
"anak anak pada curiga sama lawan lho waktu itu, bisa jadi kecelakaan yang lho alami ada campur tangan dia." ujar yudi
langit diam mendengarkan sebelum dikatakan ia memang sudah merasakan keganjalan namun semua sudah terjadi dan takkan ada yang bisa mengubah keadaanya saat ini.
sudah hampir dua jam yudi berada dikamar langit sahabatnya itu berbeda dari biasanya langit terlihat semakin tertutup bahkan pada dirinya.
"yasudah gw balik dulu ntar sore anak anak mau jenguk lho kesini" ujar yudi kini ia sudah siap berdiri
"bilang ke mereka gak usah kesini di. gw lagi pingin sendiri" ujar langit, matanya masih menatap ke luar jendela padahal di sana tidak ada apa apa.
yudi hanya mendengarkan ia berusaha paham, sedangkan ada rasa bersalah yang amat besar dihatinya namun semua sudah terjadi dia hanya berharap sahabatnya itu akan kembali pulih seperti semula.
disisi lain vanilla juga yang baru tiba di kamar itu mendengar obrolan terakhir mereka merasa teriris hatinya melihat keadaan langit yang semakin tidak baik baik saja.
"van gw pulang dulu" ujar yudi ketika berpapasan dengan vanilla yang sepertinya gadis itu membawakan obat obatan dari dokter.
"iya kak di" ujar ramah vanilla.
suara motor yudi perlahan semakin menjauh diluar sana. vanilla kini menghampiri kakaknya itu memberikan obat serta air hangat untuk membantu memasukkan obat ke dalam mulut.
dering ponsel milik langit yang tergeletak di atas kasur itu berbunyi menghilangkan suasana sunyi di keduanya. hingga nada suara panggilan habis langit tak kunjung mengangkat nya atau bahkan melirik ponselnya matanya tetap bertumpu di satu arah yang tak jelas seolah sama sekali tak ada suara yang hinggap di pendengaran.
vanilla duduk dibibir kasur milik langit ia tengah menatap punggung milik kakaknya yang sama sekali tak berubah. mata vanilla menangkap nama mamah tertera di sana itu sudah panggilan ke tiga yang ia denger.
"kak mamah nelpon dari tadi" ujar vanilla ia menyuguhkan ponsel itu pada langit siapa tahu laki laki itu tengah malas bergerak untuk sekedar mengambil ponselnya sendiri.
langit melirik ke tangan yang memberikan ponsel sedang berdering itu. matanya dapat menangkap panggilan masuk dari mamahnya. dengan rasa emosi yang tiba tiba ia menghempas benda pipih itu kencang ke sembarang arah. membuat degup jantung gadis yang berdiri disampingnya itu berdetak kuat seketika.
__ADS_1
"kak langit.." ujar vanilla dengan suara bergetar
"keluar..KELUAR!!" ujar langit terlihat urat dilehernya yang kencang dengan sorot mata penuh amarah
vanilla melangkah mundur gadis itu mulai merasa ketakutan matanya sudah mengandung air yang siap tumpah.
vanilla mulai membalikkan badannya ia sedikit berlari kearah luar pintu dengan tubuh yang mulai bergetar ketakutan
air mata itu sudah turun setelah ia menutup pintu kamar langit vanilla masuk ke kamar miliknya yang bersebelahan dengan langit lalu ia mengunci pintu dari dalam. ia tidak tahu apa kesalahannya vanilla benar benar tidak tahu.
disisi lain langit dengan nafas beratnya kini menatap lamat lamat pintu kamarnya sendiri yang sudah tertutup
__________
20:12
seorang gadis berkulit putih bersih itu mengenakan gaun berwarna nude yang bertaburan permata cantik memberikan kesan mewah. kini ia berjalan mendekat kearah satu meja besar yang dimana semua orang sudah menunggunya.
"demi apa lho mirip princess" ujar adel memuji pada sepupunya itu.
semua mata menatap kagum sambil tersenyum melihat ica terkecuali baskara mungkin yang di sana tampak tak nyaman tak ada yang menarik menurutnya ia hanya sedang menunggu balasan pesan seseorang dari ponselnya.
"bun ini mau acara apaan sih, bukannya ica ulang tahunnya udah lewat. biasanya kalo mau makan bareng juga bisa dirumah aja." ujar baskara protes
"baskara ini hari tunangan kalian." ujar ayah ica yang sepertinya mendengar percakapan didekatnya itu
dua gadis yang baru datang tadi mengambil duduk bersama yang sudah disediakan. alunan musik ringan diputar menari indah untuk menyapa pendengaran.
__ADS_1
"apa!?" sontak kaget dari baskara atas apa yang didengarnya. semua yang hadir tau maksud dan tujuan makan malam itu hanya terkecuali dirinya yang mungkin memang sengaja.
"ya baskara kita bakal tunangan sekarang" sahut ica
"tunangan gimana bun maksud nya kenapa baskara sendiri aja baru tahu! gak baskara gak bisa!" ujar laki laki itu hendak pergi namun dengan mudahnya dua orang bodyguard suruhan ayahnya itu menahan tubuh baskara untuk duduk kembali.
"jangan bikin keributan baskara! kamu nurut atau brontak tapi sebagai gantinya pacar kamu itu akan ayah kasih pelajaran"ujar pria paruh baya itu dengan nada santai namun penuh dengan penekanan
pergerakan baskara mengendur ia melemah jika itu tentang vanilla rasanya tidak adil jika gadis nya itu menanggung akibat karena dirinya.
"dan om bisa dengan mudah ngeluarin dia dari sekolah kalian dengan cara gak terhormat. kamu tau om kan?" ujar ayah ica yang notabenenya selain pebisnis baskara tidak lupa bahwa ia juga seorang mafia kelas atas yang bisa dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkan nya.
ya, tunangan itu sudah direncanakan sesuai permintaan ica membuat seorang baskara tak mampu berkutik dengan keadaan. ia baru menyadari akan membuat keadaan vanilla semakin buruk dengannya namun bagaimana dengan hatinya yang tidak bisa dipaksakan baskara merasa hidupnya hanya sebuah boneka permainan orang lain.
membiarkan vanilla berurusan dengan ayah ica baskara tak mau mengambil resiko membahayakan gadisnya. ia tahu betul pria dewasa itu akan di buta kan apapun caranya akan ia lakukan demi keinginan anak semata wayangnya itu.
"jangan sentuh vanilla sedikitpun!" ujar sarkas baskara, nafasnya naik turun amat ketara menahan gejolak emosi.
sedang disisi lain dua orang pria dewasa itu terlihat santai bahkan sesekali tertawa.
"ya ya kamu teneng aja, sekarang bisa kita mulai kan acaranya"
entah sejak kapan ada di sana, baskara baru menyadari sepasang cincin sudah ada didepannya. sebrusaha apapun baskara memikirkan jalan lain laki laki itu tak menemukan jawaban ia benar-benar tak ada pilihan selain mengikuti kemauan semua orang di sana.
berbeda dengannya gadis yang kini duduk tempat disebelah nya itu tampak senang dan memberi senyum padanya, andai saja gadis itu adalah vanilla pasti ia akan sangat senang sekarang.
ica mengambil satu cincin lalu memakaikannya pada jari manis baskara lalu berikan satu cincin lain untuk meminta dipasangkan oleh baskara ke jari manisnya. semua momen diabadikan langsung oleh adel dengan kameranya.
__ADS_1