
Ava keluar dari balik pohon cemara itu, ia melihat punggung Kaisar Cristoffer yang mulai menjauh. Ada rasa kasihan di hatinya. Ava berjalan sambil memikirkan semua kejadian hari ini. Tanpa sadar langkah kakinya menuju ke arah taman belakang. Ava mengedarkan pandanganya, tidak ada siapa pun di sana, tempat yang sepi. Lumayan menenangkan pikirannya. Ava duduk di kursi itu, ia menatap lurus kedepan melihat pemandangan bunga tulip warna merah dan kuning. Permaisuri Berlia lah yang membuat taman istana menjadi kebun bunga tulip dan di kelilingi pohon Cemara dan beberapa pohon Oak.
30 menit kemudian.
Ava di kejutkan oleh suara yang sangat asing baginya. Dia menoleh, melihat laki-laki paruh baya dengan jubah putih. Rambutnya memutih dan memakai kaca mata.
"Nona Ava."
Ava berdiri, ia memberikan hormat. Di lihat dari jubahnya, sepertinya dia orang istana.
"Angin yang menyejukkan." Ujarnya merasakan angin yang menghembuskan ke arah mereka.
"Apa nona Ava betah tinggal disini? saya dengar, Ayah nona Ava juga tinggal di istana utama."
__ADS_1
Ava melirik, ia takut laki-laki di depannya menjelek-jelekkan nama Ayahnya dan juga dirinya. "Tidak bukan begitu, saya akan bilang pada Baginda. Saya menolaknya," Balasnya.
Laki-laki paruh baya itu menarik sudut bibirnya, "Bagaimana menurut nona tentang Baginda?"
"Maksudnya," Ava bingung dengan pertanyaan itu.
"Bagaimana Baginda menurut hati nona, ya sikapnya."
Ava masih diam, ia takut salah berbicara. Karna taruhannya sekarang adalah Ayahnya.
Pria paruh baya itu pun terkekeh, "Jangan berbohong nona. Baginda terkenal kekejamnya, dinginnya. Semua orang pun tau, Baginda di kenal muka datar." Ucapnya terkekeh.
Ava menggaruk pipinya, ia membenarkan ucapannya itu.
__ADS_1
"Bisakah nona menerima pinangan dari Baginda."
Ava terkejut, ia menatap lekat pria paruh baya itu.
"Terimalah lamaran Baginda. Saya merasa Baginda mencintai nona. Saya juga merasa Baginda kembali pada masa kecilnya. Sudah sangat lama saya tidak pernah melihatnya senang dan sering tersenyum. Sudah banyak penderitaan yang ia tanggung."
"Di usianya yang masih kecil dia tak pernah melihat wajah Ibunya kecuali lukisan itu. Pada umurnya yang ke 14 tahun, semua bangsawan mendesaknya menjadi Kaisar termuda. Di usianya yang masih muda, Dia di hadapkan oleh pemberontakan, peperangan sampai dia turun langsung. Banyak bangsawan yang meremehkannya dan terang-terangan menghinanya. Darah yang mengalir di pedangnya, cipratan darah yang mengenai wajahnya. Sudah berapa banyak pedangnya memenggal musuhnya."
"Semenjak bertemu dengan nona, aura gelap perlahan keluar dari tubuhnya. Seakan saya merasakan Baginda kembali pada dirinya yang masih kecil."
"Semenjak itu dia terkenal kejam, Baginda memiliki saudara. Dia putra pertama dari Baginda Kaisar terdahulu. Akan tetapi pernikahan kedua orang tuanya hanyalah sebuah pernikahan politik dan suatu hari. Seorang wanita datang ke dalam hidupnya. Membuka hati Baginda Kaisar terdahulu. Wanita itu Ibu dari Baginda Cristoffer. Semenjak itu lah peperangan takhta terjadi. Istri pertama Baginda di hukum mati dan anaknya di usir dari istana. Karna sebuah kesalahan yang mereka lakukan."
"Maaf saya bercerita panjang lebar. Saya rasa dengan mengatakan ini, setidaknya ada rasa kasihan di hati nona dan mau menerima Baginda. Saya tidak bisa menjelaskannya terlalu banyak."
__ADS_1
"Saya mohon pikirkan baik-baik, saya ingin nona menjadi sosok matahari di tengah kegelapannya dan ketakutannya. Saya mohon terimalah lamaran Baginda." Pria paruh baya itu pun menunduk hormat, meninggalkan Ava yang masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya.