Simpanan Kontrak Kaisar Kejam

Simpanan Kontrak Kaisar Kejam
Perasaan takut


__ADS_3

Setelah pertemuan singkat itu, Ava menuju ke ruang kerja Kaisar. Sesampainya di sana ternyata Kaisar Cristoffer tidak ada di dalam. Ia langsung bergegas menuju ke kamar Kaisar Cristoffer.


Ava menghentikan langkah kakinya, dari jarak jauh itu. Ia melihat Leon yang berada di depan pintu. "Leon." Sapa Ava. "Apa Baginda ada di dalam?"


Leon sedikit ragu, "Baginda ada di dalam, tapi tidak ingin di ganggu nona." Ujar Leon mengingat wajah Kaisar Cristoffer yang menyeramkan.


"Aku ingin bertemu dengan Baginda."


"Tapi Nona."


Ava mengabaikan Leon, ia tau Leon akan mencari alasan untuk melarangnya. Ava membuka pintu itu dan masuk. Ia melihat kamar luas itu dan mendapati Kaisar Cristoffer yang memandang ke arah luar jendela.


"Baginda."


Kaisar Cristoffer menoleh, ia sudah tau Ava akan kemari. Mencium aroma wangi tubuhnya saja. Jika orang lain sudah pasti dia menebas kepalanya.


"Ada apa Baginda? apa Baginda tidak enak badan?" tanya Ava seraya memeriksa dahi Kaisar Cristoffer.


"Aku tidak apa-apa," lirihnya.

__ADS_1


Ava menarik lengan Kaisar Cristoffer, lalu membantunya duduk di susul Ava. "Apa Baginda ada masalah?" tanya Ava.


Kaisar Cristoffer tersenyum, ia tersentuh hangatnya perhatian Ava. Ia berharap selamanya seperti ini, tapi ia takut Ava akan pergi setelah mengetahui rahasianya. Ia takut Ava menghancurkan hatinya.


"Baginda,"


"Em, iya. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan Ava." Kaisar Cristoffer meraih kedua tangan Ava dan menggenggamnya dengan erat-erat. Bibirnya terkunci, tenggorokannya kering, ia tidak bisa mengatakan isi pikirannya.


"Aku," Kaisar Cristoffer menggigit bibir bawahnya. "Aku ingin kita membatalkan pernikahan ini." Ucap Kaisar Cristoffer singkat, ia memejamkan matanya. Dia yakin Ava justru senang dengan keputusannya.


Sedangkan Ava, hatinya sedikit nyilu. Ia tidak tau apa yang terjadi pada hatinya. Ava membuang perasaan tak enak itu, ia meraih pipi Kaisar Cristoffer yang masih memejamkan matanya. "Kenapa? apa Baginda berubah pikiran? apa Baginda tidak menginginkan diri ku lagi?"


Pertanyaan itu membuat Kaisar Cristoffer menggeleng, ia tidak bisa menceritakan semuanya. "Aku, aku."


"Aku, aku tidak bisa Ava." Kaisar Cristoffer memalingkan wajahnya, ia tidak bisa memperlihatkan wajahnya.


Ava kembali meraih dua pipi itu, menatap netra hitamnya. "Katakan sejujurnya Baginda,"


"Sudah aku bilang aku tidak bisa Ava," bentaknya dengan gugup dan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Hamba akan memberikan waktu untuk Baginda mengatakannya." Ucap Ava berlalu pergi.


Pintu itu pun tertutup kembali, Kaisar Cristoffer menjatuhkan dirinya ke lantai. Kali ini dirinya tak bisa menahan tangisannya.


"Ava." lirihnya seraya terduduk lemas di lantai putih itu.


Sedangkan Ava masih diam diri di depan pintu itu, ia tidak benar-benar pagi. Entah karna dorongan Ava, langkah kakinya terasa berat meninggalkan Kaisar Cristoffer.


Ava membuka kembali pintu itu dan berlari ke arah Kaisar Cristoffer yang menunduk di lantai.


"Baginda," Ava memeluk Kaisar Cristoffer begitu erat, ia mengelus punggung kokoh itu.


"Kenapa harus berbohong Baginda?"


Ava melepaskan pelukannya, ternyata di balik kekejamannya. Tersimpan sejuta kesedihan yang di alaminya.


Ava menghapus jejak air matanya dan kembali memeluknya.


"Hamba tidak akan memaksa Baginda untuk jujur, tapi jangan pernah membohongi hamba dengan berpura-pura kuat."Ava membantu Kaisar Cristoffer berdiri menuju ke ranjangnya.

__ADS_1


"Ava aku takut, aku takut kehilangan mu. Tolong jangan seperti ini Ava, perlakuan mu hari ini justru.."


"Kita akan tetap menikah Baginda. Hamba akan menunggu kejujuran Baginda." Ujara Ava tersenyum.


__ADS_2