
..."sembuh, tapi tidak benar-benar...
...Sembuh"...
___________
air matanya sudah mengering disekitaran tempat ia terduduk kini ditaburi oleh helaian helaian rambut dengan berbagai macam panjang pendeknya. vanilla menekan dadanya yang sesak ia memukul-mukul rasa yang bersembunyi di sana. tak ada suara hanya tertinggal isak kan kecil yang belum sepenuhnya mereda.
vanilla beranjak ke arah kursi dimana di situ hanya tertinggal tas miliknya, terlihat terburu membuka semua bagian sisi tas itu kemudian seolah menemuka yang ia cari tangannya keluar dengan membawa satu benda cutter yang memang biasa dibawanya.
air mata sialan itu mengalir lagi di pipinya
tangannya bergetar dadanya terasa sesak
vanila mengangkat kaos lengan panjangnya
dengan perlahan vanilla menulis garis di sana
*segaris
dua garis
tiga garis*
hingga tak terhitung lagi jumlah karyanya hari ini, warna merah yang nampak nyata itu membuat vanilla kini tersenyum lega. vanilla menikmati rasa sakit dan perih yang hadir di lengannya.
___________
flashback on
"lho trauma di bully"
"gw denger denger lho pindah sekolah karena itu kan"percayalah wajah vanilla begitu ketara ketakutan
"gak papa kalo lho ga mau nurut. tapi lho harus siap jadi langganan bullyan kita" ujar ica yang berhasil membuat gadis didepannya menangis
"utu utu kasian banget sih" ujar sari
" enaknya untuk perkenalkan kita apa in yah" ujar ica terlihat mereka tengah menimang
"ok gw punya ide keknya cocok buat dia" ujar ica
__ADS_1
vanilla berusaha melawan sekuat tenaganya dia menangis dengan rasa takut, bahkan mereka mungkin menyadari betapa gemetarnya tubuh gadis itu.
"gw mohon ca, gw minta maaf lepasin gw" ujar vanilla sungguh sungguh.
"tarisa gw mohon lepasin gw. gw gk ada salah sama lho"
"diem lho!" ujar sari
ica kembali setelah beberapa menit ia mengotak atik tasnya sendiri.
"pegangin!" ujar ica dengan jelas dapat vanilla tebak apa yang akan mereka lakukan pada dirinya
kini vanilla bertekuk dilantai dengan paksaan dari ketiganya. sedangkan ica ia mulai menarik kasar rambut panjang vanilla hingga gadis itu mendongak ke atas dengan kesakitan ia hanya bisa pasrah tak ada yang bisa dilakukan selain menerima semua.
dapat ia lihat helaian helaian itu jatuh semakin banyak, ia menangis semakin menangis ketika mereka semakin kencang tertawa.
"gw yakin baskara yang bakal mutusin lho karena gw tahu dia gak suka cwe rambut pendek" ujar ica
flashback off
_____________
setelah meninggalkan sekolah vanilla pergi ketempat potong rambut biasa. iya hanya ingin sedikit merapikan rambutnya karena tidak mungkin dia menemui kakaknya langit dengan keadaannya yang menyedihkan.
"iya kak, gw cuma ke sekolah aja karena memang udah mepet banget lombanya jadi lama karena kurang waktu" jelas vanilla meyakinkan
"tadi pagi lho pergi pakai baju kaos. pulang pulang lho pakai hoodie?" ujar langit tanpa melihat lagi ke gadis itu yang sedang memikirkan jawaban yang akan di berikan nya
"gw tadi sempet pulang ke rumah juga ganti baju terus baru kesini"
"oya kak langit ini buburnya gw beli di jalan tadi" ujar vanilla sebisa mungkin menampakkan senyumannya
"gak. lho makan aja gw kenyang. besok-besok gak usah bawain gw apa apa" ujar langit kemudian ia menutup matanya
vanilla menatap bubur yang di belinya lalu gadis itu tersenyum oleh pikirannya sendiri.
'kak langit gak mau pasti karena dia mau gw aja yang makannya' ujar vanilla dalam hati.
___________
di rumah yang lumayan besar itu seorang pria yang berjalan dengan tangan serta fokus matanya menatap game online di ponsel itu berkali kali memanggil bundanya
__ADS_1
"bun... bunda" yang kesekian kali
"aden nyari nyonya ya" ujar seorang pelayannya
"iya bi bunda mana" tanya baskara sedang matanya seperti terkunci di layar ponselnya
"bunda sama ayah aden kan tadi keluar, aden lupa ya tadi kan sudah pamit sama aden" ujarnya kemudian mengembalikan ingatan baskara bahwa memang ayah serta bundanya sudah berpamitan padanya.
"aden ada yang bisa bibi bantu?"
"gak usah bi aden nanti nyari sendiri ke kamar bunda" ujar baskara berlalu
setelah sedikit berjalan lebih cepat kini baskara membanting tubuhnya keatas singgasana orangtuanya. memang baskara sudah biasa keluar masuk kamar orang tuanya. beberapa menit ia terlihat begitu fokus dengan permainan nya hingga suara senang dari kemenangan membuatnya merasa puas berekspresi.
"oiya.. dimana power bank kemaren ya, kemaren keknya tarok disini". ujar baskara bukan pada siapa siapa.
kemarin ia lupa membawa power bank nda yang tertinggal dikamar orang tuanya. baskara dekat dengan orang tuanya namun ia lebih dekat dengan bundanya karena menurut nya hanya bundanya yang amat mengerti prasaan pria itu.
kemarin baskara menceritakan seseorang yang iya cintai pada bundanya karena dia merasa butuh pelajaran dari bundanya yang sama-sama perempuan agar iya bisa memahami dan mengerti bagaimana yang diinginkan perempuan dan yang tak diinginkan perempuan.
bahkan banyak hal yang ia pelajari baskara hanya khawatir ia tidak bisa menjadi pacar yang baik untuk vanilla.
meskipun baskara sudah biasa saja masuk k kamar orang tuanya ia tak pernah menyentuh apapun, ia hanya tiduran di pelukan wanita paruh baya yang sangat ia cintai. tapi karena rasa tak sabar dan sangat ia butuhkan kali ini baskara akan mencarinya sendiri lalu akan meminta izin stelah orangtuanya kembali.
setelah seluruh permukaan kasur itu ia periksa ia membuka laci laci yang ada di setiap sisi. ya, akhirnya yang dicari ia dapatkan. namun ia juga menemukan kotak kecil tulisan terukir baskara & naiara yang dengan rasa penasaran baskara membukanya kotak itu.
satu kalung bayi dengan liontin berwarna kuning sebagai buahnya itu terletak di atas satu foto yang sama dengan foto foto kecil dirinya yang ditunjukkan oleh orangtuanya. tapi untuk foto yang satu ini baskara baru melihatnya.
terlihat dua bayi disejajarkan namun wajah bayi didalam foto itu tak begitu mirip mungkin ini yang dinamakan kembar tak seiras.
dahinya mengernyit bingung dengan semua yang dilihatnya, tentang siapa bayi satu itu mengapa orang tuanya tak memberitahunya jika baskara mempunyai saudara kembar.
"sayang kamu ngapain disitu" ujar seorang wanita mendekat.
"bun.. ini apa?" tanya baskara dengan tangannya menunjukkan foto yang ia temukan
"sayang kamu teneng dulu" berusaha mengambil foto dari tangan baskara namun tak semudah itu.
"ga bisa bunda. kenapa aku gak tau kalo aku punya kembaran! terus di mana dia"
"bun jawab baskara.." dengan mata memerah
__ADS_1
"kamu jangan mikir yang macem-macem baskara! dengerin dulu bunda ngomong" lalu diujung kalimatnya ia melembut.
"emang kenapa bun klo sampe baskara tau.. apa ini alesan ayah selalu marahin baskara kayak bukan anaknya. karena memang baskara bukan anak kalian" entah mengapa pikiran baskara sangat jauh hingga ia tak menyadari ia telah membuat wanita didepannya menangis