Simpanan Kontrak Kaisar Kejam

Simpanan Kontrak Kaisar Kejam
part 40


__ADS_3

"Selamat datang cucuku."


Kedua alis Kaisar Cristoffer menyatu, ia tidak pernah melihat pria paruh baya di depannya. Tapi wajahnya sama dengan mendiang Ibunya.


Pria paruh baya itu turun dari tangga singgasanahnya, ia menatap Kaisar Cristoffer lalu melihat ke arah kanannya. Seorang wanita yang sangat cantik. Namun ia merasakan jika wanita di depannya bukanlah tubuhnya. Melainkan jiwa asing yang menetap. "Apa dia istrimu?" tanya pria paruh baya itu saat melihat Kaisar Cristoffer memeluk pinggangnya.


Pria paruh baya itu beralih ke arah ketiga orang itu. "Pergilah."


"Ah, cucu ku." Laki-laki itu pun memeluk dan menepuk bahu Kaisar Cristoffer. "Kamu sangat mirip dengan Ibu mu."


"Jadi kamu Kakek ku?" tanya laki-laki itu memecahkan kebingungannya.


"Benar, kamu adalah cucu ku. Dulu kamu hanya sekecil biji jagung dan sekarang. Kamu gagah seperti Ayah mu." ujarnya seraya meneteskan air matanya. Hatinya begitu sakit saat mengingat perlakuannya dulu. Tidak menerima menantunya itu. Sampai ia menyadari kesalahannya dan itu pun hanya sekali mereka bertemu.


"Hah," laki-laki itu mendesah.


"Sebaiknya kalian istirahat. Pelayan akan menyiapkan kamar untuk kalian. Kita lanjutkan nanti setelah makan malam." ujar pria paruh baya itu berlalu pergi.

__ADS_1


Antara sadar atau tidak, Kaisar Cristoffer masih diam membeku. Ia tidak menyangka orang di depannya tadi adalah kakeknya.


"Baginda," sapa Ava membuyarkan lamunannya.


"Sebaiknya kita istirahat, kita akan membicarakan nanti." Ava melihat ke arah lima pelayan yang berdiri.


"Mari Permaisuri." ujar pelayan itu yang sudah tau, siapa wanita di depannya dan laki-laki di depannya.


Baru beberapa saja sudah di panggil Permaisuri, emm tidak buruk.


Sesampainya di kamar mereka. Para pelayan itu saling melirik. "Permaisuri airnya sudah siap."


"Pergilah, kalian siapkan saja pakaian ku dan aku akan mandi dengan Permaisuri ku." ujar Kaisar Cristoffer membuat wajah kedua pelayan itu merah bak kepiting rebus.


"Ba-baik Baginda."


Ava langsung mencubit lengan Kaisar Cristoffer, "Apa Baginda tidak malu melihat mereka dengan tatapan begitu, hah?"

__ADS_1


"Kenapa aku harus malu, kamu istri ku." Kaisar Cristoffer mengedipkan matanya, lalu menggendong tubuh Ava ala bride style menuju ke kamar mandi di sebelah kamarnya.


"Aku merindukan mu," Kaisar Cristoffer menaruh tubuh Ava di bathub yang berisi aroma air mawar dan busa. Tangannya menjalar dari ke atas hingga berhenti di are sensitifnya.


"Berhenti Baginda, ini bukan istana. Kita harus secepatnya makan malam. Tidak baik kesannya membuat mereka menunggu,"


"Tapi..." Kaisar Cristoffer tampak gusar.


"Nanti kita akan meneruskannya." ujar Ava membuat Kaisar Cristoffer mendengus kesal. Lagi-lagi dirinya harus menahan hasratnya.


Sementara di sisi lain.


Permaisuri Berlia telah menerima racun itu, ia tersenyum lalu menatap tajam ke arah pria paruh baya di depannya. "Ingat ! jangan mengatakan apa pun, jika tidak nyawa mu lah yang akan melayang."


"Ampun Permaisuri, hamba tidak berani." Pria paruh baya itu langsung bersujud ke bawah.


"Baguslah, kamu sadar diri." Permaisuri Berlia meninggalkan pria paruh baya itu yang menggigil ketakutan. Ia delima harus menuruti perintah siapa. Melapor pun percuma, Kaisar Cristoffer tidak ada di istana.

__ADS_1


"Jalankan besok rencana kita, berikan dia racun ini. Aku ingin melihat orang yang Ava cintai tiba-tiba menghembuskan nafasnya." Permaisuri Berlia tertawa lepas, ia sudah membayangkan Ava akan menangisi sang Ayah yang sudah tidak ada lagi di dunia ini. "Ava, Ava burung gagak akan selamanya menjadi burung gagak. Nikmatilah kebersamaan mu dengan Baginda. Dan lihatlah nanti kejutan yang akan aku berikan." ujarnya tersenyum sinis ke arah botol yang berada di tangannya itu. Lalu mencium botol itu seakan botol itu benda emas yang ia temukan.


__ADS_2