah pukul 2 malam.
langit terpaksa menitipkan vanilla pada yudi untuk memintanya menjaga gadis itu, setelah beberapa jam lalu ia di suruh paksa papahnya untuk pulang kerumah. karena tak ingin menganggu istirahat vanilla pada akhirnya langit menurut sebab papahnya sempat mengancam untuk membawa vanilla pulang saja kerumah juga.
yudi sama sekali belum terlelap, ia tak keberatan bahkan ia suka malam ini, dimana dirinya bisa dengan leluasa memperhatikan gadis yang sudah sangat lama ia sukai secara diam diam.
yudi mengangkat ponselnya karena terlalu gemas dan sayang jika tidak diabadikan ia mengambil gambar wajah vanilla yang terlelap dengan manis itu.
"shitt!" umpat nya kala yudi lupa mematikan lampu dari hasil jepretan kamera ponsel nya.
dengan refleks yudi menurunkan benda pipih itu, untung saja vanilla tidur begitu sangat lelapnya hingga dia tak terganggu sama sekali oleh tindakan ceroboh yudi.
setelah ia memastikan vanilla masih aman tertidur ia melihat hasil curian gambar itu yang nampak begitu cantik dimatanya.
satu tarikan di bibirnya melengkung menciptakan senyum yang amat jarang di lihat siapapun.
ibu jarinya menari di atas layar yang sengaja di minim kan pencahayaan, dia menggeser gambar ke gambar lainnya. hanya ada satu dan dua foto selfi dirinya lalu sisanya adalah foto vanilla yang ternyata ia ambil secara diam-diam.
yudi bangkit mendekat ke tempat tidur vanilla entah apa yang ia lakukan dirinya hanya menatap dalam sedikit lama di sana, kemudian sedikit merendahkan tubuh lalu menyondongkan ke depan.
"tidur yang nyenyak" ujarnya lalu menarik tubuh setelah memberikan satu kecupan di pipi vanilla.
flashback on
di sebuah taman depan halaman rumah yang cukup megah itu, bermainlah dua anak laki laki dan satu anak perempuan tengah bermain bola bersama sambil menikmati udara sejuk sore hari yang menyenangkan.
"kak langit aku kapan kebagian bolanya" ujar seorang anak kecil berumur 6 tahun dengan wajah cemberutnya.
"udah kamu jaga aja gawangnya atau maen boneka aja anak perempuan juga" ujar langit sambil ia dan teman kecilnya asik berebutan benda bulat itu.
lelah berdiri vanilla duduk berjongkok hanya memperhatikan kakak dan temannya itu bermain, ia ada boneka dan mainan anak perempuan lainnya namun sayangnya tetangga mereka di sana hanya ada satu anak itupun laki laki, itu membuat mainannya kurang ia minati.
"kenapa berenti lang?" ujar anak sepantaran langit yang memiliki nama Yudi Anderias teman pertama bagi kakak adik itu dan begitu pula sebaliknya.
__ADS_1
langit memasang wajah seperti ada sesuatu yang terjadi, yudi memperhatikan temannya dengan ekspresi kebingungan.
"hm kamu main sama vanilla dulu aku mau ke toilet..."ujar langit dengan cepatnya menghilang dari sana.
"ada ada aja" ujar yudi sambil tertawa kecil karenanya
dapat yudi lihat vanilla berdiri mata anak perempuan itu berbinar-binar kearahnya.
yudi mengerti maksud itu.
"sini, kamu mau main?" ujar yudi
"memangnya boleh ka vanilla main" tanya vanilla sambil ia mendekat
"ya boleh, nih" ujar yudi tersenyum, bola itu di tendang sangat pelan ke bawah kaki vanilla hingga wajah cemberut tadi berubah senang.
keduanya bermain oper bola bolak balik dari kaki vanilla ke kaki yudi berulang ulang. awalnya semua baik baik saja karena terlalu bersemangat tendangan vanilla entah bagaimana bisa sekeras itu harus hingga melesat memecahkan kaca depan rumahnya sendiri.
suara wanita yang tak lama keluar dari dalam rumah membuat vanilla ketakutan dan bersembunyi dibelakang punggung yudi. ia tak sengaja melakukan kesalahan, namun bayangan bagaimana cubitan atau tali pinggang papahnya itu terlintas di kepalanya.
ia tidak boleh membuat kekacauan atau akan berakhir seperti beberapa hari lalu yang baginya nampak mengerikan.
"astaga vanilla kamu bikin ulah lagi!"
"bukan vanilla tante yudi yang lakuin nya" ujar anak laki laki itu, ia tak tega karena terlalu sering menyaksikan bagaimana anak gadis yang lucu dibelakang nya itu harus mendapat hukuman yang berat lagi.
Lalu seorang pria dewasa juga ikut keluar dari samping rumah mereka, seperti nya orang tua dari yudi.
"apa ini yudi, astaga maafkan kenakalan anak saya nanti akan saya perbaiki" ujarnya ketika memperhatikan keadaan sekitar itu.
lalu yudi harus menghilang dari sana dengan cengkraman keras dari ayahnya"
flashback off
__ADS_1
......BAKAL BANYAK KEJUTAN GUYS KEDEPANNYA, JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN SHARE DONG BIAR MAKIN SEMANGAT❤️❤️......