SESAK

SESAK
episode tujuh belas


__ADS_3

"kamu jangan mikir yang macem-macem baskara! dengerin dulu bunda ngomong sayang" dengan diujung kalimatnya ia melembut.


"emang kenapa bun klo sampe baskara tau.. apa ini alesan ayah selalu marahin baskara kayak bukan anaknya. karena memang baskara bukan anak kalian" entah mengapa pikiran baskara sangat jauh hingga ia tak menyadari ia telah membuat wanita didepannya menangis


"enggak sayang. kamu anak bunda dan sampe kapanpun kamu anak bunda" ujar wanita itu kini menarik tubuh baskara ke pelukannya


tubuh baskara turun kebawah merasa sakit di hatinya entah mimpi apa dia semalam hingga hari ini terasa dunianya berhenti begitu menyakitkan. walau semua belum keluar dari suara kedua orang tuanya ia sudah yakin dengan pikirannya sendiri sangat tak menyangkan hingga kecewa ia rasakan.


laki laki itu menangis didalam peluk kan ibu yang ternyata bukanlah ibu kandungnya. kenyataan macam apa itu.


"bun gak bener kan ini. baskara anak bunda" kini laki laki yang sudah dewasa itu menangis dengan lirih yang sangat rapuh


"walau kamu bukan anak yang lahir dari perut bunda kamu tetep anak bunda sayang tuhan cuma punya caranya sendiri untuk mempertemukan kita dan bunda gak perduli yang perlu baskara tau kalo baskara anak bunda" ujar wanita itu


kedua tangannya mencakup wajah anak laki laki yang ia besarkan selama belasan tahun itu, ia merasa sakit karena telah menyakiti hati putranya tapi mau bagaimana lagi mungkin sudah tiba waktunya baskara mengetahui segala yang tidak ia ketahui tentang dirinya sendiri


"GAK! gak bun ini bohong" ujar baskara menjauh dari pelukan wanita yang sudah kebanjiran air mata.


"sakit bun rasanya sakit" ujar baskara perlahan ia meninggalkan wanita yang menatap nya penuh permohonan.


_________


"gimana dok keadaan anak saya" tanya ayah langit pada dokter yang baru selsai memeriksa


"keadaan nya mulai membaik mungkin besok pasien sudah bisa pulang ke rumah dan juga sudah bisa memulai terapi untuk kesembuhan kaki nanti akan saya sarankan dokter spesialis yang akan menangani pasien. terimakasih saya permisi" ujarnya tersenyum ramah kemudian berlalu dari sana


"syukurlah terimakasih dok"

__ADS_1


vanilla berdiri disudut ruangan sedikit menjauh ia bersyukur atas apa yang dikatakan dokter barusan tentang kakaknya.


di sana keluarganya berkumpul namun seperti biasa dia seolah tak hadir diantara mereka.


ayahnya yang sedang memotong buah buahan lalu kemudian menyuapkannya kepada langit dan dian secara bergantian


reni dan anaknya itu pun ada di sana.


entah mengapa ia mulai melirik kearah vanilla beberapa kali membuat gadis itu gugup dan takut.


benar saja ia mendekat kekhawatiran di hati vanilla menaik tatkala tatapan mata bundanya mengarah keatas kepala vanilla yang tertutup. sial, dia belum menyiapkan jawaban apapun untuk hal itu.


"sayang kamu kenapa diem disitu vanilla. ngapain pakai hoodie segala kayak gak ada baju lain aja. kamu gak panas apa?" ujar wanita itu sambil berusaha menarik kebelakang topi hoodie vanilla.


vanilla pun berusaha menahannya hingga terjadilah aksi tarik menarik, disisi lain ayah vanilla sudah menatap tajam kearahnya sesekali langit terdengar angkat suara meminta keduanya untuk berhenti.


"bun jangan. vanilla gak mau lepas!" ujar vanilla


kini vanilla hanya tertunduk, rambut dengan model potong laki laki itu sangat mengejutkan semua orang terlihat memberi tatapan kebencian yang dapat vanilla rasakan.


"bilang sama gw siapa yang bully lho kayak gitu" suara berat langit menatap tajam kearah gadis yang terdiam itu hatinya menjadi sakit melihat itu


vanilla menggelengkan kepalanya seolah menyanggah ucapan langit ia tak tahu harus berkata apa dia hanya ketakutan. kepalanya semakin tenggelam menunduk


"gak mungkin langit, ini pasti kemauan dia sendiri langit kamu lihat guntingannya rapih gini emang ada tukang bully yang motongnya kayak ke salon" ujar reni berucap sambil menjauh darinya.


hingga beberapa saat mereka memperhatikan rambut vanilla yang memang terlihat rapih seperti sengaja di pendek kan.vanilla ingin menyanggah tapi apa gunanya dan pula dia hanya akan mendapatkan masalah jika mereka mengetahui yang sebenarnya.

__ADS_1


vanilla hanya bersyukur jadi ia tak perlu repot-repot menjelaskan lagi. namun langit kakaknya itu masih memperhatikan nya vanilla berusaha terlihat biasa saja agar meyakinkan pria yang sepertinya belum sepenuhnya percaya.


"ayah dian laper.." rengek dian pada ayahnya


"dian mau makan apa hm?" sangat lembut tangan terangkat satu mengelus surai hitam dian yang panjang


"dian mau nasi goreng yang di depan itu" ujar dian


"yasudah sebentar ya.."


"vanilla kamu belikan nasi goreng adik kamu dian yang didepan sana sekalian sama cemilan cemilan mereka berdua kayak biasanya" ujar ayahnya sambil memberikan satu lembar uang ke vanilla. dengan senyum tanpa bantahan vanilla mengambil nya lalu segera pergi dari sana


'gak papa van.. kan udah biasa jangan di rasain ya' ujar dalam hati vanilla sambil gadis itu menekan dadanya berusaha acuh dengan rasanya sendiri.


seperti yang di pinta vanilla memesan ke warung nasi goreng seperti biasa sesuai yang diinginkan dian, tidak terlalu pedas. bahkan satu rumah itu vanilla tahu semua selera mereka namun sebaliknya mungkin tak satupun yang tahu seperti apa selera makan gadis itu sendiri. ah, bahkan bertanya ia sudah makan atau belum pun itu hal yang sangat mustahil.


sambil menunggu vanilla suka memperhatikan jalan yang ramai lalu lalang di sana tak jarang vanilla bermain dengan imajinasi nya sendiri berdiri ditengah tengah lalu terbanting oleh kendaraan yang melintas dan setelah nya semua akan mendadak menyayanginya dengan amat sangat.


namun bagaimana jika itu membuat suatu beban bagi orang lain yang menabraknya ia sangat tak ingin menyulitkan orang lain karena ia pun tak yakin akan ada air mata yang jatuh ketika ia telah tiada.


"neng jangan melamun, ini nasi gorengnya sudah jadi" ujar ramah wanita berumur sekitar 40an tahun itu


"oh iya, berapa?" tanya vanilla


"dua puluh ribu aja neng" ujarnya, vanilla memberikan uangnya bertukar dengan satu kantong plastik berisi makanan yang ia pesan.


setelah dirasa semua pesanan sudah iya belikan vanilla masuk kembali ke dalam rumah sakit dengan kedua tangannya penuh membawa kresek berisikan makanan.

__ADS_1


tiba tiba penglihatan nya agak memudar dan dilengkapi rasa pening yang menguasai kepalanya. vanilla berhenti sebentar memejamkan mata sambil mengambil duduk menetralkan rasa pusing itu.


6-7 menit setelah di rasa cukup mampu untuk berdiri tak mau berlama lama vanilla melanjutkan langkahnya ia yakin mereka sudah menunggu dirinya di sana.


__ADS_2