
pagi ini vanilla sudah pergi ke sekolah. sedikit berbeda dari biasa gadis itu untuk pertama kalinya diantar oleh seorang laki laki yang tak lain adalah kakaknya sendiri, langit.
tak ada yang tak mengenal pria yang kini tengah mengantar vanilla. wajahnya yang tampan dengan sedikit berkesan menakutkan karena jarang sekali menampakkan senyuman namun tetap mampu melelehkan kebanyakan hati perempuan.
sebenarnya pagi tadi langit sudah lebih dulu keluar dari rumah namun tak lama ketika vanilla sedang menunggu kendaraan umum untuk pergi ke sekolah nya langit dengan motor sport nya itu kembali lagi memutar arah dan terlihat berhenti di depan gadis yang tengah sibuk memantau pergerakan jalan raya.
"cepetan gw buru buru" ujar langit tanpa menghentikan mesin motornya.
dan tanpa pikir panjang vanilla langsung naik keatas motor kakaknya itu sedikit kesusahan memang karena dia menggunakan rok untuk bawahannya. agak canggung bagi vanilla tapi tidak bisa dipungkiri gadis itu tengah menahan rasa senang. sedikit berlebihan mungkin bila sekedar hanya diantar tapi baginya itu begitu berarti dia seperti merasakan rasa yang selama ini yang dia ingin kan, rasa disayangi. hanya butuh kurang dari setengah jam kini motor yang membawa kakak beradik itu sudah berhenti tepat di depan gerbang sekolahnya.
langit sedikit menurunkan motornya ke samping vanilla buru buru turun dari sana setelah memastikan ia sudah turun langit segera pergi dari dan hilang dengan cepat dari pandangan. terdengar bisik bisik dari beberapa siswa dan siswi yang sepertinya menyalah artikan hubungan vanilla dengan kakaknya sendiri.
"la.. lho cwenya langit" tanya sari yang kebetulan baru tiba juga di sana
"bukan lah. dia kakak gw." jelas vanilla meluruskan
"kakak gimana. kalian tuh beda banget dan gak ada mirip mirip nya." ujar sari sambil memperhatikan dari ujung rambut hingga ujung sepatu gadis yang di hadapannya
"lucu lho la. ngaku ngaku haha" ujar siswi lainnya sambil berlalu.
"apaan sih lho pada. kalo ga percaya yasudah gw ga maksa." ujar vanilla dengan sesantai santainya
"dari muka langit tadi aja kek ga iklas banget boncengin lho. secara kan langit anaknya terkenal juga. masa punya adek kek lho. kalo adek tiri sih ya mungkin aja gw bisa percaya." ujar sari kemudian berlalu dengan teman temannya.
vanilla hanya diam sambil berjalan sendiri ke kelasnya perkataan itu agak menganggu paginya. segera dia menuju ke bangku miliknya dan duduk diam di sana.
__ADS_1
"vanilla strawberry cokelat. lho kemarin demam ya karena kehujanan waktu itu?" tanya baskara tiba tiba dari belakang gadis itu tak menoleh vanilla hanya menganggukkan kepalanya.
satu kotak susu vanilla muncul dari belakang samping tubuh gadis itu.
"buat lho. biar lho kuat" ujar baskara
"gw udah kuat dan gw juga ga suka susu vanilla." tolak vanilla masih tanpa menoleh
satu kotak susu vanilla tadi menghilang bersama dengan tangan yang terulur membawanya tadi. kemudian datang kembali dengan membawa satu kotak susu rasa coklat. vanilla tersenyum menurut nya itu sedikit lucu dan pada akhirnya dia mengambil susu coklat itu.
"ternyata namanya vanilla belum tentu suka vanilla ya" canda baskara sambil memperhatikan gadis di depannya.
"hmm.." vanilla meminum susu pemberian baskara, setidaknya dia perlu sedikit penenang untuk memulai hari ini. dan susu itu sedikit membantu.
vanilla menoleh diam sesaat lalu tersenyum pada baskara yang juga melihatnya.
tepat setelah vanilla kembali menghadap ke depan. baskara meleleh ke samping sambil menggenggam roti pemberian vanilla barusan. begitu dengan vanilla yang saat ini tengah menyembunyikan senyumnya.
"anjir ni bocah lagi pagi woy. kenapa malah lho yang baper" ujar yudha menepuk pipi baskara yang tengah merona di pundaknya.
"jantung gw disko ***"
________
di sebuah bangunan tua. perkumpulan anak anak motor sedang ramai membahas sebuah rencana balap antar klub yang memang biasa mereka lakukan. ada sekitar dua puluh sampai dua puluh lima pasukan di sana. mereka sudah lama membangun klub tersebut bahkan dari jaman nya sekolah dan masih bertahan sampai saat ini hingga merembet ke orang orang luar yang ikut tertarik bergabung. beberapa bekas botol minuman yang masih basah berserakan di sana. klub itu seperti tempat pelarian bagi mereka dari sebuah masalah keluarga untuk mencari ketenangan dan juga kesenangan.
__ADS_1
bahkan kadang tak jarang mereka mengidap hanya untuk menghabiskan waktu malam dengan berkumpul.
"ntar malam gw yang turun" ujar langit ditengah tengah perbincangan mereka soal rencana balapan kali ini
"wih mantap singa kita ***. kenapa nih lagi butuh duit kah bro" goda teman teman langit.
langit tak merespon apapun dari omongan mereka karena memang karakter nya yang tak banyak bicara atau mungkin terlalu malas berbicara.
"bukannya lho bilang kemaren lho udah dapet kerjaan dan mulai kerja nanti malam. gimana ceritanya." tanya yudi salah satu teman akrab langit.
"soal itu ntar gw cari lagi. gw lagi butuh uang sekarang di" ujar langit
"buat apaan sih" tanya yudi lebih lanjut
"gw mau beliin vanilla motor, kasian dia susah jalan pergi ke sekolah." jelas langit pada temannya yang satu itu.
terlintas ingatan beberapa adegan vanilla yang slalu terlambat datang ke sekolah ataupun pulang ke rumah. ditambah lagi gadis itu yang sepertinya tidak memiliki teman yang mau memberikan ia tumpangan. membuat hati kecil langit terasa sakit padahal dia tak ingin perduli akan hal itu.
ayah mereka sebenarnya mampu untuk membelikan vanilla sepeda motor namun jika itu untuk gadis itu pria paruh baya itu tak sekalipun berminat memberikannya.
Yudi manggut-manggut mendengar penjelasan dari langit.
"mau dia beneran adek kandung lho atau bukan suatu saat nanti. gw harap lho tetap bisa jadi kakak yang baik karena lho sma dia dari kecil udah hidup sama sama. dan yang gw liat vanilla dia anak yang baik dia pantes lho jadiin adik." ujar yudi pada langit yang terlihat sedang memikirkan sesuatu
"oya ntar siangan lho bisa kan jemput vanilla disekolah nya. lho kan pulang arah sana sekalian bawa tuh anak pulang gw mau benerin motor ini dulu buat persiapan ntar malem." ujar langit pada yudi
__ADS_1
"hm oke santai aja. ntar vanilla gw anterin pulang ke rumah." yudi selain sahabat dia juga mungkin satu satunya orang kepercayaan langit selama ini. karena yang tahu betul bagaimana dan apa yang dialaminya hanya dengan sahabatnya itu langit mau berbagi. karena memang pertemanan mereka yang sangat lama bahkan dari masih anak anak memang sudah sedekat itu.