Simpanan Kontrak Kaisar Kejam

Simpanan Kontrak Kaisar Kejam
Kesedihan dan kebahagiaan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Ava dan Kaisar Cristoffer telah banyak menghabiskan waktu dengan Raja Petro. Banyak sekali yang Raja Petro ceritakan tentang masa kecil ibu dari Kaisar Cristoffer. Seminggu itu pula tidak ada rasa canggung lagi. Bahkan mereka sering tertawa bersama dan saling bercanda. Kini sedang menikmati matahari terbit di sebuah bukit dengan hamparan danau di depannya dan duduk di bawah pohon yang rindang.


Leon membungkuk hormat, hatinya merasa iba melihat ke arah Ava. Tadi pagi dia di suruh ke istana mengecek perkembangan istana. Namun yang ia dapatkan justru lebih buruk.


"Bagaimana Leon?" tanya Kaisar Cristoffer sambil mengkerutkan dahinya melihat wajah cemas Leon.


"Istana dalam kondisi baik Baginda, tapi kesehatan Tuan.."


"Ada apa dengan Ayah ku?" tanya Ava dengan cemas.


"Kesehatannya menurun Baginda." ujar Leon dengan terbata-bata.


"Aku mau pulang. Baginda aku mau pulang." Ava menggoyangkan lengan Kaisar Cristoffer. Kemarin malam ia mimpi tidak enak. Ia berharap semoga tidak terjadi sesuatu pada Ayahnya.


"Kakek maaf kami harus kembali." ujar Kaisar Cristoffer. Membungkuk hormat di ikuti Ava yang sudah menangis.


Tak butuh waktu lama mereka sudah tiba di istana. Ava turun dari keretanya dan langsung berlari ke kamar sang Ayah.


"Ayah."

__ADS_1


"Ayah."


Ava menggenggam tangan pria paruh baya itu sambil menangis. Sesekali ia mencium tangannya. "Ava," lirihnya membuka matanya. Ia tersenyum lembut di bibir pucatnya itu. "Ayah bersyukur masih bisa melihat mu." Tangan kirinya ia gerakkan mengelus kepala Ava. "Jadilah istri yang baik, Nak. Maaf Ayah tidak bisa menjadi Ayah yang baik untuk mu, membahagiakan mu."


Ava menggelengkan kepalanya, "Tidak ! Ayah adalah Ayah yang terbaik."


Matanya yang mulai berair beralih ke arah Kaisar Cristoffer. "Baginda, terimakasih sudah menjaga Putri ku. Hamba titip Putri hamba. Semenjak kecil dia sudah mengalami penderitaan. Hamba mohon jagalah dirinya."


"Ayah." Ava mengeratkan genggamannya. "Maafkan Ava Ayah, membuat Ayah sampai seperti ini."


"Tidak Nak, jadilah istri yang baik." ujar pria paruh baya itu. Perlahan mata itu tertutup dan tangannya yang di genggam Ava telah lemas.


Kaisar Cristoffer memejamkan matanya. Ia melirik ke arah Leon untuk mempersiapkan makamnya.


Kaisar Cristoffer memegang tubuh rapuh Ava. "Sayang, relakan Ayah. Dia sudah bahagia di sana."


"Tidak ! ini mimpi. Ayah tidak mungkin. Ayah bangunlah." Ava menenggelamkan di dada sang Ayah yang sudah tak berdetak. "Jangan tinggalkan Ava. Ayah sudah berjanji akan melihat dan menggendong cucu Ayah." ujar Ava mengingat permintaan pria paruh baya itu.


"Ayah."

__ADS_1


"Sayang." Kaisar Cristoffer menarik lengan Ava ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Ava menumpahkan rasa sedihnya di dadanya. Ia juga merasa sedih melihat Ayah mertuanya tak lagi bernyawa.


"Aku berjanji akan menjaganya. Aku berjanji akan membahagiakannya." Lirih Kaisar Cristoffer sambil mengeluarkan air matanya.


"Ayah." Tubuh Ava lemas matanya tertutup. Rasa sesak di hatinya tak mampu membuatnya bertahan.


"Sayang." Kaisar Cristoffer merangkup kedua pipinya. "Panggilkan Dokter istana." ujar Kaisar Cristoffer langsung menggendong tubuh Ava. Ia berlari ke kamarnya lalu membaringkan Ava dengan hati-hati. "Sayang, bangunlah." Kaisar Cristoffer menepuk pelan pipi Ava. Bertambah pula kesedihannya. Ia takut terjadi sesuatu pada Ava.


"Baginda hamba akan..."


"Cepat periksa," Bentak Kaisar Cristoffer memotong ucapan Dokter istana yang berada di belakangnya. Dengan teliti Dokter istana memeriksa denyut nadi Ava dan juga detak jantungnya.


Kaisar Cristoffer mondar mandir, ia mengusap wajahnya yang tampak gusar. Sesekali ia melirik ke arah Ava. "Bagaimana keadaannya?" tanya Kaisar Cristoffer.


"Sebaiknya Ratu tidak boleh banyak pikiran Baginda. Dan selamat, Ratu telah hamil Baginda."


Anatar senang dan sedih, Kaisar Cristoffer memegangi dadanya. Sudah lama ia menanti seorang anak. Merasakan kebahagiaan seperti yang lainnya. Akhirnya, akhirnya kebahagiaan itu tiba padanya.


"Ava," Kaisar Cristoffer menyatukan dahinya ke dahi Ava. "Terimakasih sayang." lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2