
Tak terasa satu tahun telah berlalu. Di sebuah ruangan terlihat seorang laki-laki memandangi lukisan di depannya. Tangannya menyilang di belakang punggungnya. Lukisan dirinya bersama dengan wanita yang pernah menjadi istrinya. Perasaannya tidak mungkin melupakan semua itu. Semenjak kecil mereka telah bersama, bermain bersama.
Masih teringat jelas saat wanita itu melihat ke arahnya dengan air mata yang mengalir dan menghukum keluarganya. Dia tidak bisa memutuskan untuk menghukumnya. Saat melihat Viola menangis kesakitan, hatinya juga merasakan sakit. Andai saja dulu ia menyadari perasaannya yang hanya mengagumi bukan mencintainya. Tentunya wanita di depannya tidak akan terlibat dalam hidupnya.
"Baginda, hamba mencintai Baginda. Maafkan hamba Baginda. Maafkan hamba yang membuat Baginda menangis. Kini hamba mengerti dan menyesal telah menyakiti hati Baginda, hamba menyesal telah menyakiti Permaisuri Ava. Semoga Baginda bahagia dengan Permaisuri Ava." ujarnya menutup matanya. Ia menekankan kata Permaisuri. Karena saat ini posisinya telah di cabut dan akan di gantikan oleh Ava. Semua rakyat melihat hukumannya merasa senang dan puas. Kini tidak ada lagi Permaisuri yang berbuat sewenang-wenang.
"Baginda maafkan putri hamba." teriak pria paruh baya di samping Permaisuri Berlia. Ia tidak kuat melihat kematian putrinya di depan matanya sendiri. Ia menyesal dan menyesal telah membuat putrinya mengambil jalan yang salah.
Kaisar Cristoffer mendesah, ia memberikan kode pada Leon untuk menutupi lukisan itu dengan gorden berwarna merah. Kini tidak ada lagi masa lalu. Cukup di kenang dan di jadikan pelajaran agar melangkah menjadi yang lebih baik.
Dan kini takhta Permaisuri telah di pegang oleh wanita yang menurutnya pantas. Selama Permaisuri baru. Pekerjaan Kaisar Cristoffer tidak menumpuk lagi dan pusing memecahkan masalah. Permaisurinya Ava, bisa memecahkan masalah apa pun. Kadang kala ia kalah taktik dalam segala hal. Ia bersyukur, setidaknya negeri yang ia bina mendapatkan kesejahteraan.
"Sayang," sapa seorang wanita seraya menggendong bayi mungil dan gembul itu.
__ADS_1
Kaisar Cristoffer menoleh, ia meraih bayi mungil laki-laki itu. Mengecup kening dan kedua pipinya. Bayi gembul itu pun tertawa karena geli.
Bola mata itu berpindah ke arah Ava. Melihat senyumannya, hatinya terasa sejuk dan tenang.
"Ada apa?" tanya Ava menaikkan alisnya. Tiba-tiba ia merinding melihat senyuman Kaisar Cristoffer. Otaknya menjalar ke arah mesumnya.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh." Seru Kaisar Cristoffer mencubit hidung Ava.
"Ck, bisa saja Baginda melakukannya. Tubuhku jadi merinding."
"Aku mesum untuk istri ku sendiri. Memangnya ada yang salah." tanya Kaisar Cristoffer menaikkan lalu menurunkan kedua alisnya dengan senyuman menggoda. "Aku ingin memberikan Pangeran Aska seorang adik."
"Dia masih kecil dan sangat membutuhkan kasih sayang kita. Setidaknya biarkan Pangeran Aska berumur 5 tahun." tolak Ava dengan halus.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menuruti permintaan Permaisuri ku." ucapnya seraya memeluk pinggang ramping Ava dan tangan kirinya menggendong Pangeran Aska.
Mereka keluar dari ruangan itu dan Leon mengunci ruangan itu kembali. Tidak ada lagi kepahitan dan hanya ada kebahagiaan. Lengkap sudah kehidupannya. Terlepas dari sebuah kutukan yang mengerikan dan hanya perlu mendapatkan sosok seorang anak Hingga kutukan itu lepas dengan sendirinya. Tepat pada saat Anak itu lahir tubuhnya mengeluarkan sebuah cahaya. Ya, sebuah cahaya cinta untuknya.
"Terimakasih Lisa, Lisa ku, Permaisuri ku."
END
"Hohoy, semoga sehat selalu yang baca dan terimakasih telah membaca karya receh ku. Walaupun kadang kagak semangat, tapi baca komentar kalian akhirnya semangat lagi. Dan maaf novel ini alurnya di percepat😊😊😊"
#jangan lupa baca karya baru ku yaa😁 + beli novel ku ya kak😊"
"Yuk kak, Dukung author dengan beli karyanya. Cinta ama novel author, harus punya donk😊"
__ADS_1