
"bas gak lucu gw takut gw mohon gw mau pulang" nada bicara gadis itu sangat ketara ketakutan.
"ck(tertawa), kalo lho cwo udah abis lho,CAPET BILANG SIAPA!!"
"Leo..! gw mau pulang sekarang" ujar kalah ica
_______
setelah baskara benar benar sudah mengantarkan ica kerumahnya kini laki laki itu tengah berada disebuah tempat tongkrongan, tanpa basa basi ia menarik dengan keras kerah baju seseorang yang tadinya tengah menikmati minuman di atas meja.
semua yang ada di sana terperanjat kaget, bagaimana tidak bahkan tak satupun diantara mereka menyadari kehadiran baskara selain karena suara benturan tubuh seseorang yang jatuh kebawah.
"wait wait maksud lho apaan bgs*d" ujar leo sambil berusaha berdiri
"berani bener lho" ujar diantaranya. teman teman leo merasa terganggu dan tak senang atas kehadiran baskara mereka mulai ikut mendekat.
"lho pada ikut campur kita juga ikut campur.." ujar enteng rio sambil menurunkan kaki motornya yang baru tiba dengan yudha dan teman teman lain.
mendengar itu mereka sama sama hanya mengawasi dua orang dari antara mereka membiarkan keduanya berkelahi satu lawan satu.
dengan gerakan cepat baskara kembali menjatuhkan tubuh Leo ke bawah karena satu bogem keras pemberian dari tangannya. tak mau diam saja leo ikut membalas pukulan yang hampir sama keduanya bergulat menjadi tontonan dua kelompok namun wajah khawatir teman teman leo lebih mendominasi.
kekuatan laki laki yanga da di atas tubuh leo itu sangat berbeda, leo mengakui dalam hatinya sendiri baskara kali ini tampak begitu menyeramkan dari biasanya. bahkan dirinya sendiri sampai kewalahan melayani emosional lawannya itu.
yudha dan rio menahan tubuh baskara agar menjauh ketika sekelompok warga sekitar mulai datang mungkin terganggu oleh keributan yang mereka buat.
"sekali lagi lho sakit in vanilla, lho bakal bikin gw jadi pembunuh." ujar baskara begitu dingin sebelum akhirnya ia dan teman-temannya pergi meninggalkan tempat itu.
bahkan ketika hendak meninggalkan tempat itu baskara terus melayangkan tatapan tajamnya pada leo yang tengah susah bayah berdiri di sana.
__ADS_1
________
hari sudah pagi langit sepertinya sama sekali tak terpejam semalaman. matanya masih setia memperhatikan wajah vanilla meski berulang-ulang kali ia berharap mata gadis itu segera terbuka.
sedangkan yudi laki laki itu sudah pamit pulang sejak subuh subuh tadi karena ada urusan ia pergi dari sana. dapat di tangkap pergerakan kecil vanilla oleh mata langit, hatinya terasa senang seketika.
perlahan bulu mata lentik itu terangkat keatas membuka penglihatannya sendiri, rasa kunang kunang di kepala datang membuatnya menutup kembali matanya lagi sesaat untuk menetralkan rasa pusing.
"van kamu kenapa?" ujar langit ia menyentuh lengan vanilla dengan lembut
namun reaksi yang dilihatnya membuat langit melepaskan tangannya vanilla meringkuk seperti ketakutan hingga tak terkendali. membuat selang infus ditangannya terlihat merembet darah akibat terlalu banyak gerakan.
"hei ini gw langit van. dok dokter..." ujar panik langit ia bahkan sampai lupa menekan tombol darurat yang ada di sana.
langit kembali menahan tubuh vanilla agar tenang namun tak membuahkan hasil kemudian dengan susah payah langit sedikit memaksa vanilla untuk masuk kedalam dekapannya meski awalnya gadis itu tetap memberontak.
"ini gw langit kakak lho, lho teneng ya..plis maafin gw ga bisa jagain lho" bisik langit sambil ia berusaha menahan tubuh vanilla dengan dekapannya.
vanilla menangis dengan sangat deras rasa takut dan rasa rasa lainnya bercampur menjadi satu, peluk kan itu begitu sangat ia rindukan dirinya butuhkan dan saat ini ia mendapatkan nya.
bocah laki laki yang dulu selalu menjaga dan memeluk setiap dirinya menangis atau ketakutan itu seperti telah kembali lagi setelah sekian lama hilang dari kehidupan vanilla. langit mengepalkan tangannya sendiri ia marah pada orang yang menyakiti adiknya dan dia juga marah pada dirinya sendiri atas kesalahan yang ia lakukan.
meskipun kenyataannya vanilla bukanlah adik kandungnya namun langit tak memperdulikan itu justru ia begitu takut memikirkan bagaimana jika vanilla mengetahui fakta yang sebenarnya tentang dirinya. Dulu ia selalu menjadikan gadis itu tempat pelampiasan padahal yang terluka bukan hanya dirinya akibat perceraian orang tua mereka.
"sekarang lho ada gw jangan takut ya" ujar langit membelai lembut rambut pendek vanilla.
bukannya berhenti menangis vanilla justru semakin menjadi menangis nya, mendengar kata kata dan perlakuan langit membuat gadis itu menjadi begitu lemah tak mampu menahan air mata yang jatuh.
"kalo ini mimpi vanilla belum mau bangun" ujar vanilla sendiri pada dirinya
__ADS_1
"hei ini bukan mimpi, liat mata gw jangan nangis lagi ya..adek gw biasanya kuat" ujar langit kini mata laki laki itu ikut memerah
tangan langit terangkat mencubit hidung merah vanilla sedikit memberi rasa kenyataan agar gadis itu percaya padanya.
"nyata kan?" tanya langit pada gadis yang diem dengan wajah sedih nya lalu vanilla menganggukkan kepalanya.
"sama nyata kayak ingus lho ini" ujar langit mengelap ingus dari hidung vanilla menggunakan baju gadis itu persis seperti memperlakukan anak kecil.
vanilla memanyunkan bibirnya tambak begitu mengemaskan dimata langit, karena tak tahan langit kembali menarik tubuh vanilla masuk kedalam pelukannya.
"kak langit jangan berubah lagi ya, vanilla senang kak langit gini aja" ujar gadis itu
peluk kan yang hangat dan dirindukan, keduanya menikmatinya melepas rindu dari hubungan yang hampir retak antara kakak dan beradik.
tak lama seorang dokter masuk bersama suster yang mendampinginya untuk pengecekkan keadaan vanilla. terlihat membenarkan keadaan infus ditangan gadis itu.
_________
rasa segar setelah mandi yang cukup menyenangkan bagi seorang wanita paruh baya, kini ia terlihat mulai merebahkan tubuhnya dengan rambut yang masih basah pada sofa mewah terletak cantik di kamarnya itu.
pesan beruntun ia kirim bahkan sebelum ia melakukan ritual mandinya belum juga mendapatkan balasan dari sang suami. membuatnya memutuskan untuk menghubungi saja dengan panggilan telepon.
belum saja dirinya menghubungi sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal mengapa penglihatannya. dahinya mengernyit ragu ragu ia menekan ikon hijau keatas untuk menerima panggilan.
"iyaa dengan saya sendiri" jawabnya ia berikan setelah mendengar pertanyaan dari seberang sana
sebuah perbincangan yang hanya dirinya yang mendengar seketika merubah mimik wajahnya menjadi begitu menegangkan serta nampak terguncang hingga ponsel yang ia genggam terjatuh ke bawah.
"mom.. besok ada perkumpulan orang tua disekolah, kenapa nangis?" ujar adel yang baru datang terputus melihat ibu sambungnya yang tampak berbeda dari biasa
__ADS_1
"d-daddy kamu kecelakaan" ujar berat wanita tersebut sambil menangis