
Kaisar Cristoffer turun dari ranjangnya, ia menghampiri Ava yang berjalan ke arahnya.
"Sayang, kamu sudah membuat kehebohan. Jadi kamu harus memberikan imbalan untuk ku."
Kaisar Cristoffer ingin memeluk Ava, namun Ava mencegahnya. "Tidak ada, sebaiknya Baginda mandi dulu." Ava membalikkan badannya. Belum melangkah saja Kaisar Cristoffer memeluknya dari belakang.
"Sayang," rengek Kaisar Cristoffer manja, tangannya mulai memasuki dua buah benda kenyal itu.
"Baginda tidak mau kan, mengakhiri pernikahan kita."
Kaisar langsung mengeluarkan tangannya, Ava menoleh lalu tersenyum dan menatap tajam ke arahnya. Layaknya monster yang mengeluarkan tanduknya, Kaisar Cristoffer menunduk tanpa bersuara.
Ava melangkah kan kakinya, tetapi sampai ambang pintu Kaisar Cristoffer mengerang kesakitan membuatnya menghentikan langkah kakinya dan berlari ke arah Kaisar Cristoffer.
"Baginda ada apa? apanya yang sakit?"
Kaisar Cristoffer memegangi perutnya seraya berteriak kecil sambil memegangi perutnya.
"Aku tidak tau, tiba-tiba perut ku sakit." Ujarnya sambil melirik Ava dan tersenyum.
"Hamba akan memanggilkan Dokter, sebaiknya Baginda istirahat saja."
__ADS_1
"Tidak mau, aku mau kamu." Manja Kaisar Cristoffer.
Tanpa ada rasa curiga apa pun, Ava menuruti permintaan Kaisar Cristoffer. Dia membantu memapah tubuh Kaisar Cristoffer ke ranjangnya.
"Leon." Teriak Ava yang khawatir.
"Hamba nona," ujar Leon.
"Panggilkan Dokter, sepertinya Baginda harus di periksa."
Kaisar Cristoffer melotot tajam ke arah Leon, ia ingin Leon menolaknya dengan halus. Bisa-bisa dirinya ketahuan berbohong.
"Ti-tidak perlu nona, Baginda hanya sakit biasa." Seru Leon merasakan aura hitam yang keluar tubuh Kaisar Cristoffer. Kini ia mengerti Kaisar Cristoffer sengaja berbohong hanya untuk mencegah Ava keluar dari kamarnya.
Dia tak habis pikir dengan junjungannya, baru kali ini junjungannya berbohong pada seorang wanita. Bahkan Permaisuri Berlia pun, ia tak perlu berbohong. Selama ini Kaisar Cristoffer di kenal mencintai Permaisuri Berlia. Namun jika di lihat hari ini. Cinta Kaisar Cristoffer tidak sebesar rasa cintanya pada Ava.
"Dasar bawahan tak becus, apa kamu selama ini kamu diam saja melihat Baginda kesakitan?" bentak Ava.
Hidup ku gak kelar, kenak lagi apinya batin Leon menangis. Apalah daya ku, aku hanyalah bawahan dan dia adalah Kaisar.
"Leon kenapa diam? cepat panggil Dokter."
__ADS_1
"Sayang," Kaisar Cristoffer bergelanyut di lengan Ava. "Aku tidak akan sembuh walaupun di periksa Dokter, kesembuhan ku hanya kamu."
Leon yang mendengarkan perkataan Kaisar Cristoffer, gendang telinganya seakan pecah. Matanya seakan keluar dari tempatnya. Apa yang di lihat hari ini. Bukanlah jati diri Kaisar Cristoffer.
"Be-benar Nona. Kesembuhan Baginda hanya ada pada nona." Ujar Leon mengerti kode kedua dari mata Kaisar Cristoffer.
"Nona, hamba harus pergi." Leon langsung memberikan hormat dan berlalu pergi tanpa mendengarkan jawaban Ava. Dia juga lupa memberikan hormat pada Kaisar Cristoffer karna takut ancamannya.
"Sayang, sakit."
Refleks Ava mengelus perut Kaisar Cristoffer. Dalam hati Kaisar Cristoffer ia menari-nari, rencananya berhasil sangat sempurna. "Sayang aku tidak ingin hanya seperti ini, tapi seperti ini." Kaisar Cristoffer menarik Ava yang masih berdiri lalu jatuh ke sampingnya dan memeluknya.
Kenapa aku merasa masuk ke lubang harimau batin Ava.
Disisi lain.
Seorang wanita mengamuk di dalam kamarnya, suara pecahan vas bunga dan kaca silih berganti dan bertebaran di lantai.
"Aku benci jalang itu, lihat saja nanti aku akan membuatnya menderita." Teriaknya.
"Tenanglah, Permaisuri hamba akan membantu Permaisuri menyingkirkan jalang itu." Ujar pelayan setianya.
__ADS_1
"Akau harus berbicara pada Ayah," Permaisuri Berlia menuju ke ruang kerjanya. Ia mengambil kertas dan kuas itu lalu menulis sesuatu di dalamnya. Apa pun caranya, ia harus mempertahankan posisinya.