
Setelah menghabiskan waktunya dengan Ava. Kaisar Cristoffer menuju ke aula. Dia akan membicarakan masalah pernikahannya dengan Ava.
Ada beberapa bangsawan yang menolak termasuk Ayah dari Permaisuri, ia memberikan beberapa alasan agar Kaisar Cristoffer mengurungkan niatnya.
"Baginda, Ava berasal dari kalangan bawah. Dia tidak akan membantu politik istana ini." Ujar salah satu dari bangsawan.
"Benar Baginda, sebaiknya Baginda mengurungkan niat Baginda." Ujar Duke Arnof, Ayah dari Permaisuri Berlia. Semenjak dia mendapatkan surat dari Putrinya, rasa was-was selalu menghantuinya.
"Bagaimana jika hamba mengadopsi nona Ava?" tanya seorang laki-laki paruh baya.
Semua bangsawan menoleh ke arahnya, termasuk Kaisar Cristoffer.
"Bagaimana Baginda? hamba rasa ini adalah jalan satu-satunya Baginda." Sambungnya lagi. Dia Duke Rostaf yang sudah menemui Ava. Sebelum Kaisar terdahulu meninggal, ia selalu berpesan agar menjaga Baginda Kaisar Cristoffer, putranya yang ia cintai.
Kekejaman dalam perebutan takhta dan politik, terkadang harus mengorbankan orang yang kita cintai. Maka dari itu, dia tidak ingin Kaisar Cristoffer kehilangan cintanya. Apa lagi semenjak kedatangan Ava, dia menemukan Kaisar Cristoffer yang dulu yang selalu ramah dan tersenyum.
Seperti mendapatkan peluang emas, Kaisar Cristoffer mengangguk. "Baiklah aku akan membicarakannya dengan Ava." Kaisar Cristoffer langsung pergi. Meninggalkan semua bangsawan yang saling melemparkan tatapan sengit.
"Jangan lupa, masih ada Permaisuri." Ucap Duke Arnof.
__ADS_1
"Dan jangan lupa hati Baginda menginginkan Nona Ava menajadi Ratunya." Ucap Duke Rostaf meninggalkan ruangan itu di ikuti bangsawan lainnya yang mendukungnya. Sekian lama dia menunggu seorang gadis yang akan mengubah sifat buruk Kaisar Cristoffer dan beruntung Ava datang ke kehidupan Kaisar Cristoffer, ia bersyukur setidak di usianya yang sudah tak lagi muda istri dan anaknya, serta Kaisar terdahulu dan permaisuri tersenyum dari atas langit dan mendukungnya.
"Hah, aku merindukannya." Ucapnya melanjutkan langkah kakinya menuju tempat peristirahatan.
Disisi lain.
Kaisar Cristoffer melihat Ava yang sedang bersantai dengan Ayahnya. Di temani secangkir teh dan biskuit di depannya. Sesekali Ava melemparkan senyumannya, sepertinya mereka membahas sesuatu yang membuat Ava tertawa lepas.
"Baginda." Ujar tuan Archid menunduk hormat.
Ava berdiri ia memberikan hormat.
"Duke Ronaf akan mengadopsi mu."
Ava mengkerutkan dahinya, ia tidak paham apa yang di maksud oleh Kaisar Cristoffer.
"Begini demi menjaga politik dan juga pendukung mu. Kekuatan Duke Ronaf tak kalah kuatnya dengan Duke Arnof."
"Maksud Baginda, hamba harus meninggalkan Ayah?"
__ADS_1
"Bu-bukan begitu Ava, aku hanya."
"Aku tidak mau." Balas Ava dengan singkat.
"Benar Ava kamu butuh pendukung yang kuat." Timpal tuan Archid, ia mengerti setiap orang yang akan menjadi istri seorang Kaisar bukanlah bangsawan biasa. "Walaupun kamu di adopsi, bukan berarti kamu akan meninggalkan Ayah, Nak."
Ava terdiam,ia memiliki keputusan yang berat. Dia tidak ingin menyakiti Ayah satu-satunya.
"Jika kamu tidak mau, aku akan mencari cara yang lain." Kaisar Cristoffer mengerti kegelisahan Ava. Dia juga tak ingin Ava bersedih. Sudah cukup masa lalunya yang membuat Ava beberapa kali menolaknya. Apa lagi sekarang dia harus meluluhkan hati Ava. Dan lagi, Ava belum pernah mengatakan jika dirinya mencintainya.
"Jangan memperburuk keadaan Ava."
"Baiklah aku akan menerima persyaratannya, tapi aku tidak ingin meninggalkan Ayah ku."
"Dan kamu juga mempunyai kewajiban Ava, sayangilah Duke Ronaf seperti kamu menyayangi Ayah. Dia sekarang tidak memiliki siapa pun, istrinya dan anaknya telah pergi."
Ava mengangguk, membenarkan perkataan Ayahnya. Seharusnya dia juga berterimakasih. Duke Ronaf mau membantunya.
"Baiklah, aku harus mengurus berkasnya." Kaisar Cristoffer berlalu pergi, dapat beberapa langkah ia kembali menarik lengan Ava untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
Tuan Archid dan Auntum yang melihatnya terkekeh, sekaligus bahagia. Beruntungnya Ava yang di cintai Kaisar Cristoffer.