
Ava memakan suapan demi suapan dari tangan Kaisar Cristoffer. Setelah selesai menyuapi Ava hingga nasi itu tidak tersisa sedikit pun di piring tersebut. Kaisar Cristoffer mengambil segelas air di atas nakas itu. Lalu mengelap mulut Ava dengan sapu tangannya.
"Sayang, istirahatlah."
"Baginda tolong selidiki kematian Ayah. Aku merasa ada sesuatu. Saat kita keluar Ayah sangat sehat." tutur Ava, air matanya kembali meluruh.
Melihat Ava yang seperti ini. Ia merutuki kelalaiannya. Tidak seharusnya ia ceroboh dalam hal ini. Banyak orang yang tidak suka pada Ava dan Ayah mertuanya. "Baiklah aku akan menyuruh Leon menyelidikinya." ujar Kaisar Cristoffer.
"Leon," teriak Kaisar Cristoffer. Ia beranjak berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya di belakang punggungnya.
Pria jakung itu pun masuk ke dalam. Kemudian menunduk hormat.
"Selidiki kematian Ayah mertua, jangan sampai ketinggalan jejak sedikit pun." perintahnya.
"Baik Baginda." Balas Leon.
__ADS_1
"Dan selidiki Ayah dari Permaisuri." Sambungnya lagi. Kaisar Cristoffer mengibaskan tangan kanannya, menyuruh Leon pergi.
Kaisar Cristoffer menoleh, ia duduk kembali di kursi itu. Meraih tangan kecil itu. "Sudah jangan menangis lagi. Pikirkan anak kita. Aku akan mengadakan pesta untuk menyambut anak kita."
"Tidak !" sargah Ava. Ini istana bukan kediaman biasa. Ia takut di istana akan banyak yang mencelakai anaknya. "Sebelum kematian Ayah terungkap. Aku tidak ingin melakukan pesta. Aku tidak ingin orang yang membenci juga mencelakainya. Tolong Baginda, rahasiakan ini." ujar Ava dengan memohon.
Kaisar Cristoffer menghapus jejak air mata Ava di sela-sela pipinya, "Baiklah." Kaisar Cristoffer mengecup kening Ava. Kemudian mengecup bibir mungil itu. "Sekarang tidurlah. Aku akan menjaga mu."
Ava bergeser, ia menepuk kasur di sampingnya yang hanya di angguki oleh Kaisar Cristoffer. Ia paham, Ava menyuruhnya untuk tidur di sampingnya. Padahal tadinya ia ingin keluar dan membahas masalah kematian Ayahnya. Hatinya juga merasakan kejanggalan. Perasaannya tidak akan tenang sebelum menerima sebuah kebenaran.
Terlihat seorang wanita yang meneguk wine di tangannya dalam sekali tegukan, wine itu ludes di tangannya. Wanita itu kembali menuangkan sebotol wine itu ke gelasnya dan kembali meneguknya. "Aku puas, aku puas melihat Ava menangis. Ya, dia menangis." Wanita itu tertawa lepas dan kembali menuangkan wine itu.
"Huh, dia pikir siapa? beraninya melawan ku. Aku akan membuatnya menderita." ujarnya, kembali meneguk Wine yang masih tersisa itu.
"Baginda, jangan terlalu banyak minum." Mery kembali mengambil mangambil Wine itu.
__ADS_1
"Aku sekarang berpesta," Permaisuri Berlia bangkit dari duduknya kemudian tertawa lepas.
srek
Dari arah jendela, Permaisuri Berlia melihat seseorang masuk melalui jendelanya. Orang itu pun berjongkok menghadap Permaisuri Berlia yang akan menerima tugasnya.
"Rupanya sudah datang," ujar Permaisuri Berlia tersenyum. Akhirnya rencananya akan berjalan sempurna. Setelah racun itu pindah tangan. Kehidupan Ava akan bertambah menderita. Saat mendengar kabar gembira tentang kematian Ayah Ava. Ia langsung menyuruh Mery memanggilkan salah satu pembunuh bayaran untuk menjalankan semua rencananya itu. Dan besok pagi dia akan membuat rencana selanjutnya. Menyuruh Kaisar Cristoffer memeriksa kematian Ayah Ava kemudian dia akan mengatakan Duke Rostaf seakan cemburu karna Ava lebih menyayangi Ayahnya atau ia bisa mengatakan Duke Rostaf ingin memberontak.
Setelah rencananya tersusun rapi, ia yakin Ava akan semakin rapuh. Dengan begitu, ia akan mudah menyingkirkan Ava.
"Letakkan racun ini di kediaman Duke Rostaf." Permaisuri Berlia mengambil sebotol kecil racun di depannya itu.
"Baik Baginda." ujarnya berlalu pergi melewati jendela tadi.
Permaisuri Berlia menetap kepergian orang itu melalui Jendela. Ia melangkahkan kakinya ke arah jendela. Lalu melihat ke arah Bulan.
__ADS_1
"Dari dulu aku lah yang seharusnya menjadi Bulan yang akan mendampingi Matahari." ujarnya melihat ke arah langit.